Datang tak diundang, pulang tak diantar. Tiba-tiba datang, pergi tak ada kabar. Entah kenapa dari segala cara yang ada, kau selalu memilih cara yang sama. Begitu, berulang-ulang. Tak pernah bisa kumengerti. Suatu kali, bisa begitu dekat dan bersahabat. Memberikan rasa nyaman, menghidupkan pijar-pijar harapan, tetapi di kali yang lain, menjadi misterius dan menakutkan, tak jarang berujung amarah, walau hanya dalam diam dan diakhiri dengan tangis.

”Aku akan ke Surabaya siang ini. Mau menemaniku?”

Sebuah pesan singkat masuk, darimu. Tanpa salam tanpa basa-basi. Riwayat pesan sebelumnya, yang muncul di atas pesan itu, berwarsa lebih dari satu tahun lalu. Tak ada pesan yang lebih muda, sebagaimana tak lagi pernah ada kabar dari si pengirim semenjak itu. Lini masa pun seolah tak lagi pernah tersentuh semenjak sepuluh bulan lalu.

“Boleh. Mau kemana?” akhirnya kujawab juga setelah perlu waktu lebih dari tiga puluh menit untuk bangun dari keterkejutan yang tiba-tiba. Lebih dua tahun, atau tepatnya, jika hitunganku tak keliru, sejak 28 bulan yang lalu, kau menghilang. Tak lagi pernah berkabar. Pesan singkat yang sesekali kukirim pun lebih sering tak berbalas.

“Gak tahu. Kau mau kemana?”

Belum selesai aku menenangkan diri, dari kehadiran seseorang yang tetiba hilang dan tetiba muncul kembali. Sekarang, ia kembali membuatku berfikir untuk hal yang tidak aku kuasai. Mungkin dia lupa, bahwa aku tak pandai berwisata, atau ia tak mengerti bahwa aku ini hanya menemani, bukan orang yang berkepentingan untuk kemana-mana. Ingin sekali kujawab aku mau tetap di kamar. Merebahkan diri di kasur sampai malam menjelang, sambil membaca buku, atau menonton film, atau hanya diam menerawang langit-langit.

“Aku punya rencana ingin ke toko buku,” akhirnya kata-kata itu yang tertulis dan kukirimkan.

“Ok. Bagus juga. Kebetulan aku sedang membutuhkan beberapa buku. Setengah jam lagi aku sampai. Bertemu di mana?”

Bagaimana jika kau kebetulan lelah dan ingin beristirahat saja? Bukankah, entah dari mana kau berangkat, perjalananmu cukup melelahkan. Terlebih ini hari Minggu. Angkutan dan Bus selalu penuh dan menyesakkan, bukan? Kenapa kau tak bilang saja kau lelah? Sehingga aku tak perlu kemana-mana dan hanya menemanimu beristirahat. Aku punya kamar yang cukup untuk dua orang, atau aku bisa menunggu di luar kamar jika kau ingin lebih santai.

“Kita ke toko buku yang ada di Royal Plaza saja. Sekalian bertemu di sana.” Bukan aku ingin bergaya dengan mengajaknya jalan-jalan di mall. Hanya saja, itu lokasi toko buku paling dekat dari tempat tinggalku. Dua puluh menit jalan kaki. Ada banyak ukuran lain, lima menit bersepeda motor dengan kecepatan 20 meter per jam, misalnya. Tetapi, karena aku juga tak punya kendaraan lain untuk memangkas waktu tempuh, jadi ukuran jalan kaki akan lebih sesuai.

“Great.”

Sangat bagus sekali, memang. Harus mengingat semua kenangan dan kisah yang kuharap sudah menguap itu. Tetapi hanya dengan satu pesan singkat yang kau kirimkan, kisah yang panjang seketika berlarian di kepalaku. Menghidupkan kenangan yang mati, menyesakkan hati. Sangat bagus sekali.

*

Baru saja kaki kananku melangkah ke jalan Ahmad Yani, ketika suara klakson tetiba meraung dengan kerasnya diiringi kata “JANCUK!” Keriuhan itu, berasal dari mobil carry 1.0 berwarna orange dengan strip biru melingkar di sampingnya, yang sedang digunakan sebagai angkutan umum antar kota atau angkot.

Tepat ketika aku melangkah untuk menyeberang ke Royal Plaza yang kini berjarak dua ruas jalan raya, angkot itu ternyata juga sedang memajukan moncongnya. Aku hanya bisa menatap kosong ke arah sopir yang melongokkan kepalanya dari pintu dengan mata melotot dan muka semerah tomat. Mungkin terpanggang terik matahari, mungkin terpanggang amarah. Entahlah.

“Aku di lantai dua.”

Sebuah pesan sigkat kembali masuk. Aku masih di seberang jalan. Mencari keberuntungan untuk bisa menyeberangi dua ruas jalan yang tak pernah sepi dari kendaraan beroda berapapun ini. Dan matahari begitu terik. Keringat mulai membasahi kausku yang terbungkus jaket.

“Kau masih lama?”

Kembali ia mengirim pesan singkat. Apakah ia sedang terserang rindu, sehingga merasa perlu keluar dari kedalaman gua persembunyian yang telah ia tempati dua tahun dan menemuiku? Atau aku hanya tak tahu cara apa yang harus aku gunakan untuk menyapanya, menemaninya, berbicara dengannya.

Keraguan demi keraguan mulai muncul. Dan begini yang selalu terjadi. Keraguan dan ribuan alasan yang muncul di tengah perjalanan. Hanya tinggal lima puluh meter lagi, tetapi langkah kaki juga semakin berat untuk dipijakkan ke depan. Timbul dorongan untuk berbalik badan, lari menyusuri jalan pulang. Dan mungkin, mengirimkan pesan padanya kalau aku tiba-tiba sakit kepala, atau tak menemukan celana, atau kuabaikan saja. Dan, baru dua jam kemudian kukirimi ia pesan dengan alasan ketiduran.

Tetapi toh, aku tak membalas pesan itu. Bahkan ketika aku akhirnya sudah masuk ke mall. Berjalan-jalan diantara ratusan atau ribuan orang. Sekadar menenangkan diri sendiri dari kegelisahan. Atau, aku yang tak siap setelah begitu lama tak lagi saling bertemu, berkabar.

Aku mungkin pengecut, yang selalu gugup ketika bertemu dengan kawan baru. Meski baru bukan kata yang tepat, karena seringnya berkabar dan bercanda di lini masa. Hanya saja, belum pernah bertatap muka. Maka kepengecutan itu, muncul tak ada bedanya ketika harus bertemu dengan seseorang yang sudah tak lagi pernah mucul selama dua tahun. Lebih-lebih karena menyimpan cukup banyak memori bersama. Kenangan yang cukup personal.

“Bertemu di depan toko buku. Lantai tiga,”

Pesannya kembali masuk. Aku menutupnya, memasukkan ponsel ke saku celana, mengambil nafas dalam, mengeluarkannya dan mulai mencari eskalator. Menuju lantai tiga.

“Hai. Kau baik?” dari salah satu sisi pintu, ia menyapaku. Dan akhirnya menanyakan kabar juga, pikirku.

“Baik” dan akan lebih baik jika…. Lanjutku dalam hati, dan aku tak tahu harus melanjutkan kata itu seperti apa.
Haruskah aku bersyukur dengan pertemuan ini, atau mengutukinya. Entah karena telah menghilang tanpa kabar, atau karena telah hadir kembali dengan tiba-tiba dan membawa luka juga cerita nostalgia, atau aku harus bersyukur karena akhirnya bisa bertemu kembali.

“Mau cari apa?”

Aku tak tahu. dan maukah kau memberi tahuku, baiknya aku mencari buku apa? Atau, kucari saja sejarah perjalananmu? Perjalanan seseorang yang hilang lebih dua tahun, dan kembali tanpa sebab. “Belum tahu. Aku hanya suka ke toko buku. Kalau ada yang bagus, beli. Jika uangnya cukup.”

Jika ketika itu aku sudah mengenal dan akrab dengan warung kopi, mungkin aku akan lebih suka mengajaknya ke sana. Tetapi ketika itu, aku belum lagi mengenal warkop. Bagiku, warkop masih sejenis kenaifan yang dipaksa untuk menjadi begitu filosofis. Serupa kenaifan yang selalu ia pelihara. Kenaifan yang membuatnya bisa muncul dan menghilang kapan saja, sesukanya, hadir dan pergi seolah tak meniggalkan apa-apa. Sedang orang lain, harus menanggung semua jejak dan kenangan yang ia tinggalkan, yang diukirnya, sendirian.

Meski kemudian hari, ketika aku sudah semakin akrab dengan warung kopi, aku pun ikut memperkosanya dengan filosofi-filosofiku sendiri.

Kau kemudian mengangkat bahu dan menyunggingkan senyum. Melirikkan mata ke arah toko. Memberi isayarat untuk masuk.

Di antara rak-rak buku itulah ceritamu kemudian turut mengalir bersama langkah-langkah. Menceritakan sebuah kisah ditengah lembaran kisah-kisah yang sudah diabadikan dan masih terbungkus plastik. Sejak kita tak bertemu lagi dua tahun lalu, kau hidup seperti biasa; belajar Bahasa jepang, berlatih karate, beberapa jam duduk di warnet demi berselancar di internet sekali waktu, atau menghabiskan waktu di rumah bersama adik perempuanmu.

Dan sejak delapan bulan lalu, kau mulai bekerja di salah satu perusahaan, ditempatkan di Pasuruan, sampai sekarang. Hari ini kau libur, dan sedang jalan-jalan bersama beberapa teman mengisi liburan.

Tentu saja, kau memisahkan diri dengan mereka, menemuiku seorang diri. Mengenakan pakaian gelap, seperti kisahmu yang gelap sebelum ini. Dan kukira, itu warnakesukaanmu dari dulu; berkaus gelap dengan lapisan hoodie tipis yang juga sama gelapnya. bekerudung biru gelap dan celana kain hitam.

Kisah itu berakhir seiring berakhirnya perjalanan menyusuri rak-rak berisi ribuan buku yang bermuara di meja kasir. Aku membeli satu buku novel kalsik. Kau memborong sekantung kresek penuh buku-buku persiapan masuk universitas.

“Aku mau mencoba lagi,” senyum yang memperlihatkan susunan gingsul itu mengembang lagi. Tentu dengan ribuan kisah masa lalu yang juga turut mengembang.

Aku hanya membalasnya dengan senyum. Membayar bukuku sendiri, dan menuju gerbang keluar. Dan mungkin, aku juga berharap pertemuan ini menjadi gerbang bagi kita berdua untuk bisa keluar. Entah kemana.

Perjalanan di took buku berakhir, pun pertemuan yang sudah tak menemukan tujuan ini. Kau bilang, temanmu sudah menunggu. Aku menganatarmu turun, menyeberangi dua ruas jalan Ahmad Yani untuk mencari bus untukmu kembali.

“Mereka bilang, sebaiknya aku kembali padamu.”

“Kau sendiri?”

“Aku..” kau diam sejenak. Kata-kata itu melayang di udara. Ketiga temanmu telah naik ke bus dan menunggumu dari balik pintu. Aku hanya berdiri di tepi aspal, berhadapan denganmu.

“Aku ingin.” Kau membisikkannya di teligaku, mengejanya pelan-pelan. Berlainan dengan kecepatanmu berlari memasuki bus seketika setelah kau megucapkannya. Diiringi senyum gingsulmu itu lagi. Meninggalkanku sendiri, lagi, lagi dan lagi. Aku masih terpaku di tepi jalan, di bawah terik matahari yang membuat tubuhku menguap. Keringat dingin karena ucapanmu dan keringat panas karena terik mentari menjadi satu memandikanku.

Setelah kau memutuskanku dua tahun lalu. Tanpa sebab yang pasti, menghilang tiba-tiba selama bertahun-tahun. Sekarang kau datang juga dengan tiba-tiba. Meminta untuk kembali. Mungkin kau lupa, aku mungkin dermaga yang bisa kau singgahi, tetapi hanya sedikit yang menetap. Lebih banyak yang datang hanya untuk pergi, kadang kembali, tak jarang menghilang.

Dermaga ini mungkin telah sepi. Tetapi, sebuah kapal telah singgah dan menetap ketika kau pergi. Memutuskan untuk selamanya tinggal. Menyisakan ruang untuk sandar, bukan menetap.

Oleh : Fathur M Rohman
Cerpenis dan pegiat literasi asal Kediri. Lahir Februari 1994 lalu dan sekarang tinggal di Surabaya