Menik dan Tedjo duduk dalam diam di beranda. Hening. Sepi. Sama-sama hanya mendengar suara semilir angin dan gemerisik ribut daun. Baru lima menit yang lalu keduanya terlibat adu mulut sama-sama mempertanyakan cinta.

Mempertanyakan seberapa besar sisa cinta yang masih ada. Bosan. Bosan dan bosan. Terus saja seperti itu. Beradu mulut tanpa ada titik temu. Ujung-ujungnya hanya mempertanyakan cinta. Memangnya ada apa dengan cinta. Ah cinta saja tak pernah bingung dan pusing mikirin mereka berdua. Mau tetap seperti itu ya sudah. Atau lebih baik pergi saja mencari korban-korban yang siap terperangkap dalam jatuh cinta.

Lantas hinggap dan menetap sesuka hati. Cinta memang yang paling berkuasa. Bisa datang dan pergi seenak-enaknya. Tanpa harus memikirkan yang ditinggal. Tanpa harus memusingkan yang patah hati. Tanpa harus meributkan yang depresi dan akhirnya bisa-bisa bunuh diri lantaran sakit hati karena cinta.

Seperti Menik dan Tedjo sore itu. Sama-sama duduk diam membisu. Rasanya tak ada lagi yang harus dipusingkan. Rasanya tak ada lagi yang harus dijaga-jaga. Hingga seperti sebuah porselen antik cina yang mahal harganya. Jangan sampai tergores, retak, apalagi pecah.

Tak ada lagi. Menik tampaknya sudah bosan dengan serbuan pertanyaan-pertanyaan Tedjo yang seperti hari-hari sebelumnya. Seperti kemarin. Kemarinnya lagi. Kemarin yang kemarinnya lagi dan seterusnya. Sama saja. Itu-itu saja. Dasar Tedjo tak kreatif bikin pertanyaan. Memangnya tak ada pertanyaan yang bisa bikin hati senang. Hati gembira membuncah-buncah dan menggelegak-gelegak seperti air mendidih diatas tungku yang begitu panas menyala-nyala apinya. Seperti ketika pertama kali mereka saling mengenal dan memutuskan untuk saling mencintai.

Atau barangkali Menik yang sudah terlalu enggan mendengar setiap kata yang mengalir begitu saja dari mulut Tedjo, yang seolah-olah tanpa dipikir. Mengalir saja dan tak pernah jelas akan bermuara kemana. Bosan. Menik sudah benar-benar bosan.

Tedjo menatap Menik dengan tatapan dalam. Tatapan yang penuh beribu-ribu tanya. Hingga berjubel-jubel tanya di kepala seperti hendak meledak saja.

“Menik, kamu masih mencintaiku, kan?”
“Sudah duapuluh tujuh kali kamu tanyakan pertanyaan yang sama sore ini”
“Aku tak pernah berhenti sampai kamu menjawabnya”
“Kamu ingin kepastian seperti apa”
“Seperti kepastian matahari untuk terus menyinari bumi. Seperti kepastian bunga-bunga yang selalu mekar di musim semi. Dan seperti kepastian panas dalam api, dingin dalam embun dan terang dalam cahaya”
“Jawabanmu selalu membosankan. Kepastian dalam benakmu tak pernah mengejutkan. Hanya rutinitas alam yang sama dari hari kehari. Aku ingin sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang akan membuat hidupku lebih bermakna”
“Katakan saja. Andai aku bisa melakukannya, akan kupenuhi semua permintaanmu”
“Aku ingin matahari tak usah terbit sehari saja. Atau barangkali tak perlu ada terang dalam cahaya. Barangkali dengan begitu hari bisa jadi lebih berbeda.”
Tedjo hanya terdiam.

Dan suasana sore itu kembali sepi. Hening. Dua manusia yang sama-sama mempertanyakan cinta itu diam. Tak tahu harus bagaimana menyikapi cinta di antara mereka. Menik dan Tedja, sama-sama bingung memahami arti cinta. Barangkali saja saat itu cinta justru sudah mulai enggan berada di antara mereka. Merayap pelan tapi pasti mulai beringsut entah kemana.

Mencari jalan untuk bisa lebih leluasa dan sedikit merdeka. Sebab diantara keduanya, cinta tak lagi bisa sedikit lega. Bahkan akhir-akhir ini lebih sering terasa menciut begitu saja. Kian menyusut hingga tak lagi bergelora bagai api membara. Menik dan Tedja tetap diam seribu bahasa. Tetap mencari makna dalam diam dan atas nama cinta. Oh cinta. Tetap saja disini. Jangan pernah ada keinginan untuk pergi. Tapi cinta tak kenal kompromi. Dia bisa saja datang dan pergi sesuka hati. Sore bergerak menjadi senja. Senja mulai bergerak menjadi malam. Malam mulai beranjak semakin kelam. Menik dan Tedja tetap tak bergeming dalam diam. Sepi……

Menik merona-rona wajahnya. Meski dalam gelap, wajahnya tetap saja merona-rona. Hatinya berbunga-bunga seperti bunga yang bermekaran di taman. Malam jadi semakin berwarna. Tak melulu hitam, suram, dan kelam. Menik jadi begitu menyukai malam. Malam-malam ketika dia bertemu dengan si Anu. Malam-malam ketika dia bercanda tawa dengan si Anu. Anu yang mempesona meski tak jelas raut mukanya.

Anu yang begitu menawan dan rupawan meski dalam malam berawan. Anu begitu luar biasa melenyapkan kebosanan. Kebosanan dan kejenuhan Menik atas sikap Tedja yang selalu menuntut kepastian. Anu tak pernah meminta kepastian Menik. Anu tak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membosankan seperti pertanyaan-pertanyaan Tedja. Anu bisa membuat hari-hari bergulir tanpa kepastian. Selalu menyenangkan dan penuh kejutan. Kadang juga tantangan bahkan tak jarang pula menggairahkan. Meski Menik harus selalu bertemu dengan Anu dalam kegelapan, namun Menik tak pernah mempersoalkan itu. Karena sejak awal bertemu, mereka berdua sudah membuat kesepakatan untuk bertemu dalam kegelapan. Dalam malam-malam yang gelap tanpa setitikpun cahaya menerangi.

Seperti lagu-lagu cinta saat ini. Kekasih gelapku..oohh kekasih gelapku. Menik pernah sekali mendengar lagu itu dinyanyikan sebuah grup band idola remaja. Dan seketika itu, ia langsung suka. Begitu mengingatkan dirinya pada si Anu. Sejak itu Menik selalu mencoba cara apapun demi bisa mendengarkan bait-bait lagu kekasih gelapku. Yang begitu membangkitkan bayangan si Anu dalam benaknya. Dalam kegelapan. Dalam hati yang membuncah bahagia dan detak jantung tak karuan penuh pesona. Menik mulai menjelajah berbagai stasiun radio, mengirimkan pesan singkat, menelepon, memohon agar lagu kesayangannya diputar. Hingga membeli kepingan kaset dan compact disc dengan isi yang sama. Lagu kekasih gelapku…oohh kekasih gelapku.

“Jadi, siapa kekasih gelapmu itu?”
“Siapa?”
“Ya, siapa nama kekasih gelapmu itu?”
“Kamu yakin aku punya kekasih gelap?”
“Yakin. Seyakin aku menanyakan namanya ke kamu”
“Atas dasar apa keyakinan kamu? Memangnya kamu punya bukti kalau aku punya kekasih gelap? Kekasih gelap itu apa juga aku nggak ngerti”
“Kekasih gelap itu selingkuhan”
“Maksudmu aku berselingkuh dengan orang lain?”
“Ya. Kamu selingkuh. Sudahlah, Menik. Tinggal jawab ya atau tidak. Itu saja. Apa susahnya”

Menik menarik nafas panjang. Sore tak pernah menarik bagi Menik. Senja tak pernah indah dalam kamus benaknya. Selalu berisi detik-detik membosankan bersama Tedja. Selalu penuh dengan serbuan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah jelas arahnya. Tuduhan-tuduhan tanpa fakta yang tak perlu dibantah oleh Menik. Menik bosan. Kalaupun ia harus mengakui pertemuan-pertemuannya dengan Anu, tak ada yang istimewa. Anu bukanlah kekasihnya. Anu tak pernah mengatakan itu. Anu dan Menik tak pernah membahas hal itu.

Tak penah bicara tentang kepastian. Tak pernah bicara tentang masa depan dan perubahan. Hanya pertemuan-pertemuan dalam kegelapan yang mungkin saja akan sama membosankan. Seperti apa yang dialami Menik bersama Tedja. Ia melirik separuh ke arah Tedja. Dan separuhnya lagi ke arah bayangan matahari di tembok beranda. Cepatlah pergi. Hingga aku bisa segera bertemu malam. Hingga aku bisa segera menepis kejenuhan. Menik melangkah pergi meninggalkan Tedja.

Menik dan Anu terdiam dalam gelap. Sepi dan sunyi. Hanya mereka berdua dan derik suara jangkrik di kejauhan.Bulan begitu jauh diantara kelam langit malam. Bintang tak satupun menyembulkan diri. Bulan sendiri. Angin sesekali meniup lembut lapisan kulit ari. Menyentuh pelan seperti usapan lembut tangan Ibu. Mereka tetap terdiam. Tak biasanya suasana kelam menyertai pertemuan-pertemuan Menik dan Anu. Tak seperti malam ini. Malam yang tak biasa. Malam yang tak bahagia.

Sejak Menik mengatakan kepada Anu, jika mereka tak usah lagi bertemu. Menik tak sanggup harus terus hidup dalam keadaan yang tak menentu bersama Anu. Anu tak juga kunjung memberikan kepastian. Anu tak kunjung menunjukkan jati diri yang sebenarnya kepada Menik. Apakah kelak mereka akan menjadi sepasang kekasih. Apakah kelak mereka akan berjalan berdua melewati hari-hari dan siang yang benderang. Tanpa takut memperlihatkan kepada semua orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Yang kelak akan hidup bahagia selamanya hingga lahir anak-anak mereka. Dan mereka bisa bermain di taman bersama tanpa takut bermandi cahaya matahari. Menik akhirnya sampai juga pada titik keraguan. Dia tak ingin jika suatu suatu saat harus mengalami kejenuhan yang sama dengan hubungannya bersama Tedja. Menik melirik Anu.

Anu hanya diam. Menik diam. Sekian detik berlalu. Detik berlalu menit berlalu. Waktupun terus berputar. Menik berdiri. Melangkah meninggalkan Anu sendiri. Dalam gelap dan sepi.

“Kamu memang benar-benar kekasihku, Menik. Matahari hidupku. Laksana surya sumurupku. Tidak ada wanita lain yang benar-benar membuat aku trisna kecuali kamu. Sekarang aku benar-benar yakin kalau hanya aku yang kamu cintai”
Menik terdiam dalam sepi.

Bingung dan kalut jadi satu. Bukan. Bukan itu yang akan aku katakan padamu, Tedjaku. Batin Menik teriak memberontak. Sudah cukup semuanya. Mending pergi saja. Menik tak sanggup memilih diantara dua. Dua lelaki, Tedja dan Anu si pujaan hati. Kekasih gelap dalam mimpi yang tak kunjung menampakkkan jati diri. Oh kejam nian cinta. Yang seolah tak pernah mau mengerti apapun yang Menik inginkan. Menik sesaat terdiam. Bimbang dan ragu. Sampai pada sebuah tanya, jangan-jangan aku yang terlalu menuntut ini itu. Menik tetap membisu dalam diam seribu. Tanpa sadar kakinya melangkah pergi meninggalkan senja kelabu.

Selamat tinggal Tedjaku. Kaupun tak akan kupilih untuk menjadi kekasih hatiku. Bukan kau, Tedjaku. Menik terus melangkah dalam diam. Tedja menatap kepergian Menik dalam diam. Semua diam. Senja diam menunggu malam datang. Daun-daun diam menunggu angin datang. Matahari beringsut turun dalam diam menunggu bulan datang. Menik terus menjauh dalam diam menunggu cinta datang.