Di sudut kota itu kita petik gitar bersama
Dengan lagu kerinduan yang sederhana
Yang perlahan menghanyutkan jiwa ini
Yang terasa pilu dalam kehidupan ini

Di sudut kota itu kita saling bertukar pikiran
Ditemani dengan hangatnya segelas orang tua
Dan kerasnya kacang yang lupa akan kulitnya
Serta juga ditemani selinting bunga aroma duka
Hingga kita lupa kalau kita sedang diselimuti duka yang sudah-sudah

Januari 2021


Minggu Pagi

Bangun pagi hari ditemani secangkir jahe merah panas
Yang terlintas dalam benak untuk kembali tidur
Tapi, itu hanya terlintas
Lalu duduk di samping kasur sambil menyalakan radio pagi
Tapi, masih terlalu pagi kasihan tetangga sebelah,cukup berisik
Suara radio kuperkecil lagi
“Selamat Pagi, Semangat Pagi”

Menikmati pagi di pagi hari
Membuka HP yang terletak di samping bantal
Lalu coba membuka media sosial barangkali dapat hadiah
Kemudian yang terlihat di halaman depan status medsos teman-teman
Teman-teman kristiani dengan foto di gereja dengan kata-kata mutiara kekinian
Cukup teduh melihat itu, Minggu pagi
Terlintas memikirkan untuk aktivitas hari ini
Nonton film ? Olahraga ? Kuliner atau jalan-jalan ?

Minggu pagi, aku lupa kalau masih punya tanggung jawab
Pekerja upah harian yang mustahil untuk libur di hari minggu
Bergegas bangun, buka pintu kamar mandi berharap-harap untuk air dapat bersahabat
Berak tidak lupa masuk jadwal kamar mandi
Pikirku minggu adalah membuat kotoran jadi daging
Ternyata, ke tempat yang seharusnya
Persiapkan, barangkali minggu depan bisa menikmati minggu
Minggu pagi.

Minggu, 17 Januari 2021


Tanah Kita

Jangan bungkam untuk memahami sejarah dan memaknai budaya kita
Jangan tutup telingga untuk mendengar sejarah
Jangan tutup mata untuk melihat budaya
Keduanya seperti bibir yang saling kecup mesra bersanding

Kapan kita berpihak dengan tanah kita sendiri
Sarip Tambak Oso dan Ibunya’pun memakan tanah merahnya,
Tanah yang subur di Sidoarjo yang menjadikan mereka tangguh
Hampir seribu percobaan pembunuhan kepada Sarip
Lawannya orang tanah kita sendiri juga
Di Paidi, Antek negara penjajah

Kita sekarang sedang ditelanjangi oleh sejarah yang tanda tanya
Kita sekarang sedang dihujani oleh budaya luar yang masuk
Sampai-sampai kita tidak tau mana antek sebenarnya
Yang berkeliaran di tanah kita

Kita boleh telanjang dada, kita boleh dihujani
Ditempat yang semestisnya
Dan sambil menghitung interval hujan yang turun di tanah ini

Jadikan tanah kita jadi sorot budaya
Dan jadikan tanah kita jadi literasi sejarah

2021


Antah Berantah Kelaparan

Apa yang sebenarnya kita perebutkan
Banyak keinginan kosong, yang sepertinya kita dituntut oleh keinginan orang lain
Keinginan untuk perut ini bernyanyi merdu

Bunyi-bunyian yang dihasilkan radio channel sendok garpu
Menghasilkan gemuruh merdu memang
Tapi, Bagi mereka yang tiap malam ditemani oleh segelas orang tua

Kita memang tidak sedang lapar
Perut ini hanya berbunyi mengeksplorasikan bunyi

Antah berantah kelaparan
Membuka hari dengan berlari mengejar makanan
Kau sembunyikan dimana?
Nampan tertutup lalu terbuka yang kosong?
Kau sembunyikan dimana?
Dalam lemari baju’mu beserta lauk pauk warna-warni?

Minta sedikit, sesendok, sesuap, dan seteguk
Biar itu dapat jadi cerita di dalam tubuh ini
Katanya setiap hidup harus menghidupi
Syukurnya, itu hanya katanya,
Tapi, kita lihat kenyataannya

2021


Waktu Penuh Kekosongan

Selamat memulai penerus zaman
Yang duduk di depan layar seribu warna

Kosong waktumu sekarang sudah penuh
Apakah mau untuk kau kosongkan lagi ?
Dan untuk dipenuhi dengan kekosongan lagi
Seperti itu siklusnya yang terus berulang-ulang

Pinjami waktu sebentar untuk berjalan
Untuk mengisi kekosongan dengan kesibukan yang sibuk
Sibuk berhadapan dengan layar untuk ikuti eksistensi sekarang
Sibuk untuk bergoyang pamer diri di depan layar
Sibuk jadi artis penuh sensasi tanpa prestasi
Sibukkan waktu’mu, dengan kekosongan yang penuh
Biar kelak di isi lagi dengan ketidakpahaman waktu kosong yang penuh

Biarkan juga kita mengerti bahwa waktu dapat mengerti
Bukan mengerti bahwa waktu tidak mengerti kita
Karena waktu akan lebih mengerti
Hanya kita saja yang kurang mengerti waktu

2021

Karya : Satrio Bogie Syamsudin

Lahir di Pasuruan, 9 Februari 1998. Tinggal di Ngingas Barat, Krian, Sidoarjo. Lulusan SMK Negeri 12 Surabaya, Jurusan Seni Karawitan. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa.