Para Wajah Pribumi

Para Wajah Pribumi

Sebuah Kisah Kecil tentang Naik, Terbang, dan Jatuh

Sebuah Kisah Kecil tentang Naik, Terbang, dan Jatuh

Aku Tak Pernah Bermimpi Menjadi Zonasi

Aku Tak Pernah Bermimpi Menjadi Zonasi

Bibir yang Mengambang di Langit

Bibir yang Mengambang di Langit

Bocah Lelaki yang Memanggilku dari Lorong Terminal

Bocah Lelaki yang Memanggilku dari Lorong Terminal
Puisi

Para Wajah Pribumi

Sendiri menerima satu nasib. Sembunyi dari pandangan hidup. Penerima takdir sendiri banyak menyembunyikan. Nasib tersendiri bagi-bagi sunyi

Cerita Pendek

Sebuah Kisah Kecil tentang Naik, Terbang, dan Jatuh

Komariah membual, tentu saja. Tak pernah ada laki–laki dengan nama itu untuknya. Sama tahi anginnya dengan saat ia berkata,

Puisi

Aku Tak Pernah Bermimpi Menjadi Zonasi

emosi telah menghardik Zonasi di ruang-ruang sunyi di lapis-lapis sepi mengapa zonasi melukis harapan-harapan menjadi terkikis dan mata air mengalir…

Cerita Pendek

Bibir yang Mengambang di Langit

Aku ingin melihat kekasihku makan pentol di restoran ini. Aku ingin melihat gerak bibirnya—yang menurutku sempurna itu—saat memakan pentol di restoran berkelas semacam ini. Tentu saja sangat eksotis.

Cerita Pendek

Bocah Lelaki yang Memanggilku dari Lorong Terminal

Terminal itu terletak di pinggir kota. Meskipun bernama terminal, sebenarnya lebih pantas disebut sebagai bangunan tua yang telah kosong. Ia hanya menyisakan satu dua kios yang masih bertahan buka di beberapa sudut.

VIDEO PILIHAN BERITAJATIM

KARYA SASTRA TERBARU