Dua tahun silam, kaki Ibu terkena serpihan beling yang dijatuhkannya ketika sedang mencuci piring. Jari kaki ibu terluka. Saya masih ingat betul ketika Bapak mencabut serpihan beling di kakinya lantas membersihkannya dengan air hangat, diberi antiseptik, dan lalu diperban.

Setelah insiden itu, hari demi hari Ibu selalu mengeluh kalau pundaknya pegal-pegal dan terutama kakinya sangat ngilu. Bapak mengira bahwa yang dirasakan Ibu tersebut akibat infeksi di kakinya. Bapak lantas memeriksakan Ibu ke dokter. Dokter pun menyarankan supaya Ibu menjalani perawatan untuk mengetahui muasal yang menjadikan seluruh badannya sakit.

Kendati wara-wiri ke rumahsakit adalah hal biasa, saya agak sedikit lega. Semalam Ibu baru keluar dari rumahsakit. Dokter akhirnya memperbolehkan Ibu untuk dirawat di rumah setelah satu minggu lebih dua hari ia terbaring lemah dengan selang infus.

Pagi ini, ia masih di atas kasur. Badannya lunglai dan tak bertenaga. Kendatipun demikian, meski harus kehilangan dua jari kakinya, Ibu sudah tampak rela. Dua puluh tujuh bulan berjalan, Ibu sudah menjalani perawatan rutin sakitnya.
Ibu juga telah melakukan anjuran yang dokter berikan. Ia tak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula berlebih. Pula harus mengontrol ketika sedang makan nasi putih. Semenjak itu, porsi makan Ibu berkurang. Biasanya satu piring penuh terkadang masih kurang, setelah tahu penyakit itu ia hanya makan satu pucuk centong nasi. Rutinitas minum teh manis setiap pagi dan sore juga hilang. Ia hanya minum air putih saja, kendati terkadang ia masih minum teh. Itupun jika hanya untuk menghangatkan badannya.

Ibu jarang sekali mengeluh. Hanya jika terlalu tak tahan merasakan sakit saja ia bercerita kepada Bapak dan dua anaknya—saya dan adik lanang saya. Manakala seperti itu, kami tak tega melihatnya dan tentu sangat risau akan kesehatannya. Apalagi Bapak yang setiap hari sebelum Ibu sakit harus serba diurus Ibu kecuali pekerjaannya sendiri. Semenjak itu pula, Bapak selalu murung walau di depan anak-anaknya dibuat tampak tak terjadi apa-apa.

Akhirnya, dari keadaan seperti itu, kini bapak menjadi mandiri. Tak jarang pula ia bahkan yang menyiapkan makanan untuk Ibu dan anak-anaknya meski hanya tempe goreng dan sambal terasi. Bukan sekadar hal itu, Bapak jugalah yang membersihkan rumah kalau anak-anaknya bekerja. Dan, sekarang pun Bapak yang harus mengurus Ibu sendiri, karena anak lanangnya merantau ke Jakarta, sedangkan anak perempuannya bekerja mulai pagi dan pulang ketika sudah gelap.

Kian hari tubuh Ibu kian menyusut. Padahal dulu, sebelum dua tahun lebih tiga bulan ini, berat badannya mencapai tujuh puluh kilogram. Baju-baju Ibu pun tampak kedodoran semua. Dan sejak ia tahu kalau dirinya sakit, bahkm ia tak pernah dandan lagi. Kulitnya yang putih tampak terlihat pucat sekali. Namun, bukan itu yang membuatnya terkesan di mata orang-orang. Adalah suara Ibu, yang dirindukan semua orang.

Ibu memiliki suara merdu sekali. Jika diadakan acara berselawat di musala depan rumah, Ibulah yang melantunkannya. Namun, seperti sekarang, Ibu hanya mendengar selawat itu dari rumah. Ia terbujur di atas kasur ditemani Bapak yang kebetulan tidak berangkat kerja atau pergi ke sawah. Saya pun ikut serta karena sedang ambil cuti.

Kendatipun pengharum ruangan telah terpasang di atas pintu kamar, tetapi aroma kamar ibu masih seperti berada di rumahsakit. Barangkali karena obat Ibu yang terlalu menumpuk di meja di dekat kasur tempatnya berbaring, baik obat dari dokter maupun obat herbal.

”Ibu pindah kamar saja, Pak. Tak tahan baunya” katanya dengan suara yang sangat lirih.
”Iya, nanti kita pindah ke kamar sebelah. Ibu harus sehat dan kuat,” jawab Bapak sambil menggenggam tangan Ibu. Ibu hanya membalas dengan anggukan.

Sebentar setelah meminta pindah kamar, Ibu tertidur. Sepertinya itu karena pengaruh obat yang tadi ia telan. Kalau Ibu sudah tidur seperti ini, biasanya ditinggal Bapak untuk menyiapkan makanan buat nanti kalau Ibu bangun.

***

Ada luka di kaki Ibu, di atas dua jarinya yang telah terpendam di halaman rumah. lukanya kecil, tapi kata Ibu sangat sakit, bahkan rasanya menjalar ke seluruh tubuh. Semalam Ibu sudah pindah ke kamar saya. Ada perasaan khawatir yang kian dalam. Semakin melihat wajahnya, begitu ketakberdayaan melandanya.

Semalam Ibu sudah pindah kamar, tapi ia justru tak bisa tidur karena ada luka di kakinya. Bapak mencoba memeberinya obat anti nyeri dan antibiotik, tetap tak merubah. Ibu masih meronta kesakitan. Siang ini, lukanya bertambah lebar. Padahal pagi tadi masih kecil seperti luka bekas garukan. Namun sekarang, ada nanah dan keluar sedikit darah. Melihat Ibu semakin lemah, kami pun membawanya ke rumahsakit lagi.

Diperjalanan tadi, Ibu tak sadarkan diri. Sudah sejak ketika keluar rumah sebenarnya. Bapak yang membopongnya sendiri masuk ke dalam kendaraan. Ibu tampak begitu ringan di tangan bapak seperti tak ada daging di tubuhnya.

Setelah menunggu Ibu sekian lama di depan ruang gawat darurat, dokter memutuskan agar Ibu kembali dirawat di rumahsakit. Apa boleh buat, kami pun mengikuti prosedur.

Kembali bermalam di rumahsakit ialah hal paling buruk yang tak pernah terduga sebelumnya. Dengan selang di tangannya, Ibu tampak tak merasa sakit lagi. Semalam sewaktu ia mulai merasakan sakit, tak sesuap makanan pun lolos ke mulutnya. Kini ia mulai menelan sesuap demi sesuap bubur yang disediakan rumahsakit.

”Bubur beras merahnya enak. Tapi Ibu jadi seperti bayi,” kata Ibu kepada saya di tengah-tengah mengunyah.
”Yang penting Ibu suka dan mau makan.”
”Ibu terpaksa suka, Mbak. Ibu lapar.”

Begitulah Ibu memanggil. Ia tak pernah memanggil anak-anaknya dengan menyebut nama secara langsung. Ia pernah mengatakan, kalau itu ajaran dari neneknya Ibu. Memanggil namanya secara langsung seperti tidak sopan meski dengan anaknya sendiri.

”Bapak di mana?” tanyanya pada suapan bubur yang terakhir.
”Masih mengurus administrasi.”
”Mbak, kamu kan anak Ibu paling besar, jadi harus bisa jaga Bapak sama adik, ya.”
”Pastilah, Bu. Oh ya, kalau nanti Ibu sudah boleh pulang dari rumahsakit, Ibu ingin apa?”
”Ibu mau dimandikan yang bersih.”

Pasti setelah keluar dari rumahsakit Ibu merasa tubuhnya lengket, bahkan sekarang pun ia pasti sudah merasakannya. Setiap hari tubuhnya tak diguyur air, hanya dilap saja itupun tidak keseluruhan. Seperti kemarin malam waktu pulang dari rumahsakit, Ibu langsung minta untuk direbuskan air panas. Ia langsung mandi padahal udara malam sangat dingin.
Ibu sudah tertidur pulas ketika bapak datang. Setelah makan tadi Ibu langsung minum obat. Bapak terlihat sedih sekali. Ia datang ke ruangan Ibu dengan air muka yang murung.

”Bapak tak tega melihat Ibu kesakitan begitu, Mbak,” jawabnya.
”Ibu pasti sembuh.”

Bapak tersenyum sedikit lantas diam dan duduk di dekat Ibu. Saya sendiri juga tak tega dan sangat mencemaskannya. Apalagi kian hari tubuhnya kian habis. Pipinya yang dulu berisi kini mengempis. Di bawah kelopak matanya cekung sekali. Andai saja tiada asupan dari infus, wajah Ibu pasti seputih kapas.

***

Malam dan pagi sudah kami lalui selama tiga hari di rumahsakit ini. Namun, keadaan Ibu belum juga membaik, bahkan bisa dibilang semakin memburuk. Luka di kakinya kian melebar. Kemarin lusa waktu pertama datang kesini, lukanya kecil itupun terletak di atas dua jarinya yang sudah tiada. Kini luka itu semakin naik ke betis.

Di saat lukanya seperti itu, Ibu justru seperti tak merasakan sakit. Padahal darah dan nanah tak hentinya keluar. Seprei dan selimut harus diganti setiap hari oleh petugas rumahsakit. Namun, yang lebih menyesakkan ialah bukan melihat luka Ibu, melainkan kabar dari dokter tadi pagi bahwa kaki Ibu tidak bisa dibiarkan terus-terusan seperti itu.

Kami tidak menangis di depan Ibu. Bapak hanya menangis di depan saya, itupun hanya setetes air mata.

”Usap air mata kita di depan Ibu, ya, Mbak. Nanti Ibu malah tambah kesakitan,”

Namun, ketika Bapak menyampaikan kabar dari dokter ke Ibu, justru Ibu menolaknya. Ia memilih untuk pulang. Alasannya, ia tak betah berlama-lama di sini. Ia sudah ingin mandi.

Bagaimana Ibu bisa mandi jika kaki Ibu keadaannya seperti ini, ucapku yang tak terlisankan. Membayangkan terkena air saja tidak, apalagi mandi. Akan tetapi, oleh karena Ibu berkeinginan keras untuk pulang, kami tidak bisa memaksa. Dokter pun tak bisa mencegah. Kami pulang siang ini dengan resep obat dari dokter yang tak sedikit.

Anehnya, meski jarum infus tak menusuk di tangan Ibu, ia tampak biasa saja. Seperti tak mengalami apa-apa. Padahal di kakinya nanah dan darah terus keluar. Kami saja yang hanya melihatnya merasa ngilu sendiri.

Sesampainya di rumah, Ibu dilarang bapak untuk jalan sendiri. Bapak membopongnya kembali ke kamar. Namun Ibu tak mau ke kamarnya. Ia ingin istirahat di kamar anak lanangnya yang masih merantau di Jakarta.

”Bau kamar ini masih sama ketika kalian bayi. Seperti bau basah tanah setelah hujan,” kata Ibu setelah dibaringkan Bapak di atas kasur.

”Saya rasa baunya seperti kamar yang lama tak pernah dihuni. Kalau tidak ada kamper baunya mungkin apek.”
Ibu pamit istirahat. Kami mengiyakan. Sebelumnya Ibu minta minum air putih baru kemudian ia tidur.

***

Dengan wewangian bunga—melati, mawar merah, bunga kantil, dan daun pandan, tubuh Ibu mulai terbasahi. Keinginannya pun terpenuhi. Ia ingin dimandikan oleh saya. Ia tampak begitu cantik dan kulitnya bersih sekali.

Sebetulnya, sudah ada yang bertugas memandikan Ibu. Jumlahnya ada 4 orang. Dan kesemuanya adalah perempuan. Akan tetapi mereka takut jika semakin melukai kaki Ibu yang memang sudah luka. Akhirnya sayalah yang memandikan Ibu. Tak tega juga melihat mereka memandikan Ibu yang kakinya masih mengeluarkan nanah dan darah walau hanya sedikit. Barangkali saja mereka juga merasa jijik.

Perlahan saya mengguyur Ibu dari ujung kepala sampai kaki. Memastikan benar-benar basah sempurna. Tatkala sampai di kaki Ibu yang luka, saya usap dan bersihkan nanah dan darah secara pelan-pelan. Ibu sudah benar-benar tak mengeluh lagi meski kakinya yang luka menganga dan berlubang begitu dalam, bahkan hampir terlihat tulangnya.

Ibu wangi oleh bunga-bunga. Sudah tidak bau obat, nanah, maupun darah. Ini terakhir kalinya saya memandikan Ibu setelah dini hari tadi ia tak bangun lagi untuk selamanya. Ini pula menjadi keinginan Ibu yang pungkasan setelah merasakan sakit luka di kaki selama dua tahun lebih tiga bulan.

Ibu sudah tak melihat dan mencium obat lagi. Juga tak lagi merasakn ngilu. Dan yang terpenting Ibu tak kehilangan kaki setelah kehilangan dua jari. Ini menjadi keinginanmu yang terakhir juga, ingat saya di rumahsakit sepekan lalu.

Karya : Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

Karib disapa Jeng Kanya, di samping bekerja sebagai penulis cerpen dan novel, ia juga peneliti dalam bidang seni film dan kini menjadi tim redaksi situsweb monoskrin.com.