Entah berapa lama aku terdiam disini, memikirkan apa yang terjadi pada diriku. Apakah ini benar atau tidak berdosa kah diriku? Semua perbuatanku ini diluar kesadaranku dan semua terjadi begitu saja. Aku selalu terbangun disuatu tempat yang asing bagiku, ini bukan kamar kostku tapi sebuah ruangan yang menurutku tampak gelap hanya temaram lampu reklame diluar jendela berpendar.

Aku mirip amnesia, tak ingat apa-apa yang terjadi apa diriku. Saat terbangun, kutemukan diriku tanpa sehelai kain pun menutupi diriku. Disampingku selalu terbaring seorang wanita tertidur pulas dengan senyum tersungging dimulutnya. Tubuh mereka yang sintal hanya terbungkus selimut, napas sedikit terengah seperti melakukan aktivitas berat. Kulit mereka yang putih diselimuti kabut keringat yang berpendar di kala malam tiba.

Itu selalu terjadi tiap malam aku terbangun dan tak ingat apapun,  perihal yang kuingat hanyalah pergumulan itu tapi tampak samar bercampur desah dan teriak itu. Terbangun dengan basah kuyub habis olahraga namun aku merasa tidak lelah sedikitpun malah terlihat segar bugar. Ada sebuah energi yang berlebihan yang menjalar keseluruh urat nadi, terlihat sumringah yang membuncah.

Setiap kejadian itu seperti menyerap energi dari hasil pergumulan tersebut, kulit wajah dan tubuh tak sedikitpun berkerut biarpun mendekati setengah dekade dalam hidupku. Rambut tak sedikitpun memutih, hitam legam dan tubuh terbentuk elok berotot. Jika lainnya menua, aku kembali muda.

Aku selalu terbangun dengan perempuan yang berbeda dan tak kukenal, semua terlihat menawan dimataku. Selama hidupku aku tak pernah berdekatan dengan seorang wanita sama sekali, bujang lapuk itu kata orang. Aku selalu bergemetaran jika berdekatan dengan seorang wanita, jika ada keberanian pasti terjadi penolakan mentah-mentah. Wajahku tak begitu tampan atau lebih dibilang tak menarik untuk seorang pria. Kulitku hitam gosong terkena sinar matahari yang pekat, rambut mulai menipis dan terlihat hanya kulit kepala yang licin. Terkadang aku harus hati-hati menata tiap helai rambutku agar tertutup semua.

Siapa yang mau denganku, pria jelek hitam legam serta mempunyai pekerjaan yang mungkin dipandang sebelah mata. Aku hanyalah tukang sapu jalanan yang tiap pagi harus bangun subuh sebelum mereka bangun, menyisir trotoar untuk memunguti daun kering atau bekas sampah yang dibuang manusia-manusia. Pekerjaan ini tak seberapa gajinya, sesuai upah minimum kota pun tak sampai tapi tiada pekerjaan yang bisa aku lakukan selain ini. Biarpun pekerjaan kasar dengan jam kerja hampir melebihi karyawan kantor tapi masih bisa mencukupi diriku. Setidaknya aku mempunyai pekerjaan dan mampu membayar sewa kostku yang cuman sebidang kamar kecil di belakang tempat pembuangan sampah.

Hidup di kota metropolitan sangatlah susah, orang seperti aku hanya lulusan sekolah dasar tak mampu bersaingan dengan para sarjana. Biarpun banyak sarjana nganggur, aku merasa beruntung. Didalam kamar kostku yang pengap terkadang setelah pulang kerja, aku merasa kesepian. Tak ada menyambut, pendamping teman tidurpun tak ada.

Ada kerinduan sentuhan wanita dan ingin mendekapnya. Saat aku menyapu troatoar dan mendongak sekeliling, hutan beton mengepung dalam segala penjuru. Aku hanya bisa melihat lalu lalang manusia itu di sekitarku tanpa menghiraukan diriku, apalah arti diriku dibandingkan mereka.

Kaki-kaki jenjang dengan rok diatas lutut berseliweran yang menggugah berahi, aku bisa mencium bau wangi parfum mereka. Sekali sibakan helai rambutnya, semerbak colagne tercium. Aku hanya bisa menikmati dan berimajinasi, aku sadar siapa aku. Mungkin wanita-wanita itu mencibir dan meludah jika melihat rupaku tapi tak mengapa memang layak diriku diperlakukan seperti itu.

Tiap kali aku kembali ke tempatku, aku selalu memimpikan mereka dalam tidurku. Berangan-angan bahwa aku bisa menyentuh, memeluk dan mencium mereka dalam satu malam. Tapi kenyataan memang jahat, kudapati diriku hanya terbangun pagi hari dengan celana basah. Sebuah mimpi basah yang lama tak kudapat sebelumnya.

Kujalani hidupku dengan rutinitas yang membosankan, seakan aku mengulang aktivitasku terus menerus dan itu-itu saja. Tak ada yang menarik lagi dari hidupku. Terkadang selalu terjaga dalam tidurku, mungkin banyak nyamuk telah menggigitku atau aku lupa memasang obat bakar nyamuk. Entah malam itu aku gelisah dan tak tahu apa yang mambuatku gelisah. Kupandangi kamarku yang kecil selonjorpun tak bisa, tak ada lemari atau meja, hanya kasur dan bantal guling apek menemani setiap tiap malam.

Tak ada kota televisi, barang mewah yang tersisa halanya radio FM transistor yang aku pungut di jalan. Entah siapa yang membuang, mungkin manusia gampang bosan dengan barang elektronik atau sudah tak ada gunanya di jaman serba android ini. Radio itulah yang menemaniku, kata orang jika lapar hanya dengan mendengar musik akan kenyang. Ujaran idiot itu yang membuat bertahan dari kelaparan dan tidak melakukan tindak kejahatan yang mengatasnamakan perut kosong.

Kulihat jam tangan bututku menunjukkan jam 1 pagi, tak biasa aku seperti ini. Ada rasa gundah di hati ini dan ruangan kos terasa panas, kuputuskan untuk keluar. Kurogoh saku kemejaku, ada sejumput rokok yang kupungut di aspal jalanan. Batang rokok itu masih utuh, jenis filter putih begitu tipis. Mungkin rokok perek yang mangkal, pulang tanpa ada yang booking dan tak sengaja menjatuhkannya.

Sebenarnya aku bukan perokok, tapi aku suka melihat bentuk yang kecil mungil dan rasa manis di ujung filternya biarpun lama-kelamaan pudar. Kuletakkan di bibirku tanpa kunyalakan sama sekali, cuma kukulum-kulum untuk meredakan gundahku malam ini. Pagi Buta ini begitu dingin dan sepi, tak seorang pun lewat. Tak biasanya sunyi, disini kampung yang ramai dan tak ada tak seorang pemuda nongkrong atau genjrang-genjring tak jelas dengan napas bau naga tapi sekarang tak nongol batang hidungnya sedikitpun.

Semua tertidur pulas seperti kesirep kecuali diriku, kulihat langit tampak cerah tidak ada berawan sama sekali.Anehnya tak tampak bulan ataupun bintang, fenomena yang jarang aku temui dan langka. Saat diriku melamun tak jelas, aku sesaat melihat sebuah cahaya kecil di ujung langit. Lamat-lamat kuperhatikan, cahaya kecil itu semakin terang dan mendekat. Semakin terang, aku kaget sepertinya cahaya itu menuju ke diriku dan aku panik, secepat kilat aku membuka pintu untuk masuk. Tergopoh-gopoh dan ketakutan setengah mati namun nasib tak bisa mengelak, cahaya yang semakin membesar itu menghantam diriku dan membuat ledakan yang memekakkan telinga. Setelah itu aku tak ingat apapun, menelengkup dan sebelum kelopak mata ini menutup. Samar-samar kulihat cahaya putih yang berubah menjadi seorang perempuan cantik dengan rambut tergerai dan masih kucium bau wangi menebar. Ia tersenyum kepadaku dan itu terakhir yang kuingat.

***

            Setengah sadar kubangun, banyak selang infus menancap di lenganku. Badan ini terasa sakit semua dan penat seperti tidur lama sekali. Aku berusaha bangun tapi suster di ujung kamar itu melarangku, mengatakan bahwa diriku baru siuman setelah koma beberapa hari. Apa yang terjadi pada diriku, kenapa aku berada di rumamh sakit ini. Memori otakku terus kuperam untuk mengingat itu semua, hal yang kuingat cahaya itu dan perempuan cantik didalamnya.

Sejenak aku sedikit menerawang keatas dan terus menggungah ingatanku di dalam batok kepalaku, pintu kamarku terbuaka. Seseorang setengah baya dengan kacamata nangkring di hidung sedikit melorot dam dileher tergantung stetoskop. Sebentar ia berbicara dengan suster tadi dan menghampiri diriku. Memeriksa denyut nadi dan bola mata, dokter itu hanya menggangguk menandakan bahwa semua normal.

Aku hanya terdiam dan masih memikirkan apa yang terjadi, dokter itu sebelum meninggalkan ruanganku itu. Ia mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja dan beruntung selamat dari kecelakaan itu. Dari perkataan dokter itu aku baru tahu jika aku berada di rumah sakit gara-gara ruangan kos telah hancur berantakan. Polisi telah melakukan penyelidikan tapi tidak menemukan jawabannya, kesimpulan akhir rekaan mereka bahwa hancurnya kostku itu diakibatkan tabung gas bocor. Dokter itu juga mengungkapkan rasa keheranan apa yang terjadi pada diriku karena tidak ada luka sedikitpun disekujur tubuhku. Hal yang janggal ditangan kiri ada bekas tanda hitam seperti terbakar tak tak jelas kudapat dari manakah itu tapi tak mengapa terpenting aku selamat dari ledakan bodoh itu.

Sejenak aku berpikir apa yang terjadi pada diriku, cahaya putih dari langit dan perempuan cantik dalam cahaya itu. Begitu mempesona, hidung yang mancung sejajar bibir tipis mungilnya memancarkan keindahan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada keanehan, tiba-tiba tangan kiriku yang terbakar itu seperti bergerak-gerak sendiri. Aliran darah terlihat pada otot-otot jemari semakin deras, aku tak bisa mengendalikan dengan otakku. Aku panik dan berusaha memegang tangan kiriku tapi itu sia-sia belaka, tangan itu terus menggelepar-lepar seperti ikan yang kehabisan oksigen mau disembelih.

Aku tekan, tutupi bantal dan pukul-pukul dengan tangan kanan tapi tak bisa kuhentikan. Tangan kiriku ini seakan mempunyai pemikiran sendiri, tiba-tiba tangan itu menyeret hingga aku terpelanting. Ia terbentot menuju ke pintu keluar, dari mana tenaga sebesar itu berasal. Tanan itu terus menyeret, kaki dan badanku masih bisa merasakan ubin rumah sakit. Gesekan dengan lantai rumah sakit membuat pantat panas karena hanya memakai baju rumah sakit tanpa dalaman sedikitpun.

Tangan itu ingin meraih kenop pintu itu, ia ingin keluar. Ia hampir menyentuhnya tapi pintu terkuak, sosok diluar masuk kedalam. Seorang suster yang tadi bersama dokter itu tiba-tiba muncul, tak sengaja tangan bejat itu menyentuh kulit tangan sang suster. Setelah itu kejaiban itu terjadi itu berawal, surga dunia itu menyeruak dan tak pelak kunikmati dengan klimak

***

            Terkadang apa yang terjadi pada diriku apakah anugerah atau ancaman bagiku, tangan kiriku terus menghitam setiap kali sentuhan itu terjadi. Layaknya keinginan terpendam yang terkabul, aku bisa menyentuh perempuan manapun yang kuinginan. Anehnya hanya sentuhan kaum hawa itu tangan bejat ini bereaksi, selain itu tidak beraksi sama sekali. Aku selalu memakai lengan panjang dan sarung tangan hitam untuk tangan kiri, aku tak mau kalau sembarang menyentuh seseorang terutama wanita. Itu semua melelahkan dan menguras energi, apalagi setelah itu ada rasa penyesalan yang berlebihan.

Karena ini tidak benar biarpun nikmat tapi selalu ada keinginan itu tersembul, saat kulepas sarung tangan itu dan kusentuh kepada yang kuinginkan. Gairah itu memuncak setelah itu tapi tak ingat apapun terjadi, hanya kepuasan yang mengikuti. Pernah aku berusaha untuk memotong lengan ini karena rasa bersalah berlarut-larut itu tak kunjung reda tapi ada bisikan gaib yang berbicara denganku.

“Aku ini masa depanmu”

“Tak ada seperti diriku didunia ini”

Kata-kata itu yang terus teringiang-ingiang digendang telingaku dan betapa bodohnya aku untuk tetap menurutinya. Tap tak dipungkiri bahwa aku sekarang lebih berbeda daripada sebelumnya. Ada energi meledak-meledak dalam diriku dan tak pernah surut untuk dipadamkan.

Malam ini aku masih sendiri menatap awan berarak-arak mengulung bulan dan kerlap-kerlip bintang diatas sana. Kebiasaanku mengulum ujung rokok filter putih yang tak pernah kunyalakan sama sekali ini tetap tak kutinggalkan. Lama kusini tanpa suara seperti hari-hari sebelumnya, menyenduh kesunyian. Keheningan itu pecah saat telepon genggamku berdering, suara diujung mikrophone itu berbicara. Aku hanya mendengar dengan seksama dan paham apa yang harus kulakukan setelah ini.

***

            Aku kembali terbangun di tengah malam itu, keringat basah kuyup menderaku. Dejavu itu kembali lagi, aku sadar dari mimpiku dan disamping tergeletak segumpal daging yang sintal dengan harum mewangi. Ia tertidur pulas dengan bibir tersungging penuh kemenangan.

Tempat ini juga aku tak ingat, amnesia itu kembali mendera. Siapa ia yang tergolek disampingku? Tempat apa ini? Begitu gelap dan hanya selipan cahaya dari lampu jalan yang menembus kamar ini. Didalam kebingunganku, aku terus mengingat apa yang terjadi, neuron ingatan itu hanya mengambarkan pergumulan samar-samar yang berulang-ulang bercampur desahan. Aku pukul-pukul terus batok kepalaku tapi tak kunjung kembali ingatanku .

Saat diriku terus mengorek memori dalam otakku, tiba-tiba benda persegi panjang pipih yang berada diatas meja itu menyalak. Gawai layar sentuhku berdering, tanpa disuruh kuraih smartphone itu.

“Apakah semua sudah dikondisikan?”

Suara dibalik telepon itu lama-lamat kukenal dan aku kembali mengingat semuanya.

Sejenak kupandangi wajah perempuan disampingku ini dan dalam kasat mataku terlihat ada surga yang sungsang dibelahan dadanya

“Seperti yang dijanjikan, tugas telah diselesaikan”

Surabaya, Oktober 2019

Karya : Ferry Fansuri

Ferry Fansuri adalah penulis kelahiran Surabaya. Karya terbarunya novel “Jangan Katakan Itu Rindu” 2019(FAM Publishing). Salah satu juara favorit lomba cerpen “Urbanhype” Dewan Kesenian Surabaya (DKS) 2019. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional.