Bayang-bayang itu masih terus bergerak. Melambai dari kiri ke kanan. Mengikuti gerak api lilin yang bersembunyi di dalam botol plastik bekas yang terpenggal. Menampakkan siluet dua buah gelas yang saling berhadapan. Mengapit sebuah lilin yang berpijar sekenanya.

Udara dingin mulai menguap. Begitu pun cahaya lilin yang perlahan-lahan semakin memudar. Bukan karena kehabisan bahan bakar. Pun tidak karena terpaan angin atau hujan. Ia memudar karena gelap pun telah mulai tersikap.

Embun pagi yang sedari tadi menyelimuti kini mulai tertangkap mata. Menghadirkan sensasi seakan dunia terlahir kembali. Keluar dari gelapnya rahim bumi dan merangsak menembus selaput yang melindungi sepajang malam agar tetap jadi misteri.

Menikmati pergantian malam menuju pagi kali ini, membawaku pada ingatan tepat satu tahun lalu.

“Kau punya balkon, kan?” tanyanya tiba-tiba. Kulihat, kedua tangannya sudah membawa dua cangkir kopi. Entah, kapan ia membuatnya. Sepertinya momen ketika ia menyelinap ke dapur luput dari perhatianku.

“Ya, ada di lantai tiga,” jawabku singkat sambil memalingkan kepala dari layar laptop. Aku bahkan harus menggulingkan badan ke posisi telentang untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas.

Ia diam saja menerima jawabanku. Aku pun hanya diam sambil memiringkan badan ke arahnya. Kutarik tangan kananku untuk menyangga kepala di atas bantal. Mirip pose legendaris budha tidur.

Lima detik sudah berlalu. Ia masih diam sambil perlahan otot-otot bibirnya berkontraksi dan menarik bagian wajah tak bertulang itu. Sebuah garis lengkung menghadap ke atas terbentuk dari persinggungan kedua bibir bawah dan atasnya. Sebuah garis kode yang jamak disebut senyum.

Tentu saja yang ini sama sekali tak menawan. Kontraksi otot bibir itu membuat daging pipinya tersundul. Kedua garis matanya yang irit itu pun semakin tergusur. Matanya hilang.

“Naiklah, jika kau mau. Kau bisa lewat tangga yang ada di sana,” sahutku sambil menunjuk ke ruang samping tempat tangga besi melingkar menuju lantai tiga terpancang lurus ke atas.

Mukanya masih memasang lukisan yang sama. Sebuah muka kurus berbungkus kulit tipis berwarna pucat agak bulat dengan tiga buah garis – garis senyum, dan dua garis yang terbentuk karena katup matanya yang tertutup – dan dua buah lubang hidung di tengahnya. Jika saja dia lebih kreatif, aku yakin setiap paket stiker berbahan dasar mukanya itu pasti laris diminati pengguna Line. Atau mungkin juga telegram. Toh, meski dompetnya tipis, ia punya muka yang cukup tebal.
Telunjukku pun tak mendapat respon dari kepalanya. Bahkan sekadar menengok ke arah yang kutunjuk pun tidak. Ia masih berdiri dengan posisi yang persis sama. Dan aku tahu apa artinya itu.

Jika tak kuturuti, aku yakin ia pasti akan tetap berdiri di situ sampai pagi. Aku tak masalah dengan itu. Hanya saja, aku tak bisa menerima jika dua gelas kopi yang sedang bertengger di tangannya nanti terpaksa membumi. Aku hanya tak mau mengepel lantai karenanya.

Sambil menghela nafas cukup panjang, aku bangun dari posisi tidur miring ala budha tidur. Menutup laptop dan meletakkannya di meja yang ada di sampingku. “Ok, aku ambil lotion anti nyamuk dan lilin dulu. Tak ada lampu di atas, dan kau juga tak mau jadi bancaan, kan?”

Ia masih berdiri. Dengan posisi yang sama tentu saja. Hanya senyumnya kini telah pecah dan berganti tawa. Membuat kedua matanya semakin tenggelam.

“Ah, dan juga. Kosongkan dulu tanganmu itu. Di dapur ada botol mineral bekas, coba kau buat tempat untuk lilin ini biar tidak mati kena angin,” tambahku sambil menuju kamar untuk mengambil lilin.

Entah dia sedang puasa bicara atau apa, tapi ia tak sedikit pun merasa perlu memberi jawaban. Dan aku juga tidak peduli sebenarnya. Ia memang aneh. Kami pun dipertemukan dengan cara yang aneh.

Lima tahun lalu, sebuah organisasi mahasiswa lintas kampus sedang mengadakan kegiatan tahunan di Surabaya. Kebetulan, aku menjadi salah satu panitia di sana. Meski turut aktif di organisasi tersebut, tetapi aku tak suka mengikuti formalitas acara rapat dan mufakat yang isinya hanya unjuk kebolehan berdebat. Meskipun, itulah inti dari acara yang digelar. Toh, aku tak akan mati hanya karena tak ikut mufakat, bukan?

Biasanya, ketika seluruh peserta sudah memasuki ruangan dan tak lagi perlu digembala, aku akan pergi ke warung kopi. Kebetulan, jalanan belakang kampusku memiliki populasi warung kopi yang cukup padat. Di sepanjang 100 meter jalan bisa ditemukan lebih dari 20 warung kopi dengan berbagai variasi arsitektur, interior dan menu tentu saja.
Langgananku ada di dua puluh satu meter ke arah kiri dari gang pintu belakang kampus. Luasnya tak lebih dari 2×4 meter. Sebuah meja tinggi berbentuk L terpatok di tengah ruangan, berbelok ke kanan di bagian pintu. Dua kursi panjang mengisi sisi luar meja. Sedang sisi dalamnya diplot menjadi dapur.

Dibandingkan dengan warung kopi lain yang ada di sekitarnya, ia yang paling kecil. Penampilannya pun terlalu tradisional jika dibandingkan dengan warung kopi lain yang dibuat mirip dengan kafe. Alasan kenapa aku memilih tempat ini, pertama, kopi tubruknya sesuai dengan seleraku. Kedua, pemiliknya ramah dan cukup dekat denganku dan yang terpenting; sepi. Alasan terakhir inilah yang membawaku bertemu dengan lelaki bermata sipit berkulit pucat yang kemudian memperkenalkan diri sebagai An Tian Kong.

Tak ada yang berkesan. Pertemanan kami setelah itu pun berjalan dengan biasa saja. Tak ada yang cukup sentimental. Hanya saja, ketika ia berkunjug ke Surabaya, kami selalu menyempatkan diri minum kopi bersama. Tak jarang ia menginap di tempatku. Begitu pun ketika aku berkunjung ke tempatnya di Tulungagung.

Ia punya teman karibnya sendiri, dan aku pun begitu. Pertemanan kami biasa saja dan kering. Tetapi dari sana, aku mulai mengenalnya sebagai pribadi yang aneh. Ia orang yang baik dan ramah. Pun, orang yang sabar. Lebih dari lima tahun berteman, aku belum pernah sekali saja melihatnya marah, meski sangat sering kata-kata kotor keluar dari selokan mulutnya itu.

Ia juga bisa diam berjam-jam dan hanya berkomunikasi melalui isyarat kepada siapapun. Atau bahkan tanpa isyarat. Ia hanya akan mengerjakan yang perlu ia kerjakan, dan berdiam diri meski tetap turut berkumpul bersama teman-teman lainnya. aku, dan teman-teman lain, sering dibuat rikuh, jika ia sudah mulai mengaktifkan mode diam ini. Di saat yang lain, ia bisa tahan mengoceh semalam suntuk tak peduli ada yang mendengar atau tidak. Ia juga sering tiba-tiba membawa banyak makanan, meski semua orang tahu ia bukan tionghoa berdompet tebal. Hanya muka dan semangatnya saja yang tebal.

Malam itu, satu tahun yang lalu, entah apa yang terjadi. Ia tiba-tiba saja berganti ke mode diam. Usai bertanya tentang balkon, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Bahkan, setelah kami duduk bersama di balkon, ia sama sekali tak bicara. Usahaku memantik percakapan juga tak membuahkan hasil.

Kami duduk berhadapan. Di hadapan kami, ada dua cangkir kopi dan satu lilin ditengah-tengah. Ia yang menatanya. Seolah membuat sebuah garis lurus dengan lilin sebagai poros tengahnya. Mungkin, ia terinspirasi Napoleon Bonaparte yang membuat bangunan-bangunan monumental Paris berjajar lurus ke arah barat.

Sudah lebih dari tiga jam kami duduk di sini. Ia tetap diam sambil sesekali memandangi langit yang kosong. Tak berbintang, pun bulan tak nampak.

Aku hanya bisa pasrah. Menyeruput kopi sambil menghisap Surya Pro. Untuk menghilangkan kantuk, aku coba menyibukkan diri melukisi rokok ku dengan cethe. Karena aku tahu, ia akan marah kalau aku tidur dan meninggalkannya.

Mukanya yang bulat dan pucat masih menampakkan wajah tanpa ekspresi. Hanya dihiasi tarian cahaya lilin yang temaram. Dua bungkus Magnum Filter sudah ia tandaskan ketika sahut-menyahut rekaman bacaan al-Quran mulai membelah kesunyian. Tapi tak seteguk kopi pun ia sesap. Dan aku, hanya bisa diam dan menunggunya bicara.

Ketika akhirnya ia bicara, dua belas batang Surya Pro yang telah aku lukisi dengan cethe baru saja habis kuhisap. Matahari ketika itu mulai bersiap hadir dan menyapu perlahan kegelapan malam. Hampir saja aku memutuskan untuk turun, ketika ia tiba-tiba bersuara. “Kau tahu, kopi dan malam itu memiliki kesamaan,”

Aku memilih untuk diam dan memperhatikan wajahnya. Masih berhias tarian cahaya lilin.

“Malam itu selubung misteri. Ia rahim bagi dunia. Hanya ketika malam saja dunia ini bisa tumbuh dan berkembang. Menjalankan perubahan. Ketika jeruk mulai menguning, apel-apel berubah merah,” Ia berhenti sejenak dan mengambil satu bungkus rokok lagi dari saku jaketnya. Menyobek melingkar segel plastik berhias garis merah, dan membuka tutup atas bungkus rokoknya yang didominasi warna hitam.

Sebatang rokok berwarna putih ia keluarkan. Ujung filter berbungkus kertas putih itu, ia selipkan diantara dua bibir. Kali ini, tak menyulutnya dengan korek. Lilin yang hanya tinggal sepertiga panjangnya itu, ia raih. Ia dekatkan ke mulutnya untuk menyulut rokok.

Dalam satu tarikan yang dalam, ia menyedot asap dari filter itu. Menahannya dan menyesapnya selama dua detik dengan penuh ekspresi – Inilah ekspresi pertama yang keluar dari mukanya setelah berjam-jam hanya berdiam saja – kemudian meniupkan asapnya ke atas.

“Malam itu rahim. Selaput misteri,” ucapnya mengulangi. “Seperti juga kopi ini,” tangan kirinya tiba-tiba mengangkat cangkir kopi yang sedari tadi tak sekali pun ia sentuh. Menyeruputnya sedikit dengan penuh khidmat kemudian bicara lagi.

“Bersamaan dengan lahirnya hari baru yang keluar dari rahim malam. Bersama dengan koyaknya selaput gelap malam yang melindungi misteri dunia, aku menyeruput kopi ini. Melepas misteri akan rasa yang tersimpan di dalamnya. Akankah ia manis, ataukah pahit, ataukah asam, atau hambar. Tak ada yang tahu. Kegelapan warna kopi melindunginya dari tafsir manusia. Ia hanya bisa diketahui dengan cara meminumnya,”

Ingin rasanya, aku layangkan sebuah tinju tepat di hidungnya. Memecah selaput tipis kulitnya dan membuat darah keluar dari dua lubang hidung pesek itu sambil berteriak kencang tepat di depan mukanya “Bajingan! Lalu kenapa tak kau minum saja itu kopi dari tadi! Asu!”

Tapi kata-kata itu tak juga keluar dari mulutku. Aku hanya diam sambil memandangi wajahnya yang kini semakin sulit dipandang karena sinar matahari mulai terang mencorong dari balik punggungnya.

Ian, begitu aku kerap memanggilnya, tiba-tiba saja berdiri. Ia menghadap ke timur dan melantangkan suaranya “Kopi, kawan, laiknya sejuta misteri yang tersimpan di gelapnya malam. Ia pekat dan gelap. Mengandung sejuta rahasia rasa dan filosofi”.

Dan tepat setelah kalimatnya itu berakhir, ia merebahkan badannya di atas karpet yang melapisi lantai balkon. Mengambil posisi tidur miring menghadap ke arahku. Berbantal tangan kanan dan tangan kirinya memeluk bantal. Ia tidur.

Dipergantian malam menuju pagi ini, bersamaan dengan matahari yang menyingsing, satu dari dua kopi itu telah tandas. Sedang satunya, masih utuh tak tersentuh. Lilin itu masih terus menyala, dan apinya tetap tak kenal lelah menari-nari.

Sedang cahaya matahari semakin terasa menyilaukan mataku. Karena aku tepat menantang arah hadirnya. Pelahan kurasakan lelehan hangat mengaliri pipiku. Titik-titik air dari mata itu terus bercucuran. Aku harap itu hanya karena silau matahari, tapi tak juga berhenti.

Hari ini, tepat satu tahun yang lalu, kau pergi dan tak lagi kembali. Kecelakaan lalu lintas itu hanya merenggut nyawamu. Tas, sepeda motor, laptop, handphone, dan pena bertinta warna perak yang selalu menghiasi sakumu itu, semua utuh dan selamat. Hanya nyawamu yang menjadi korban. Bahkan tubuhmu sehat.

Oleh : Fathur M Rohman
Cerpenis dan pegiat literasi asal Kediri. Lahir Februari 1994 lalu dan sekarang tinggal di Surabaya