“Sebenarnya aku ingin percaya, Mas. Dan, sampai beberapa jam lalu, aku masih percaya,” katanya, tiba-tiba. Pelan saja, seperti orang berbisik. Tetapi, masih terdengar jelas ditelingaku. Karena aku duduk tak lebih dari sepuluh sentimeter di samping kanannya.

Ketika itu, mataku yang masih asik menatap layar smartphone dan jari-jari yang menari di layar sentuh segenggaman, kualihkan sejenak. Tepat setelah ia membisikkan kata-kata yang seolah untuk dirinya sendiri, atau tidak untuk siapa-siapa tadi. Aku menoleh ke arahnya.

Dengan mata yang secara otomatis membuka lebar, seolah meminta penjelasan, aku melihat sesosok lelaki yang sedang duduk memeluk lutut. Dagunya menempel di puncak lutut. Di sela pertemuan kedua kaki. Ekspresinya membingungkan. Tidak cerah, pun tidak suram. Menampakkan mata yang menerawang.

Kulitnya yang sawo matang nampak makin matang. Mungkin karena ia belum mandi sedari kemarin siang, atau mungkin, kesedihan berpengaruh pada warna kulit, sehingga bisa merubahnya menjadi makin gelap, atau terliat jemburis. Aku tak tahu mana yang lebih tepat.

Dua detik saja aku melihatnya. Membelalakkan mata, menilai ekspresinya. Tak juga berubah. Maka, bisa kuartikan, perang perasaan yang terjadi di dalam dirinya, masih belum lagi usai. Ia tak menoleh ke arahku.

“Hmm,” jawabku. Meminta penjelasan mengenai apa yang ia katakan. Pelan, saja. Seolah juga membisik, atau hanya menimpali sekadarnya. Terkesan malas.

Mataku, kembali menatap layar. Membaca ulang pesan yang belum selesai kutuliskan. Menata kembali pikiran, mencari tempat berpijak untuk melanjutkan percakapan yang sempat tertunda di Whatsapp.

Aku sudah terlalu banyak mengoceh untuknya, tadi pagi. Menambah keruh pikirannya karena sampah-sampahku. Aku tak peduli.

“Aku punya seorang Ibu yang hebat, Mas. Aku mengaguminya,” katanya. Sekarang, dengan suara yang lebih keras. Cukup untuk didengarkan berdua. Menjaga percakapan agar tetap milik berdua. Membatasi dua orang lain yang sedang tiduran di sekitar kami.

Tetapi, itu pun bukan jawaban atau penjelasan. Malah menambah ketidakjelasan arah permbicaraan. Baru saja, ia mengatakan ingin percaya terhadap sesuatu yang beberapa jam sebelumnya masih ia percayai. Belum lagi ia jelaskan apa hal yang mulai tak ia perayai itu, ia malah berkisah punya ibu yang hebat. Ibu yang ia kagumi.

Ingin rasanya aku katakan padanya, tanyakan pada seluruh manusia di dunia tentang ibu mereka. Maka, Sembilan puluh persen akan memberikan pernyataan seperti yang kau katakan barusan. Bahkan, Nabi dan Rasul yang sama-sama kita agungkan pun, menekankan betapa penting, berharga dan hebatnya sosok ibu. Jika tidak, Beliau pasti tak akan meminta para umatnya menghormati ibu tiga kali lipat dari Bapak, atau mempercayakan surga di telapak kakinya.

Atau, jika kau mengenal Frank Lampard, misalnya, kau juga akan tahu, betapa penting dan hebatnya sosok ibu bagi legenda hidup sepakbola Inggris yang juga menjadi gelandang tengah tersubur ini. Alih-alih dekat dengan Ayahnya, yang pernah menjadi pemain bintang sepakbola di masanya, Lampard, begitu ia biasa disapa, lebih dekat dengan sosok Ibu. Ia pun menyatakan bahwa pengaruh terbesar dalam karir sepakbolanya datang dari Ibu, bukan Ayah.

Itu hanya sedikit contoh saja. Dan, diantara sepuluh persen yang tidak mengatakan bahwa Ibunya adalah orang terhebat yang pernah ia temui, aku masuk di dalamnya. Atau setidaknya untuk saat ini. Meski, pelan tapi pasti, aku mulai merevisinya. Jangan tanya kenapa. Karena ini cerita tentangmu, bukan aku.

Tetapi akhirnya, semua kata-kata yang panjang serupa ceramah itu, tak juga keluar dari pita suaraku. Aku hanya diam. Menyelesaikan pesan Whatsapp-ku yang tinggal beberapa kata, mengirimnya, kemudian mengunci smartphone. Meletakkannya di lantai di samping kanan tempatku duduk, dan menatap lelaki itu lebih serius.

Entah untuk apa. Entah ada apa.

Setelah aku menatapnya, ia masih memasang wajah yang menerawang. Ekspresi lusuh dan jemburis-nya masih bertahan. Tak tereduksi sedikitpun, meski matahari sudah makin tinggi dan memberikan sinar yang cukup terik. Belum lagi menoleh padaku.

Ketika ia akhirnya menoleh, ekspresi yang ia tunjukkan makin tak keruan. Bibirnya bergetar, dengan garis yang menungging ke bawah. Kulit mukanya seolah tertarik karung beras, membuatnya nampak lesu dan lusuh. Penuh beban.

“Ibuku wanita hebat,” ia mengulanginya lagi. “Dulu ia pernah merantau ke Arab Saudi. Delapan tahun. Bukan karena tidak menerima hidup sederhada bersama Bapak. Tetapi, empat adiknya yang masih sekolah perlu dibiayai. Ia anak pertama, dan ia yang menanggungnya. Sampai sarjana semuanya,”

Ia berhenti dengan nada yang mengambang. Mendengarkan cerita itu, aku masih belum bisa memahami ke arah mana percakapan ini. Aku hanya diam, menunggunya melepas gantungan nada yang baru saja ia sematkan. Dan memang, kemudian ia melanjutkan.

“Setelah adik-adiknya selesai sekolah, satu per satu dapat kerja dan menikah, ia pulang. Membawa modal secukupnya untuk bertani. Kami tak punya sawah yang luas. Maka harus menyewa tanah. Meski begitu, ia tak pernah merasa lebih berjasa atau lebih berkuasa dari suaminya. Bapakku. Ia kembali menjadi istri seperti sedia kala. Menurut pada suami, dan tak pernah menuntut. Ia juga teman diskusi yang baik. Tak pernah membentak atau sok pintar, meski kadang sering benar,”

Semakin cerita itu kuikuti, semakin aku tersesat. Seolah menjauh dari pernyataan awal yang ia ungkapkan tadi. Aku ingin menyelanya. Menuntutnya langsung menuju ke pokok permasalahan semula, yang aku pun tak tahu apa. Tetapi tak jadi. Aku hanya menarik nafas sedikit lebih panjang, menenangkan gejolak dan gerutuan yang mulai lahir berlompatan di pikiran.

“Orang yang punya masalah, hanya butuh didengarkan,” kataku dalam hati. Kata yang terus menerus kuulangi untuk meyakinkan diriku sendiri.

“Ia wanita hebat, Mas. Banyak yang bicara dibelakangnya. Menyesalkan pilihannya menikah dengan Bapakku. Lelaki biasa dari keluarga sederhana. Padahal, dulu ia kembang desa. Banyak pemuda kaya dan lebih ganteng dari Bapakku. Tetapi, ia tak berpaling dari pilihannya.”

“Suatu kali, Ibu pernah menceritakan alasannya padaku. Kenapa ia tak mendengarkan ocehan banyak orang dan memilih bertahan dengan apa yang telah ia pilih. Mereka, Bapak dan Ibuku, tidak pernah berpacaran. Mereka dijodohkan, Mas. Tetapi, Ibu katakan padaku, ‘ketika wanita sudah memberikan hatinya pada seorang laki-laki, maka tak ada apapun yang bisa menggoyahkannya. Dan, jika nanti ada seorang wanita yang sudah memberikan hatinya untukmu, maka jangan pernah khawatir atau ragu pada kesetiaannya. Karena ia sudah menjadi milikmu’. Begitu katanya padaku, Mas”.

Ia kemudian berhenti agak lama. Aku tak menyanggah atau mengomentarinya. Hanya mengingat semua yang ia katakan.

“Ia mengatakan itu ketika libur semester gasal pertamaku kuliah. Ketika itu kami sedang bersantai di dapur. Atau tepatnya, aku yang bersantai, Ibuku memasak, bapak dan adik laki-lakiku menggarap sawah. Sejak saat itu, Mas. Meski baru sekali aku menjalin hubungan dengan perempuan, sejak saat itu, aku percaya dengan apa yang ibuku katakana. Bahwa, wanita yang sudah memberikan hatinya, tak akan pernah berpaling. Aku terus percaya, sampai beberapa jam yang lalu,”

Dalam hati, aku pun mempercayai apa yang Ibumu katakan. Aku meyakininya. Tapi tak kuucapkan padamu. Aku masih diam. Tak menanggapi, tak menyela. Dalam diam, tanganku kuulurkan. Kutepuk pundak kanannya dengan tangan kiriku. Tiga kali tepukan. “Hanya karena satu perempuan telah meninggalkanmu, jangan kau gadaikan kepercayaan pada Ibumu itu. Hidup, sebagaimana hubungan manusia, dibangun dari kegagalan demi kegagalan”.

Ia kembali bersandar di diding, di bawah jendela. Memeluk lagi lututnya. Kini lebih erat. Punggungnya bergetar hebat. Meski tak nampak, derai air mata deras mengalir, seiring dengan sesenggukan yang terus mengencang. Kemudian, tertahan dalam diam karena terlalu berat untuk ditanggung suarakan.

Aku memungut smartphone-ku, memegangnya dengan tangan kanan. Tangan kiri kugunakan untuk meraih seonggok kertas yang tergeletak ditengah ruangan. Bersanding plastik bening yang kemarin sempat membungkusnya. Ia sudah disitu semalaman, dan sampai siang ini.

Kufoto halaman depannya. Mengirimkannya pada kawan berpesanku di Whatsapp. Membubuhinya sebuah tulisan;

“Kertas ini datang dengan sopan. Membawa kabar gembira, mengundang ritual yang akan dikenang untuk selamanya, memohon setangkup doa. Tetapi, bagi sebagian kecil orang, ia menjadi penanda luka. Sama-sama tak akan terlupa untuk selamanya, hanya dalam cara yang berbeda. Inilah undangan pernikahan”.

Oleh : Fathur M Rohman
Cerpenis dan pegiat literasi asal Kediri. Lahir Februari 1994 lalu dan sekarang tinggal di Surabaya