Cuaca siang sedang cerah. Musim masih masuk penghujan namun sudah beberapa hari gerimis hanya turun malam hari. Sedang pada siang pukul dua begini, langit tetap terang menjurus terik. Awan tipis-tipis tidak mampu menjaring sinar matahari, malah seakan menyelungkupi bumi seperti selimut di atas kasur hangat. Batu paving yang melapisi jalan menyerap panas matahari, menjadikan dirinya sendiri sebagai sengat tajam menusuk telapak kaki telanjang yang menjejak di atasnya.

Seorang gadis berseragam putih biru berjalan dengan kepala menunduk. Kerudung putihnya seperti sengaja menjadi payung membenamkan wajah manis ke dalam bayang-bayang. Rayi, nama gadis pemurung itu, selalu berjalan sambil memandang ke bawah seperti sikap orang Islam ketika sembahyang. Namun, kali ini tundukan kepala gadis itu lebih dalam dari biasanya.

Mata yang peka akan menyadari rok birunya yang panjang dia turunkan beberapa senti dari sewajarnya. Dengan begitu dia bisa menabiri seluruh kaki sampai ke telapak. Sambil berjalan, mata gadis itu berkonsentrasi memperhatikan ujung rok yang menyentuh-nyentuh permukaan jalan.

Sebenarnya, dia sedang mengatur kaki agar tidak melangkah terlalu lebar melewati lingkar rok itu. Sekaligus, dia berusaha agar bisa bergerak cepat supaya tidak terlalu lama disiksa sengat bara. Kadang dia jalan berjinjit, kadang menapak dengan sisi luar kaki, untuk menggilir rasa terbakar di kakinya. Katika melihat bayangan pohon kers di tepi jalan, setengah berlari dia menghampiri untuk meneduhkan kulit telapak kaki yang rasa-rasanya mulai lepuh.
Sambil berdiri di bawah pohon, kepala gadis itu terus menunduk, seakan-akan bakal terjadi kiamat kalau sampai dia meluruskan lehernya yang tersembunyi.

Sebenarnya, dia sedang berusaha supaya tidak ada yang tahu. Dia akan malu kalau sampai terpergok berjalan pulang tanpa mengenakan sepatu. Lebih malu lagi kalau ada yang bertanya, “Ke mana sepatumu?” Selain malu, juga ada rasa muak, kesal, dan sedih yang bercampur di hatinya kalau nanti harus mengaku bahwa sebelah sepatunya hilang siang tadi, di mushallah sekolahnya, ketika dia sedang sembahyang. Lalu, terpaksa dia simpan pula sebelah yang kiri dalam tas ranselnya, dan dia pun pulang bertelanjang kaki.

Ini pun bukan Kli pertama gadis itu kehilangan barang-barang, mulai dari yang berharga sampai yang remeh temeh.
Dadanya masih sering merasa sesak kalau mengingat kejadian pada hari pertama ujian kenaikan di akhir kelas VIII lalu. Dia terpaksa mengerjakan ujian di ruang guru setelah tidak bisa menunjukkan kartu ujian miliknya, gara-gara ada yang menyembunyikan. Dia baru bisa kembali ke kelas pada sesi siang, mengerjalan ujian mata pelajaran kedua, setelah ketua kelas memaksa Siskia mengaku telah menyembunyikan kartu ujiannya, lalu mengembalikannya.

Kali ini pun, rasa-rasanya pasti juga Siskia, dalang di balik hilangnya sepatu kanan Rayi. Sayangnya kali ini tidak ada ketua kelas yang membantu.

Sudah sering Siskia bersama dengan teman-teman sekumpulannya, melakukan hal seperti itu pada Rayi. Hampir tiap dua-tiga hari sekali, gadis itu terpaksa membeli alat tulis baru, entah bolpen, pensil, atau penghapus, karena hilang, yang sebenarnya juga adalah karena Siskia. Rayi sering menemukan Siskia dan teman-temannya, keesokan hari mengenakan alat tulis serupa miliknya yang hilang. Meskipun, mereka selalu mengelak. Katanya, “Memangnya cuma kamu yang punya bolpen seperti itu?” atau, “Pabriknya kan tidak bikin satu,” atau apapun. Dan, sangat jarang barang-barang Rayi bisa kembali, kecuali dibantu oleh ketua kelas untuk memintanya.

Rasanya Rayi ingin menangis kalau mengingat semua kejadian itu. Tapi, dia tidak pernah benar-benar menangis meski diperundung seperti apapun oleh Siskia dan yang lainnya. Mungkin dia sudah terlanjur tumbuh menjadi anak pendiam yang tidak pandai menangis. Sejak kecil, orang tua dan para dewasa lain di sekitarnya selalu mengatakan pada Rayi bahwa anak baik tidak boleh menangis. Karena itu Rayi tumbuh dengan belajar menyimpan kesedihan tanpa menangis, supaya dianggap sebagai anak baik.

Hanya saja, rupanya tidak menangis bukan berarti tidak bersedih. Seperti halnya Rayi tidak pernah kelihatan marah bukan berarti hatinya tidak marah.

***

Di bawah bayangan pohon kres itu, Rayi merasa kakinya teduh, meski dadanya tetap sesak menyimpan sedih dan marah yang dia tahan. Keduanya membuat gadis itu enggan beranjak. Masih ada jarak sekitar dua ratus meter dia harus berjalan untuk mencapai jalan raya tempat dia bisa mencegat angkot yang akan mengantarnya sampai ke rumah.
Andai tadi dia langsung pulang begitu bel berbunyi, atau paling lambar setengah jam menit kemudian, mustinya dia tak perlu jalan kaki karena biasanya ada satu-dua angkot menjemput penumpang di depan sekolah. Tapi tadi dia menghabiskan setengah jam lebih setelah sholat dhuhur untuk mencari-cari sepatunya yang hilang sebelah, namun tetap tidak ketemu.

Ada rasa sesal terbersit. Mustinya tadi dia langsung saja pulang tanpa mencari-cari sepatu, sebelum angkot terakhir di depan sekolahnya pergi. Atau sebaliknya, mencari sebelah sepatunya sampai ketemu supaya tidak harus pulang bertelanjang kaki.

Tapi dia terlalu gamang untuk memilih salah satu. Ujung-ujungnya dia malah mencari-cari dengan malu-malu, dan ragu-ragu, sehingga tidak ketemu.

Itu adalah salah satu sifat Rayi yang bahkan dibenci oleh dirinya sendiri. Dia selalu ragu menentukan sesuatu, takut memutuskan, sehingga seringkali orang lain yang akhirnya memutuskan, dan membuat dia susah sendiri.
Pada kesempatan membuat kelompok mengerjakan tugas, misalnya. Beberapa kali ketua kelas mengajak Rayi masuk kelompoknya, mungkin karena kasihan. Sebenarnya, Rayi pun mau, dan ingin. Tapi selalu saja Siskia akan menghalangi. Dia akan meledek, mengatakan, “Huh, kamu kok kegenitan! Masa mau jadi anak perempuan sendirian di kelompok yang semuanya laki-laki?”

Lalu, Rayi pun urung mengambil tawaran itu, alih-alih kemudian bergabung dengan kelompok Siskia. Padahal sudah selalu terjadi: kalau Rayi satu kelompok dengan Siskia, semua tugas Rayi lah yang mengerjakan sendiri.
Ketua kelas, satu dari sedikit teman yang selalu baik pada Rayi, sudah sering menasihati. Mustinya dia berani melawan Siskia! Namun, Rayi sendiri pun bingung.

Gadis itu tidak pernah merasa kalau dia takut pada Siskia, atau pada teman-teman Siskia. Yang dia takuti memang bukan Siskia. Dia hanya takut melawan, karena dia tidak tahu caranya. Melawan bukan menjadi kebiasannya, dan dia tidak mengerti bagaimana cara yang baik untuk melawan. Dia tidak mau berkelahi, karena berkelahi itu tidak baik. Dia juga tak mau beradu mulut, karena tak mampu. Tidak mungkin juga untuk melakukan mogok tak mengerjakan tugas kelompok, sebab dia takut akan berhadapan dengan hukuman guru.

“Kalau kamu takut melawan Siskia, setidaknya minta bantuanku atau teman-teman lain,” nasihat ketua kelas di kali lainnya.

Ya, seharusnya memang begitu. Namun gadis itu selalu merasa sungkan. Malu. Tidak enak kalau mengganggu orang lain hanya untuk urusan yang remeh temeh begitu.

Seperti pada kejadian tadi, ketika sebelah sepatunya hilang dimushallah sekolahnya. Saat itu ketua kelas sebenarnya masih belum pulang, hanya saja sedang bermain basket dengan anak laki-laki lainnya. Rayi sangat sungkan untuk minta dibantu, takut mengganggu, meski dalam hati Rayi sangat berharap untuk itu.
***

Namun, selalu, kali ini pun begitu, ketua kelas lah yang membantu.

“Rayi! Sepatumu!”

Rayi sudah hendak beranjak dari bawah bayangan pohon kers ketika Rifan, ketua kelasnya itu, datang mengebut dengan sepeda kaki yang dia pinjam dari seorang teman. Gadis itu menoleh, dengan kepala yang masih setengah menunduk seakan-akan bakal terjadi kiamat kalau tidak begitu. Sebenarnya ada kata sahutan dari gadis itu, tapi suaranya terlalu lemah sehingga tidak mungkin terdengar oleh anak laki-laki yang datang dengan mengebut itu.

“Sepatumu kok ditinggal, sih?”

Rifan menyerahkan sebelah sepatu yang tadi dia tenteng sambil mengayuh sepeda.

Lalu, Rayi menerima sepatu itu dengan ucapan terima kasih yang sangat pelan, entah terdengar atau tidak oleh Rifan. Dan tanpa ada kata-kata lagi setelah itu, Rayi langsung memakainya dengan berjongkok di tepi jalan.

“Kamu jalan sampai sini tanpa alas kaki?” si ketua kelas bertanya, dengan napas yang masih belum teratur meski sudah coba diatur.

Rayi hanya mengangguk, sambil menyelesaikan memakai sepatu.

“Kasihan kamu. Ayo, aku antar sampai ke depan biar tidak jalan lagi,” lanjut ketua kelas, menawarkan pada Rayi untuk naik ke atas sepeda bersamanya.

Sepeda itu bukan sepeda dari jenis yang memiliki boncengan di belakangnya. Namun pada as roda belakang dipasang pijakan. Penumpang bisa berdiri di sana, sambil memegang pundak penyupir.

“Ayo!” anak laki-laki itu memaksa.
Seperti biasa, Rayi selalu ragu.

“Oh, iya, kamu kan pakai rok panjang. Tidak bisa, ya. Nanti rokmu tersangkut di ban,” dia baru menyadari kesalahannya. “Kalau begitu, kamu saja yang menyupiri. Aku berdiri di belakang,” lanjutnya sambil turun dari sadel, lalu menyerahkan kemudi pada gadis pendiam itu.

Rayi tak tahu caranya menolak. Dia menerima kemudi itu.

“Kamu bisa sepedaan, kan?” lanjut Rifan.

Rayi mengangguk, lalu menaiki sepeda itu. Berikutnya, Rifan naik ke atas pijakan pada as roda belakang, berdiri sambil tentunya memegang pundak Rayi.

“Ayo, Yi!” seru anak laki-laki itu setelah merasa siap di bonceng.

Baru Rayi menjalankan sepeda, dengan pelan-pelan.

Sepanjang dua ratus meter itu, ketua kelas terus bicara seperti biasa, menasihati Rayi, setengah mengomeli. “Seharusnya kamu harus melawan, …. Coba kamu tadi panggil aku,…. Seharusnya …. Kamu itu ….”
Entahlah! Rayi tidak terlalu mendengar ocehan teman laki-laki sekelasnya itu. Selain karena bisa menebak semua yang mau dia ucapkan, juga dia sedang merasa geli. Rasanya, geli sekali bersepeda dengan kedua pundak dipengangi, apalagi oleh seorang anak laki-laki.

Karya : Hasan ID

Penulis asli Besuk Sempilan—Sambungrejo, Sukodono, aktif di Komunitas Malam Puisi Sidoarjo.