Sore itu, mendung. Kelabu. Dan tak lama, langit pun menangis rintik. Di atas sofa coklat, Karin merebahkan manja tubuhnya yang sedari pagi seolah tak berhenti.

Sambil memainkan ponsel, perlahan ia memaksa kelopak matanya terpejam. Sayup-sayup suara Andmesh mengalun indah dari gadget itu.

Saat ku sendiri, kulihat foto dan video
Bersamamu yang telah lama kusimpan
Hancur hati ini melihat semua gambar diri
Yang tak bisa, ku ulang kembali

Ku ingin saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu

Segala cara telah kucoba
Agar aku bisa tanpa dirimu
Ho-oh

Namun semua, berbeda
Sulitku menghapus kenangan bersamamu

Ku ingin saat ini, engkau ada di disini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukan diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu
Ho oh

Hanya rindu

Benar, ia terbunuh rindu. Makin dalam, hingga tak sadar eluhnya sudah mengalir pelan. Jemarinya lantas mengusap layar ponsel. Mengetikkan sesuatu di whatsapp.

“Lex, ngopi yuk? Lagi ga kerasan di rumah nih,” ketik Karin.

Tak selang berapa lama, notifikasi ponselnya menyela. Pesannya terbalas.

“Kenapa?”

“Kapan?”

“Kamu jangan minggat loh!”

“Ok, ntar agak malaman ya. Di Oak Cafe!”

Sederet jawaban untuknya.

*****

Di Oak Cafe, mereka duduk bersihadap. Iringan musik syahdu seakan jadi penengah. Tapi mereka masih terpaku. Beku. Seperti bongkahan bening kecil dalam gelas di depan keduanya. Entah sudah berapa lama mereka saling diam, bergeming.

Jam berdenting sekali.

“Hei..!” gertak Karin memberanikan buka suara.

Alex tertegun, lalu ia hanya menyunggingkan senyum.

“Kok diem? Ngomong dong!” tanya Karin yang mulai terganggu bosan.

Alex masih membalas tersenyum.

Tapi Alex seakan sadar situasi. Dibakarlah rokok mild-nya. Asap tipis menggelayut dan cepat menghilang. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum, nyaris samar, lalu berkata, “lama juga ya kita gak nongkrong dan ngopi seperti ini. Kalau gak salah, terakhir dua tahun lalu ya? Sama Yuli.”

“O ya? Masak sih? Lama juga ya?” sahut Karin.

“Gimana kabarmu sekarang, Rin? Gimana anak-anak?”

Pertanyaan Alex membuat Karin menghela nafas dalam, halus terdengar.

“Baik!” jawabnya dengan suara berat.

Alex melihat raut wajah Karin berubah. Ia tahu, ketenangan yang diperlihatkan Karin, sekadar fatamorgana. Karena di balik itu, ia yakin, Karin penuh gusar dan beban.

Tapi Alex tak enak memburunya. Kini giliran ia yang menghela nafas dalam. “Hemm..”

“Lex, sepertinya saudara almarhum suamiku ingin mengusirku secara halus dari rumah.”

“Deg..!” Alex terkejut, terdiam, tapi masih tenang. Seolah turut merasakan beban Karin.

Karin adalah sejawatnya sekolah. Sejak dulu, Alex kagum dengan perempuan berparas kalem yang ada di depannya itu. Cantik, kalem, dan modis. Tak heran jika dulu, banyak yang ingin merebut hatinya.

Kini, meski usianya sudah berkepala tiga, Karin tetap modis. Tetap cantik. Bahkan menurut Alex, Karin adalah wanita paling sabar dan tegar yang ia tahu. Penilaian Alex tanpa alasan. Ia bisa melihat sendiri bagaimana Karin menjalani hidup di tengah badai cobaan bertubi-tubi. Khususnya di tiga tahun terakhir. Disitulah pertemanan mereka kian dekat.

Saat itu, Karin harus kehilangan dua orang tercintanya sekaligus. Suami dan anak ketiganya yang masih berusia beberapa minggu. Ya, mereka menghadap Sang Khalik lebih cepat. Suami Karin meninggal setelah berjibaku melawan kanker ganas. Sedangkan bayinya, divonis gagal jantung.

Karin yang masih tinggal di rumah keluarga almarhum suaminya, kini adalah single parent. Tidak hanya berperan sebagai ibu, tapi juga ayah bagi dua anak lelakinya, Satria Raya dan Samudera Raya.

Tak banyak yang bisa dilakukan Karin untuk menafkahi dua buah hatinya. Meskipun bisa saja ia bekerja di kantoran, tapi ia memilih sebagai reseller sebuah toko online produk kosmetik dan fashion. Alasannya, agar ia memiliki lebih banyak waktu dengan anak-anaknya.

Dan di Oak Cafe, Karin meluapkan isi bebannya. Mulai dari kisah rebutan rumah warisan, hingga upaya saudara almarhum suaminya yang ingin mengusir secara halus, ia tumpahkan semua kepada Alex.

Sebagai pendengar, Alex lebih banyak diam. Sesekali, ia cuma bisa memompa semangat lawan bicaranya itu agar tak berhenti bersabar.

Plong. Setelah panjang lebar bercerita, perasaan Karin mulai lega. Semua kegundahannya telah tercurahkan. Karena itu yang ia butuhkan. Teman bicara. Teman yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Tanpa kritik. Tanpa menggurui. Cukup mendengarkan.

Apalagi, banyak wejangan Alex yang mampu membangkitkannya. Maklum, Karin menilai Alex memiliki wawasan luas. Apalagi profesinya adalah senior employee di perusahaan media consultan. Selain nyaman, Karin juga merasa Alex cukup amanah sebagai teman curhatnya.

Keduanya lagi-lagi kembali terdiam. Seakan mereka menyelami kisah.

“Woii.. Diem aja!” gertak Karin menyadarkan Alex yang termangu.

Alex pun terbelalak dan melempar senyum. Kali ini, senyumnya lebih renyah.

Alex mencecak rokoknya di asbak, kemudian memandang Karin. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

“Rin, andai aku nggak ada, siapa yang jadi teman curhatmu?”

“Nggak ada gimana maksudmu?”

“Ya, nggak ada. Pergi. Jauh dari kamu!”

Karin menatap Alex serius dan dalam. Alex yang membalas tatapan Karin, serasa tak tega melihatnya. Lalu, ia pun tersenyum kemudian terbahak.

“Tapi bohong!” lanjut Alex terkekeh-kekeh.

Karin yang melihatnya, hanya bisa tersenyum kecut. Tapi tak berselang lama, keduanya terbahak bareng.

Setelah itu, keduanya larut dalam kisah cinta mereka masing-masing di masa lalu. Yang menggelitik, Karin juga menceritakan kisah norak seorang secret admirer saat mengiriminya sepucuk surat cinta.

“Kalo inget itu pengen ketawa,” ungkapnya sambil tergelak.

Sebagai lawan bicaranya, Alex pun tak kalah terpingkal.

“Ih, jahat kamu Rin. Awas kualat,” lalu kembali terkekeh.

“Abis norak banget sih,” lanjutnya tersimpul.

“Trus, kamu gimana saat itu?” tanya Alex yang masih menyisakan tawa.

“Ya gak kenapa-napa. Abis gak tahu juga dari sapa. Tapi suratnya masih ada kalo gak salah. Sempat aku simpan. Moga aja gak hilang,” jelas Karin.

“Ntar kapan-kapan deh aku kasih lihat,” tambahnya.

“Bener ya. Awas kalo bo’ong. Jadi penasaran,” ancam Alex.

“Iya..iya. Moga aja masih ada dan gak hilang,” janji Karin.

Mereka pun kemudian kembali terkekeh. Sesekali Alex mencuri pandang saat perempuan berkulit kuning langsat itu tersenyum. Hingga tak terasa, jam kembali berdenting. Jarum pendeknya menunjuk angka 11.

“Rin, sudah malam. Yuk, pulang.”

Karin pun mengangguk. Dan mereka beranjak.

“Ntar, cobain coffee shop lain ya, Lex,” ajak Karin.

Alex mengangguk dan tersenyum.

*****

Beberapa hari berselang, Karin menjalani hari seperti biasa. Kadang sebagai ibu, kadang sebagai ayah. Ia mulai mengikuti arus. Segala persoalan, dilepaskan, tak dianggap serius. Karena ia punya rencana jangka panjang demi kedua buah hatinya.

Petang itu, selepas Maghrib, Karin menemui beberapa tamu keluarganya. Keluarga dari ayahnya. Saat dirinya membaur, lagi-lagi ia mendengar pertanyaan yang kerap mengusik telinga dan hatinya.

“Kapan nikah lagi?”

“Gak mau cari ayah baru buat anak-anak?”

“Jangan lama-lama sendiri, gak baik!”

Berondongan pertanyaan itu, membuat Karin jadi kikuk. Dijawab salah, tidak dijawab pun masih salah. Ia pun selalu membalas dengan senyum, agar tidak menyinggung si pelontar pertanyaan.

Entah geram lantaran Karin tak pernah merespon atau apa, tantenya nekat melayangkan tawaran. “Rin, gimana kalo kamu nikah sama Mochtar aja. Dia juga belum nikah. Masih perjaka dan mapan. Kurang apa lagi, mau ya?”

Karin kian tersudut. Tidak tahu harus mau bilang apa. Ia hanya tersenyum. Lalu mengalihkan pandangan seolah ingin keluar dari topik pembicaraan.

“Gimana, Rin?” tanya ulang tantenya.

“Sabar, Tan. Kalo udah jodoh, nanti pasti dateng,” jawab Karin sekadar ingin melegakan hati penanyanya.

Setelah tamu keluarganya pamit, Karin di dalam kamarnya menghela nafas panjang. Ponsel yang sedari tadi ia tancapkan untuk mengisi daya, diambilnya. Ia terkejut melihat ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab di whatsapp. Semua dari Alex.

“Rin..”

“Rin..”

“Sibuk ya?”

“Rin..”

“Rin..”

“Rin, angkat dong telponku!”

Ia pun coba mengetikkan pesan balasan. “Sori, tadi ada tamu saudara. Ada apa, Lex?”

Tidak ada balasan. Pesannya hanya centang hitam satu.

Sembari menunggu balasan. Karin teringat janjinya kepada Alex. Menunjukkan sepucuk surat cinta secret admirer-nya masa lalu. Ia pun meraih sebuah kardus lusuh di bawah tempat tidurnya. Ia bongkar isinya dan mengambil sebuah novel yang tertumpuk. Dalam novel itu terselip sebuah amplop biru muda. Kertasnya sudah menguning, tapi masih bersih. Tidak lecek.

Perlahan, dia membuka isi amplop. Selembar surat berisi tulisan tangan yang acak-acakan. Usai yakin bahwa benda itu yang ia cari, Karin pun kembali melipat dan menyelipkan ulang surat itu tanpa dibaca ke dalam novel. Lalu, ditaruhnya novel itu di bawah bantalnya.

Seraya tak sabar menunggu balasan pesan dari Alex, Karin pun mengetik pesan lagi.

“Lex, ada apa?”

“Lagi galau nih”

“Mentang-mentang janda, aku di-bully, dijodoh-jodohin”

“Lex…”

“Halooooooo…..”

“Help dong”

“Lex…lagi tidur ya?”

“Oia, Lex. Suratnya udah ketemu nih”

“Woiii!….Lex”

Berderet pesannya tak kunjung terbalas. Hingga akhirnya, Karin tak kuasa menahan lelap matanya dan tertidur.

*****

Meski hawa dingin masih menusuk kulit, suara adzan Subuh membangunkan Karin dari lelapnya. Ia celingak-celinguk memastikan kesadarannya. Ia tengok dan menghampiri kedua anaknya. Ia betulkan selimut mereka yang melorot serta acak-acakan. Kemudian, ia pun mengambil air wudhu.

Usai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, Karin yang masih mengenakan mukena, meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur. Pesannya semalam, telah terbalas dari Alex. Sembari terduduk, ia buka pesan whatsapp itu.

“Rin, sori. Semalam aku di dalam pesawat”

“Aku mau pamit. Aku dimutasi di Serawak. Nggak tahu sampai kapan”

“Kamu jaga diri baik-baik, ya. Jagain yang bener anak-anak”

Pesan Karin, “Oia, lex. Suratnya udah ketemu nih”, mendapat replay dari Alex. “Kasih tahu dong apa isinya, jadi pengen tahu.”

Begitu juga pesan Karin, “Help dong”, Alex pun me-replay.

“Rin, aku bisa memahami posisimu saat ini. Ikuti aja kata hatimu. Kamu emang butuh seorang pendamping. Bukalah lembaran baru. Memang, kamu tidak akan bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari almarhum suamimu”

“Posisi almarhum, akan selalu membekas dan berkesan di hatimu. Dengan segala suka duka hidupmu, kamu mengawali hidup dari nol, ia selalu setia menemanimu. Ini yang membuatnya istimewa di hatimu. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Sampai kapan pun”

“Jadi rin, ikuti aja kata hatimu. Jangan pernah membandingkan almarhum dengan siapapun. Bangun hidup baru bersama suami barumu tanpa membandingkan”

“Udaaaah…ikuti arus aja, nggak usah ditahan. Kamu wanita kuat. Jangan cengeng..!” sambil diikuti meme bergambar Wonder Woman.

Lalu di akhir pesan, Alex menutup dengan sebuah emoticon berukuran sedang bergambar kepala Batman yang tersenyum.

Karin pun lantas menghela nafas dalam hening. Entah apa yang dipikirkan. Mata sayunya, menanar. Karin pun menyingkap bantal dan mengambil novel yang tertindih. Sebuah surat dalam amplop biru muda yang terselip di halaman novel itu, ia buka perlahan. Ia berniat memberi tahu Alex isi surat itu sesuai janjinya.

Kemudian, Karin mulai mengetikkan isi surat cinta yang dianggap norak itu dalam pesan whatsapp Alex.

Dear…

Sejak pertama kali aku mengenalmu, aku ingin kau selalu ada di sisiku. Bahagia hati ini ketika aku bisa melihat senyummu.
Kusadari, mungkin ini yang disebut cinta. Yah, kuberanikan diri kukatakan bahwa aku sayang kamu, sangat.

Terserah apa yang ada dibenakmu saat ini tentangku. Tapi aku berharap balasan surat darimu yang akan menyejukkan hatiku.

(yang menyayangimu…Batman)

“Wait!” batin Karin. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil.

Lalu, ia scroll kembali pesan whatsapp Alex, khususnya di bagian akhir.

“Batman?” Karin kian bertanya-tanya. Lalu, ia mulai mengaitkan beberapa hal. Sebab beberapa tahun terakhir, Karin baru tahu jika Alex memang mengidolakan Batman. Tapi tak pernah memperhatikan. Bahkan, Alex pernah bercerita jika dia adalah salah satu kolektor pernak-pernik Batman.

Berbagai macam pertanyaan mulai mengusik pikirannya. Benarkah Batman pengirim surat cinta norak itu adalah Alex? Karin kian penasaran. Apakah hanya kebetulan?

“Ah, tak mungkin,” batin Karin.

Ia pun perlahan menganalisa. Ia kembali mengingat-ingat. Tak ada teman sekolahnya yang mengidolakan Batman kecuali Alex.

“Hah! Alex?” Karin terdiam.

Seketika, Karin memencet tombol telpon di sudut atas pesan whatsapp Alex. Karin mencoba menghubungi Alex. Tapi tak tersambung. Karin makin bingung. Ada hampa yang dirasakan.

Lantas, Karin tertunduk sambil mengusap selembar surat yang dikata norak olehnya. Lalu, ia membuang pandang ke luar jendela kamar yang tirainya telah tersingkap sedari tadi. Namun, pandangannya masih kosong. Berkelana entah kemana. Ia tetap bergeming meski wajahnya mulai terjamah sinar surya.

Tak lama, ia kembali menyentuh ponselnya. Apa yang sudah ia ketik, secara perlahan dikirimkan ke Alex. SEND.

Perlahan, ia buka mukena yang menyelimuti tubuhnya sejak tadi. Ia mencoba meyakinkan hati. Ia ingin bangun dari keraguan dan menatap kenyataan. Karin beranjak dengan perlahan. Kembali melawan rindu. Kembali mengawali hari sebagai Single Mom. (*)

Penulis adalah jurnalis, pesepakbola gagal yang melow, tapi suka musik rock dan metal.