Dalam pagar hitam rumah, aku selalu dibiarkan tanpa teman. Aku seolah-olah adalah ancaman. Ancaman bagi siapa saja yg ada didekatku. Kalaupun ada teman, itu adalah kakak kandungku.

Maka pagar hitam rumah adalah kerangkeng bagi keliaran tubuhku, biar tidak mengganggu teman yg lain.

Aku tidak pernah diajari untuk memukul teman. Aku tidak pernah diajari untuk menyemburkan ludah ke muka, ke tubuh teman sebaya atau usianya dibawahku. Tetapi percayalah, aku hanya tahu satu ungkapan kasih sayang; memukul dan meludah.

Memang terkesan aneh. Takheran banyak orang tua teman sebayaku. Orang tua teman berusia di bawahku, langsung menyeret atau menggendongnya, jika melihat aku lepas dari pintu pagar hitam rumah, berkeliaran sendiri.

Aku mengerti, sebenarnya mereka nenyayangiku juga. Mereka hanya ingin anaknya tidak tersakiti. Jauh dari terorku. Padahal aku sangat sayang pada kalian . Kalian semua.

***

“Ayah….!” Kata itu, yang sampai saat ini paling akrab di mulutku. Sungguh tidak ada yang mengajariku untuk mengucapkannya. Hingga siapapun, orang yang lewat

didepanku, langsung mulutku asyik memanggilnya, “Ayah… Ayah…”

Ya, Ayah, mungkin sosok yang paling melekat dihatiku. Sosok yang bagiku sendiri, aku tidak tahu dan tidak mengerti bagaimana menggambarkannya.

Memang aku mempunyai sosok lelaki besar, yang juga kupanggil Ayah. Dia memang sangat sayang padaku. Meskipun aku taktahu seberapa besar sayangnya padaku.

Aku sering ditinggal sendiri, dalam pagar hitam rumah, meski aku menjerit-jerit dan menangis takkaruan, Dia, lelaki yang kupanggil Ayah, tetap beranjak meninggalkanku.

“Diam, jangan nenangis, Ayah berangkat kerja!” Kata orang-orang diluar pagar hitam berusaha menenangku.

“Ayah…!” Tangisku Makin menjadi saat ada yang menghentikan motor didepanku. Sosok yg rapi dan wangi. Rambut dan kepalanya tertutup¬† kain. Aku hanya tahu panjang rambutnya, saat Dia di rumah.

“Ayah…!” Aku merajuk menggedor-gedor pagar hitam rumah.

“Ibu!, I….bu! Sosok itu bersuara lantang dan menghardikku.

“Oyah ayah.. oyah ayah… !, Sudah diam, Ayahmu wis minggat!” Sosok dengan rambut tertutup kain itu, lalu membuka pagar hitam rumah.

“Minggir…! Ayo minggir…!”

Pagar hitam rumah kembali ditutup. Sosok itu masuk rumah.

“Sudah diam…!” Lalu sambil ngomel dengan setengah teriak dia berkata ,”Sebentar… Sebentar… takambilkan makan !”

***

“Tolong…tolong… !” Kampung geger, suara minta tolong dan teriakan saling bersautan.

“Kamu tukang selingkuh….!” Cairan merah bertetesan dari jari tangan perempuan. Cairan merah menetes dari punggung lelaki.

Aku lihat semuanya di depan mataku. Aku tidak menangis. Aku melihat tangan mengoyak punggung. Aku mendengar teriakan dan tangisan. Selebihnya kelebatan sosok dengan cairan merah di punggung, meraih dan memakai kaos dengan cepat-cepat. Suara bantingan pintu. Pintupun tertutup.

“Permisi…!” Aku mengintip dari kaca, beberapa sosok orang membuka pagar rumah hitam. Masuk.

Cairan merah masih menetes. Aku lihat, juga tangisan belum mereda.

Pintu di buka beberapa sosok ,”Permisi, ini ada apa? Seperti…?”

“Tidak ada apa-apa…!” Dia menjawab dengan muka tertunduk tanpa hirau. Tanpa berhadapan.

***

“Ini anak kesayangan!” Aku diangkat ke udara. Tubuhku yang melar bukan halangan untuk terbang.

“Ayah…Ayah…!” Bumi berputar. Angin memusar.

“Ayah…Ayah…!”

Hampir tiap hari aku menikmatinya. Di udara, seperti terbang dalam genggaman tangan sang sosok yang kupanggil Ayah.

“Kesayangan, kesayangan…kesayangan kok hanya seperti itu?!” Suara perempuan itu meluncur deras seperti mengaduk, merusak suasana.

“Ayah…Ayah…!”

***

Dari dalam pagar hitam rumah, tiap hari aku hanya memandang. Memandang teman. Memandang sosok.

Pukulan dan omelan hanya membuatku menangis. Dan percayalah memukul dan meludah, hanya itu yg ada dalam pikiranku. Pikiran sayang yg sampai detik ini, masih kauanggap ancaman. Teror.

“Ayah…Ayah…!”

Banyuwangi, 2020

Karya : Muhammad Aris

Lahir di Lamongan, 19 Agustus 1975. Anggota tetap Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai, tersiar pada beberapa media dan antologi bersama. Juga menulis gurit (puisi jawa), tersiar pada beberapa media berbahasa jawa. Bersama W Haryanto, Indra Tjahyadi, dan Mashuri; Muhammad Aris merupakan salah satu eksponen puisi gelap di Surabaya.