Lelaki tua itu memperkenal dirinya Wahjoe Soehardono. Usianya sekitar 70an tahun. Masih sangat sehat. Wajahnya berwibawa, kulit putih bersih dengan rambut peraknya tercukur rapi. Memakai sweater hitam dengan baju merah yang membungkus tubuhnya yang kurus. Sorot matanya tajam dibalik kacamata tebal berbingkai hitam.

Pertemuan itu terjadi sekitar tahun 2.000an. Saat itu, aku menghadiri konferensi di Praha yang membahas tema perang saudara, genocida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Begitu tahu dari Indonesia, dia menghampiri. Tanganku dijabat erat saat mengenalkan dirinya.

Matanya berbinar dan bicara dengan penuh semangat. ”Nak Krisna, tidak banyak kesempatan bertemu dengan anak muda Indonesia yang peduli pada isu kemanusiaan. Jika ada waktu ngobrol, ada banyak hal yang ingin saya ceritakan.” ujarnya.

“Dengan senang hati Om, saya juga sudah tidak ada agenda,” jawabku. Aku putuskan menerima tawaran tersebut sekalian makan siang di Old Town Square. Selain acara konferensi sudah selesai, aku juga ingin mengenal Praha dari perspektif orang yang sudah lama hidup di kota itu.

Dari lokasi konferensi ke Old Town Square, kami naik trem sembari menikmati pemandangan di kanan-kiri jalan. Kota ini sangat menarik. Praha dijuluki kota seribu menara. Kulihat banyak bangunan bergaya gothic dan baroque.

Arsitektur Gothic memiliki karakter yang khas, yaitu lengkungan runcing atau “pointed arch” di interior bangunan. Disisi eksterior, bentuk atapnya melengkung. Biasanya dilengkapi menara dengan ujung meruncing. Ornamen patung menghiasai “fasad” bangunan. Jendelanya bergaya “rose windows”. Sesuai namanya, bentuknya seperti bunga mawar.

Sedangkan gaya Baroque memiliki karakter kuat terlihat pada pilar-pilar bangunan besar dan kokoh. Bentuk dindingnya cekung dan cembung serta atap berbentuk kubah. Tata cahaya yang dihasilkan dari arsitektur ini sangat indah.

Bangunan-bangunan kuno itu sangat terawat. Menambah cantik wajah kota. Tidak terlihat banyak billboard iklan, atau baliho genit para politisi yang menyiksa mata

Dari tempat pemberhetian trem, kami berjalan kaki beberapa meter ke area Old Town Square. Sebuah café yang tidak terlalu ramai menjadi pilihan. Aku memesan “chlebicek”, semacam sandwich dan secangkir kopi. Sementara Om Wahjoe hanya ingin telor setengah matang dan secangkir kopi.

Seakan ingin menjawab pertanyaanku, dia mengawali cerita dengan kilas balik masa lalunya. Terlahir dari keluarga berpendidikan. Ayahnya tokoh partai politik beraliran sosialis. Saat mahasiswa, ia aktif di sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus. Selepas kuliah, kemudian menjadi dosen di salah satu kampus swasta ternama di Jakarta. Om Wahjoe juga aktif menulis dan bergiat di salah satu organisasi kebudayaan. Keaktifan, jejaring dan dan kiprahnya di dunia pendidikan, menghantarkannya memperoleh beasiswa ke Moskow, Rusia pada tahun 1964.

Saat itu, kehidupan, karir dan masa depannya terlihat bagus. “Namun, itu bagai ilusi sesaat. G30S/1965 kemudian memporak-porandakan semuanya,” ujarnya lirih. Kulihat sorot matanya kosong, menatap jauh.

“Om gak bisa pulang ke Indonesia?” tanyaku. “Ya, waktu itu bimbang, antara pulang dengan segala resikonya atau bertahan di negeri orang dengan konsekuesi yang tak kalah pahit. Waktu itu dapat kabar dari Indonesia. Terjadi pembersihan terhadap orang-orang komunis, dituduh komunis dan menyasar juga para pendukung Bung Karno yang dianggap kekiri-kirian.” Ungkapnya.

Sebagian orang Indonesia yang sedang bersekolah atau ditugaskan di luar negeri, khususnya di negara-negara komunis, akhirnya ditangkap saat kembali ke tanah air. Dengan nada getir, Om Wahjoe bercerita tentang keluarganya yang berantakan. Ayahnya beserta anggota keluarga yang lain hilang tak tentu rimbanya. Istri yang baru dinikahinya tidak ada kabar.

Ia pun menjadi “stateless” saat passportnya dicabut. Beasiswa juga dihentikan. Kerja serabutan dilakukan untuk menyambung hidup. Kehidupannya jatuh ke titik nadir. Sempat berpindah-pindah ke beberapa negara, akhirnya Cekoslovakia menjadi tempat berlabuh. Bahkan kemudian mendapatkan kewarganegaraan.

“Om anggota PKI?” tanyaku. “Bukan, tapi Om ini pengagum Bung Karno. Boleh dibilang Soekarnois. Namun hal itu tak diindahkan oleh Orba.” Jelasnya. Pada awal kekuasaannya, rejim Orba mengonsolidasikan kekuasaanya secara sistematis. PKI menjadi target utama pembersihan. Pulau Buru menjadi tempat buangan para tahanan politik dan narapidana (tapol/napol) PKI. Partai-partai yang lain pun dipaksa melebur hingga tersisa dua partai politik dan golongan karya.

***

“Hi dad, lain kali bilang dong kalau ada agenda lain, I have been looking for you kemana-mana,” tiba-tiba muncul gadis muda dengan suara lantangnya, memecah keheningan. Usianya mungkin sekitar 17an. Parasnya cantik, berkulit putih bersih dengan rambut panjang dikuncir belakang. Kosa katanya sangat terbatas. Namun Ia berusaha keras bicara dalam Bahasa Indonesia.

Tatiana Hedviga Soehardono, namanya. Anak satu-satunya Om Wahjoe yang kemudian menikah dengan perempuan setempat. Gadis itulah menjadi penyemangat hidupnya. Apalagi setelah istrinya meninggal selepas melahirkan. Kehadiran gadis itu pula yang meluluhkan kebencian, amarah dan rasa luka lainnya pada rejim Orba.

“Tatiana, ayo ajak tamu kita ini keliling kota,” kata Om Wahjoe sembari bangkit tempat duduknya. Sore itu cuaca cerah. Saat itu “summer”. Udara cukup bersahabat. Siang berjalan lebih lama. Matahari baru tenggelam jam 9 malam.

“Coba lihat Krisna, Praha sudah berubah jauh dari masa komunisme. Tak banyak yang dapat dilihat dari sisa-sisa rejim komunis. Kehidupan kota, tidak ada bedanya dengan kota-kota di Eropa Barat.” Jelasnya. Kulihat beragam mobil mewah berlalu lalang. Pusat belanja dengan gerai barang mewah juga banyak. Restoran-restoran mahal juga mudah ditemukan, termasuk casino dan hiburan malam. Semua itu tidak akan ditemukan pada era komunisme.

“Tapi perubahan selalu bermuka dua. Disatu sisi ada kemajuan yang membawa kenyamanan, namun ada juga yang tidak beruntung,” kata Tatiana sambil menunjuk para pengemis dan pengamen. Mereka mudah ditemukan di hamper sudut kota dan lokasi wisata. Aku mengangguk, mengiyakan ucapan gadis yang beranjak dewasa tersebut.

Tatiana dan Om Wahjoe membawaku ke tempat-tempat cantik seperti; Charles Bridge, Wallenstein Palace dan Prague Castle. Hari beranjak sore. Namun Om Wahjoe masih ingin mengajakku ke satu tempat lagi. “Kau mesti lihat tempat satu ini,”katanya.

Ternyata tempat yang dituju adalah Museum Komunisme. Museum ini sangat kecil. Hanya terdiri dari 5 ruangan dengan luas masing-masing sekitar 3x4m². Menempati bangunan peninggalan abad 18. Terhimpit diantara restoran cepat saji Amerika dan sebuah casino.

Aku tidak memperoleh banyak informasi di musem itu. Kulihat beberapa contoh pamflet dan poster propaganda rejim komunis. Patung Karl Marx dan Vladimir Lenin terletak disatu sudut ruangan dalam posisi berdiri, diapit Bendera Uni Soviet. Ada juga contoh ruang interogasi, ruang sekolah dan model alat produksi pertanian saat rejim komunis berkuasa di Cekoslovakia. Foto-foto peristiwa perubahan sosial politik tertempel di dinding. Di sudut ruang yang lain, terdapat satu TV tua memutar film dokumenter Revolusi Beludru. Sungguh memprihatinkan untuk sebuah museum bagi satu ideologi yang pernah mengguncangkan dunia.

“Di Indonesia ada museum seperti ini, Krisna?” tanya Tatiana. Mendengar pertanyaan itu, aku jadi teringat Museum Pancasila Sakti. Lebih dikenal dengan nama Museum Lubang Buaya. Kondisinya jauh berbeda. Museum Lubang Buaya dibangung dengan megah di area seluas 14,6Ha. Meski sama-sama bertema komunisme, namun impresi awal saat masuk ke kedua museum itu berbeda. Tidak ada kesan seram saat masuk ke Museum Komunisme sebagaimana yang kudapat saat mengunjungi Lubang Buaya.

“Mungkin kita harus belajar dari rakyat Ceko,” kata Om Wahjoe. Ia menuturkan beragam pergolakan membuat rakyatnya dewasa dalam merespon perubahan. Masa pahit pendudukan Nazi-Jerman, dibawah kekuasaan rejim komunis, hingga invasi militer Uni Soviet. Meletusnya “Revolusi Beludru” 1989. Bahkan pemisahan Ceko dan Slovakia menjadi dua negara berdaulat pun terjadi secara damai melalui peristiwa “Dissolution” 1991. “Mereka tidak menjadikan peristiwa kelam sebagai alat diskriminasi. Fase kelam masa lalu tidak diungkit-ungkit, untuk kepentingan politik sesaat. Semua fokus menatap masa depan,” jelas Om Wahjoe.

***

“Krisna, tahun depan Tatiana ingin ke Indonesia, mengunjungi tempat ayahnya dilahirkan,” kata Om Wahjoe. Tatiana pun menimpali, “Iya, Krisna. Maukah kamu menemani selama di Indonesia?” tanya Tatiana dengan kemanjaannya. Kulihat wajah mereka berdua, “Iya Om Wahjoe dan Tatiana, pasti saya temani selama di sana.” Jawabku.

Aku pun berpamitan dan kembali ke hotel. Memori pertemuan tadi sangat membekas. Menunggu satu tahun akan terasa sangat lama.

Praha, Musim Panas, di sekitar tahun 2000-an.

* Ichwan Arifin. Alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro. Disela-sela kesibukan bekerja di satu perusahaan migas, masih intens menulis. Beragam tulisan fiksi dan nonfiksi telah dimuat di berbagai media massa.