Terminal itu terletak di pinggir kota. Meskipun bernama terminal, sebenarnya lebih pantas disebut sebagai bangunan tua yang telah kosong. Ia hanya menyisakan satu dua kios yang masih bertahan buka di beberapa sudut. Sudah lima tahun terakhir tak ada bis kota dan angkot yang menyinggahinya. Keberadaan angkutan publik yang sempat marak di tahun delapan puluh sampai sembilan puluhan itu sekarang memang seperti hidup segan mati tak mau, sejak angkutan online bermunculan. Kalaupun ada angkot yang melewati trayek terminal tua itu, mereka hanya berhenti di depan gerbang, menurunkan penumpang, lalu pergi. Tak ada orang yang sudi singgah di sana, kecuali untuk berteduh jika sedang terjebak hujan. Seperti yang aku alami sore ini.

Hujan turun cukup deras. Dari bawah atap emperan terminal, aku menatap langit yang sedang mengguyurkan air jutaan kubik. Langit tampak masih kelabu. Artinya aku akan tersandra lebih lama oleh hujan di terminal kosong ini. Meskipun ada lima orang yang sama-sama berteduh, aku merasa sendirian di sini. Barangkali hal yang sama juga dirasakan oleh mereka. Tenggelam dalam keegoan perasaan masing-masing. Tak ada yang mengeluarkan suara, sebab memang tak ada yang perlu kami obrolkan. Tak ada pula satu pun di antara kami yang menyalakan rokok. Dan memang sangat tidak sopan jika di sebuah tempat yang sempit seperti ini ada yang menghisap lintingan daun tembakau.

Sedikit menyesal. Seandainya tadi aku menuruti saran teman-teman agar menunda kepulangan, tentu saja aku tidak kehujanan dan tersandra seperti ini. Seharusnya aku masih asyik bergabung dalam tongkrongan sekawanan buruh pabrik di warung kopi depan pabrik roti, menyesap kopi murahan dan menghisap rokok eceran.

“Santai dulu, jangan buru-buru pulang,” ucap Purwo mengingatkan aku tadi. “Lihatlah, langit mau runtuh,” imbuhnya sambil menunjuk ke atas.

Tersebab ingin buru-buru sampai di rumah lebih awal, aku memutuskan berpamitan pulang. Meninggalkan beberapa teman kerja yang masih betah di warung kopi.

Jauh panggang dari api. Alih-alih bisa sampai di rumah lebih cepat, yang ada justru aku terjebak hujan yang turun semakin deras. Emperan terminal yang tidak seberapa luas membuat tubuhku basah kuyup.

Tiga puluh menit berselang, kupakai kembali jaket kumal yang sempat beralih fungsi menjadi payung dadakan. Hujan mulai reda. Satu per satu orang-orang meninggalkan emperan terminal kosong itu. Kebanyakan dari mereka menuju gerbang, tempat mangkal angkot setelah terminal itu mati suri beberapa tahun belakangan.

Akan tetapi, aku justru mengambil arah berbeda dengan mereka. Melewati lorong selebar satu setengah meter di pinggir terminal. Sepi. Tak ada satu pun kios di sepanjang bangunan itu yang buka. Hanya menyisakan bau pesing bekas air kencing. Selain hari mulai petang, lapak-lapak di sana memang sudah gulung tikar. Hasil jualan yang tidak menentu, ditambah upeti yang harus diberikan kepada para pencoleng penghuni terminal yang menjadi penyebabnya.

Berharap cepat sampai ke toilet umum, aku menambah kecepatan langkah. Menyusuri kelokan-kelokan lorong terminal. Aku lihat ada beberapa bola lampu berdaya 5 watt mulai menyala, sedikit mengurangi keremangan bangunan.

“Mas, punya uang?”

Aku menoleh.

“Ada uang, Mas?”

Aku mendekat ke sumber suara. Samar-samar tampak seorang bocah lelaki, berusia sekitar tujuh tahun duduk di sudut sebuah lapak yang jebol dindingnya. Bocah itu memakai kaos kumal berwarna hitam. Kuperhatikan lututnya yang penuh dengan koreng. Dengan kondisi wajah dan pakaian yang kotor, lalu meringkuk di kios rusak yang lokasinya terpencil di sudut terminal, tentu membuat keberadaannya sulit terlihat. Aroma tidak sedap yang keluar dari tubuhnya, sempat membuat hidungku terganggu.

Siapa bocah ini? Kenapa dia berada di tempat kusam ini?

Aku memandangya cukup lama. Kuperhatikan wajahnya lebih dekat. Bocah ini memiliki tatapan mata yang menyiratkan kemuraman.

“Mas, minta uangnya.” Suaranya terdengar lemah dan parau.

Kurogoh lembaran-lembaran uang kembalian dari warung kopi depan pabrik roti tadi. Tidak banyak, tetapi setidaknya bisa untuk menyenangkan bocah itu.

“Apa ini?” Tanya bocah lusuh itu ketika kusodorkan pula sekantong plastik yang berisi enam potong jemblem—jajanan goreng khas Jawa yang dibuat dari parutan ketela, diberi isian gula merah di dalamnya. Tadi, aku sengaja membawakan makanan kesukaan istri dan anakku itu dari warung kopi depan pabrik roti.

“Ambil saja. Kamu pasti belum makan.”

“Terima kasih, Mas.” Bocah itu menyambar bungkusan yang kusodorkan. Tanpa basa-basi dilahapnya makanan itu. Seperti sedang membayar rasa perih yang mungkin sudah lama menyiksa perutnya. Dalam beberapa menit saja, makanan itu tak tersisa secuil pun.

“Siana namamu?”

“Gudik.”

“Nama yang unik.”

Bocah itu tidak menunjukkan perubahan gestur wajah oleh ucapanku. Pandangannya yang tampak kosong justru tertuju ke langit-langit kios yang semakin remang. Hari memang sudah beranjak petang.

“Rokoknya sekalian, Mas!”

Gila. Bocah seusia itu sudah merokok.

Tak ingin berlama-lama dalam kecamuk perasaan, segera kusodorkan sebungkus rokok kepadanya. Pemantik api dari bensol yang terselip di saku celana, ikut kuberikan pula.

“Ambil saja semua,” pamitku sambil meyelipkan uang sepuluh ribu kepada bocah itu.

***

Hari kedua setelah pertemuan dengan Gudik, aku kembali pulang lebih awal dari biasanya. Setelah jam kerja di pabrik roti tempatku mengais rezeki berakhir, aku buru-buru memesan kopi di warung langganan kami. Begitu kopi itu tersaji, aku menuangkannya ke lepek—alas cangkir—untuk mempercepat menjadi dingin.

“Kau seperti dikejar hantu saja!”

Sedikit pun tak kugubris kata-kata Purwo. “Aku pulang duluan,” pamitku ketika sebuah angkot yang memiliki jurusan ke terminal tua berhenti di depan warung kopi langganan kami.

Aku harus ke terminal itu lagi. Begitu yang ada dalam benakku.

Beruntung hari ini tidak hujan. Setengah jam kemudian, angkot yang membawaku sampai di terminal tua. Aku kembali menapakkan kaki di lorong kusam yang kemarin kususuri. Cepat-cepat aku menuju bekas lapak tempat Gudik menyapaku.

“Gudik,” bisikku.

Bocah itu tidur di atas selembar sobekan kardus bekas mi instan. Masih dengan pakaian yang sama dengan kemarin. Tetap beraroma tidak sedap. Namun aneh, hari ini aroma tubuhnya terhirup mulai bersahabat dengan hidungku.

Kuguncang-guncang tubuhnya pelan.

“Bangun, Gudik.”

“Eh, Mas,” suara serak Gudik menyertai kucekan tangan ke sepasang bola matanya yang menyimpan banyak luka lara.

Aku tersenyum. Gudik kembali mengucek matanya. Mencoba membuang sisa kantuk. Aku membantu membangunkan tubuhnya.

Sekantong plastik berisi makanan dari warung kopi kusodorkan kepadanya. Gudik tersenyum menatapku. Hal yang sama juga aku lakukan. Sesaat kami tertawa bersama. Dengan lahap, bocah itu menyantap makanan yang kubawa.

“Rumahmu mana, Gudik?”

“Di sini.”

“Aku bertanya sungguh-sungguh. Katakan, di mana orang tuamu? Di mana pula rumahmu?”

“Aku tak pernah kenal siapa bapak dan emakku.”

“Kamu tidak sedang berbohong, kan?”

“Sejak melihat dunia bertahun-tahun lalu, tempat inilah yang aku tahu menjadi rumahku. Tempat yang dipenuhi roh para binatang. Roh-roh yang setiap hari lalu lalang dan hilir mudik di terminal ini, berpakaian rapi, menenteng tas mahal, mengantongi dompet berisi uang beratus-ratus ribu. Roh-roh binatang yang buta mata dan tuli telinga!”

Ucapan Gudik serupa belati yang menghunjam ulu hatiku. Tajam, menusuk hingga tembus ke punggung. Terasa perih, sakit, dan menoreh luka yang dalam.

Aku menghela napas panjang. Gudik menunjuk saku bajuku. Sesaat kemudian, kami menghisap rokok bersama. Asap mengepul di ruangan sempit dan kumuh yang minim lampu penerangan itu.

“Aku pulang dulu,” ucapku lirih.

“Terima kasih, rokok dan uangnya,” jawab Gudik.

***

Hari ketiga. Tidak seperti biasa, lorong-lorong terminal itu tampak bersih. Jauh dari kesan kumuh dan bau tidak sedap bekas kencing para pencoleng di sana. Lampu-lampu baru berukuran 40 watt rupanya telah dipasang. Keberadaannya di setiap lorong juga menghilangkan kesan suram.

“Mencari siapa, Mas?”

Aku menoleh.

“Mas mencari siapa di sini?”

Aku berjalan mendekat ke asal suara. Seorang bocah lelaki, usianya sekitar sepuluh tahun, duduk di sudut sebuah lapak yang jebol dindingnya. Lapak yang biasa digunakan Gudik tidur. Kuperhatikan wajah bocah itu. Bukan Gudik.

Kenapa dia juga berada di tempat kusam ini?

Aku memandangya cukup lama. Terlintas dalam pikiranku jika bocah ini pasti teman Gudik. Usianya sedikit lebih dewasa dari Gudik. Garis wajahnya sama-sama muram. Tatapan matanya penuh kesedihan.

“Aku mencari Gudik. Apakah kamu mengenalnya?”

“Gudik?”

Bocah itu terbelalak. Dia seperti terkejut dan tidak percaya mendengar pertanyaanku.

“Apakah Mas sehat?”

“Maksud kamu?’

Aku sedikit tersinggung. Tapi buru-buru kuredam ketika kulihat tubuh bocah berwajah muram dengan lutut penuh koreng itu memelas.

“Gudik temanku kan yang Mas maksud?”

“Kamu mengenalnya?”

“Iya.”

“Di mana sekarang Gudik?”

“Di surga.”

“Apa?”

“Mas ini aneh. Apakah selama ini Mas tidak membaca koran? Melihat berita televisi?”

“Aku benar-benar belum tidak mengerti maksudmu.”

“Gudik sudah meninggal setahun lalu. Dia menjadi korban terakhir Anton Polenk, sebelum monster itu tertangkap.”

Mendengar ucapan bocah itu, seketika tubuhku lemas. Kusandarkan tubuh di sampingnya. Mengingat-ingat kejadian dua hari ini bersama Gudik. Terlintas pula nama Anton Polenk, seorang pedhopilia yang menghebohkan warga kota ini setahun lalu. Sepuluh bocah gelandangan laki-laki menjadi mangsa lelaki abnormal itu untuk memuaskan nafsu binatangnya.

Mendadak pelupuk mataku membanjir. Malang sekali nasibmu, Gudik. Tanpa berpamitan, aku meninggalkan saja bocah yang masih tampak heran dengan perubahan sikapku.

“Mas, punya uang?”

Aku menoleh.

“Ada uang, Mas?”

“Mas, minta uangnya.” Suara serak bocah itu mengingatkan aku kepada Gudik.

Kurogoh lembaran-lembaran uang yang memang telah kusiapkan. Jumlahnya sedikit lebih banyak dari yang kuberikan kepada Gudik dua hari lalu.

“Apa ini?” Tanya bocah lusuh itu ketika kusodorkan pula sebuah bungkusan.

“Ambil saja. Kamu pasti belum makan.”

“Terima kasih, Mas.” Bocah itu menyambar bungkusan dari tanganku.

Bungkusan yang berisi martabak telur, pisang goreng, sekotak nasi ayam goreng siap saji, dan beberapa lembar pakaian baru. Bungkusan yang semula ingin kuberikan kepada Gudik. (*)

Karya : Heru Sang Amurwabumi

Pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk yang kini tinggal di Sidoarjo. Tulisan-tulisannya termuat di media massa dan telah menjuarai sayembara menulis platform Indonesiana-Kemendikbud RI, Kemenparekraf RI, dan Ditjen. PAI Kemenag RI. Pernah duduk sebagai anggota redaksi harian BERNAS. Tahun 2019 terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival.