Matahari telah lebih dulu pergi
Ketika aku sampai di rumahmu
Lampu kota telah nyala
Dan warung kopi telah buka

Aku menunggu sedikit lama
Sambil sesekali melihat hape jadul
Yang mulai malas menangkap sinyal
Kamu akhirnya membalas smsku

Aku menunggumu di warung kopi dengan penjual seksi depan pasar baru
Ok, aku akan menyusulmu, jawabmu dengan banyak tanda seru
Aku menunggumu sambil menikmati kopi susu
Penjual itu melirikku, aku tertunduk malu

Kamu datang setelah setengah jam berlalu
Aku bayar kopi segelas dengan uang lima ribu
Kupikir itu dua kali lebih mahal dari kopi biasa
Mungkin kopi yang dijualnya lebih manis dari hidupnya, pikirku

Matahari lebih dulu pergi
Ketika aku sampai ke rumahmu
Namun gerahnya masih terasa
Menempel di kaos, jaket dan helmku

Aku berbegas ke kamar mandi
Membersihkan debu dan rindu
Selesai mandi hujan bulan juni turun lagi
Kali ini meneteskan kenangan
dan membasahi bunga bugenvil di pekarangan


Ziarah

1
Langkah kaki menaiki tangga
Satu demi satu keringat meluncur seperti gerimis
Di tengah jalan pengemis duduk menaikkan tangan
dengan membawa gelas bekas air mineral
Seolah memelihara keputusasaan

Rintihan sambutan pada peziarah
Agar tahu arah kemana harus melangkah
Dan menolehkan wajah
Ke pencari rupiah, dengan hanya bisa menadah

Ada yang muda, setengah baya, tua. Ada yang cacat ada yang sehat
Merintih kepada setiap peziarah; hidup barangkali hanya menunggumu
Dengan wajah paling sedih sedunia membuat siapa saja kasihan
Lalu menumpahkan uang recehan; membuang uang kecil berharap pahala besar

2
Di makam aku berdoa setelah gagal
Meneteskan airmata; Tuhan, aku mohon ampun
Karena lupa bawa recehan
Di makam berdesakan orang
Saling membaca tahlil dengan suara lantang
aku masih diam duduk bersila
Sambil sesekali melihat letak sandal
Siapa tahu ia jalan sendiri karena terlalu lama kutinggal


Ziarah II

/I/
Aku tidak langsung masuk ke makam
Warung kopi di depannya lebih menggoda
Aku duduk dan memesan secangkir kopi
Sekadar menghalau kantuk yang sudah mengintip di mata

Panas begitu terasa
Menembus sela-sela baju yang sudah basah
Menggumpal membentuk aroma tak bernama
Corong yang mengeluarkan asap di belakang kuburan membuat batuk
Ah, kota ini sudah tak mau bersahabat dengan dada

Mataku tertuju pada tulisan di pintu gerbang: mintalah pada Allah
Ya, hanya pada-Nya segala permintaan dialamatkan
Agar tak menjadi persekutuan
Namun aku malu berdoa dan meminta
Sedang berjuta nikmat masih lupa kusyukuri
Sedang berjuta keinginan minta dipenuhi

Aku masih menikmati kopi hitam manis
Sambil sesekali melirik temanku yang sedang asyik selfi
Hidup kadang pahit, kawan
Namun kita selalu punya cara untuk menikmati manisnya

/II/
Siapa yang berbaring di bawah sana
Damai seperti tak ada masalah
Tak butuh makan, kopi atau rokok
Ataukah mereka sedang menikmati indahnya bidadari
Yang dijanjikan kepada orang-orang suci
Yang dosanya lebih ringan dari sebutir kuaci

Aku berdiri, melangkah masuk melewati gerbang
Menuju ke makam panjang
Siapakah yang terbaring di bawah sana?

Asap semakin membuat sesak, udara panas
Dan angin tak mampu meredam
Keringatku menggumpal menjadi hujan
Yang turun dari kedua mata
Hingga membasahi seluruh raga


Senja di Pelabuhan Gresik

-Suatu hari ketika bulan terlihat kembung-

Aku akan tetap menunggumu
Di pinggir pelabuhan ini
Menunggumu sambil memandang para kuli menaikturunkan barang
Para nelayan yang menyandarkan perahu
Kapal barang yang akan berlayar
Dan sampah-sampah berserakan di air hitam

Kau tak tahu bagaimana menahan rindu yang semakin erat
Memeluk seperti tali kapal pada pelabuhan saat bersandar

Rindu telah menumpuk
Membukit
Sakit

Kau tak tahu bagaimana rasanya menanggung rindu
Yang tak kunjung temu
Yang semakin semu
Yang semakin ragu

Angin bercampur aroma asin
Senja yang tak lagi bewarna indah
Sebab asap mengahalangnya

Aku duduk sambil memandang para kuli angkut
Yang pulang dengan membawa sisa debu dan oli di tubuh

Kustater sepeda motor
Sebab malam akan jatuh
Dan pecah menyebarkan tinta hitam
Aku takut kau tak melihatku

Bulan tenggelam di ujung laut
Tubuhnya terlihat kembung
Lampu kota menyala
Namun kamu tak juga ada


Mengunjungi Kotamu

Sesekali kulirik jam tangan
Yang masih menyimpan kenangan
Beberapa detik lalu
Saat kau masih rindu
Pada aku yang sudah kau jadikan masa lalu

Aku kembali ke kotamu
Yang masih setia mengirimkan
Asap membumbung dari corong pabrik di tengah kota,
Yang membuatku batuk dan menutup mata

Kuingat ke mana arah jalan sampai ke rumahmu
Yang rumit di antara gang sempit
Yang tergencet industri
Yang tak ramah dan suka marah

Beberapa kali kutersesat
Pada jalan itu-itu saja
Seharusnya kubelok kanan
Namun entah kenapa sepeda motor
Ingin belok ke kiri
Ke kanan ke kiri lagi
Hingga aku menemukan kenangan
Yang sudah mulai membusuk
Di sudut gang dekat tempat sampah


Aku Berlari Sendiri

Kutemui kau malam itu
Dengan sedikit cerita
Dengan sedikit kabar derita
Aku menatap matamu yang mulai basah
Kau begitu resah
Entah kenapa, pucat wajahmu
Dingin kulitmu, gelombang rambutmu
Dan segala bau yang keluar dari tubuhmu
Seolah muncul dari ribuan keringat lelaki
Yang datang setiap malam
Termasuk aku

Aku ingin mengajakmu lari menembus malam
Seperti serigala berburu mangsa
Hingga ke sebuah bukit
Di mana rembulan tampak lebih besar
Dan kita mengaum bersama
Merayakan apa yang perlu dirayakan

Sebelum kulanjutkan cerita kau lebih dulu menangis
Meski tanpa suara dan airmata
Aku lihat wajahmu lebih pucat dari mayat
Namun aku tegar dan menatapnya lebih dalam
Aku berlari sendiri
Menembus malam
Melupakanmu
Membakar bayangmu dengan asap rokok

Aku terus berlari
Seperti serigala berburu mangsa
Terus berlari
Tanpa tujuan
Tanpa harapan

Karya : Thoni Mukarrom I.A.

Penulis lahir pada 15 Agustus di Tuban, Jawa Timur. Beberapa tulisanya sempat diumumkan media lokal dan nasional (Akbar, Surabaya Post, Jawa Pos, Radar Bojonegoro, Warta Tuban, Sumut Pos, Bali Post, Majalah Sagang, Buletin Jejak, dll), beberapa antologi; antologi penyair bulan purnama Mojokerto (2010), Sehelai Waktu (2011), Bulan Kebabian (2011), puisi untuk kota padangku tercinta (2011), antologi pelajar Mimpi Kecil (2011), antologi puisi untuk Palestina (2011). Cerpen Your Chemical Romance (Diva Press 2011), Antologi puisi dan cerpen lembaga Bhineka (2012), Kumpulan Cerpen tunggalnya Kisah Seekor Kupu-kupu (Shell-jagat tempurung 2012), dan lain-lain.