“Mas…,” sekali lagi, hari ini kukirim pesan singkat padanya. Dengan daya hati yang penghabisan, ini adalah pesan yang ketiga ratus. Tak ada satupun balasan walau semuanya terbaca. Tiga bulan tak bersua, dua bulan tak berkabar. Hatiku berkata dia masih hidup, hanya saja aku takut dia sudah lupa jalan pulang.

01 Januari 1995.

Sekitar pukul delapan tepat, pagi hari. Persis sama seperti suasana kali ini. Kilau emas matahari menyeruak dibalik bayangan rimbunnya dedaunan pohon – pohon mahoni yang rapi berbaris memayungi teras berkursi jati ukir. Embun segar berkilau di ujung – ujung rumput manila, hijau terhampar menyelimuti lima ratus meter persegi halaman depan, rumah kami. Gordyn sutera putih tersibak lembut  oleh angin muson barat. Hari yang lengkap kecantikannya dengan aroma segar sereh wangi yang bibitnya kuambil dari hutan Bojonegoro, kutanam rapi berjajar pada pinggiran dinding pembatas pekarangan.

Dua puluh lima tahun yang lalu, hari ketika aku memakai gaun putih tulang bertabur mutiara laut selatan Raja Ampat, pemberian mendiang ibu untuk melangsungkan ijab dengan wali hakim. Pagi yang banjir dengan endorfin di sekujur tubuh. Semua tampak sempurna, bahkan petaka, musibah dan bala pasukannya seolah tak punya nyali untuk menyapa. Semua sudah dihitung sesuai weton. Semua sudah pas. Semua syarat sudah tuntas.

Nduk! Sudah ada kabar dari masmu?” Tanya kanjeng mertua dari dapur yang berseberangan dengan kamarku. Suara itu seperti setrum, menyengat lamunanku. Suara kontraltonya seperti pelengkap serasi untuk air muka yang selalu datar.

Dereng, Buk”, jawabku kecut. Aku segera beranjak dari kasur berseprei katun tencel merah jambu, menuju ke meja dhahar tempat ibu suamiku biasa memulai paginya, menunggu wedang hangat seduhan menantu yang tak pernah dicintainya. Wanita kurus dan nyaris bungkuk itu duduk di satu-satunya kursi rotan anyaman, diantara kursi kayu trembesi polos cokelat muda.

“Kamu bikin salah apa, Nduk?” Wahai mertua budiman, seandainya panjenengan tahu bahwasanya pertanyaan itu semakin membuat hatiku pedih. Kenapa tak kau teguk saja ramuan wedang jahe sere buatanku ini hingga kau tersedak dan …

“Atau jangan – jangan kamu lupa memakai resep sari rapet yang selama ini sudah ibu wariskan padamu? Ya…., Walaupun itu sebenarnya khusus perempuan ningrat, sih.” Oalah buk, sekali lagi tuturmu seolah ingkaran atas upayaku merawat diri. Dalam keadaan seperti ini, ijinkan aku sejenak saja tak perlu bercakap denganmu. Hatiku ingin segera kembali bergumul dengan dentuman rindu di kamar, di atas kasur kesayangan.

Wong lanang kuwi Nduk, asalkan dibikin kenyang perutnya, dibikin nyenyak tidurnya, pasti dia ndak akan jajan di luaran!” Mulut tipis nan kisut itu memberondongku dengan peluru tajam. Serangan telak yang disengaja. Sekali lagi, tubuhku bagai terhempas ke tanah berbatu. Sedangkan wanita lanjut usia itu pongah menengadah bak cenderawasih melebarkan ekor indahnya. Kemudian, kulihat bibir keriputnya menyeringai dan terkekeh senang.

Setiap pertanyaan dan pernyataan yang tersampaikan bukanlah hal layak untuk dimasukkan ke dalam hati. Aku tahu itu. Dia adalah priyayi darah biru yang sedang menunggu tumbangnya rasa percaya diri musuh bebuyutan, seorang perempuan yang pernah membuatnya kehilangan cinta semata wayangnya. Baginya, menjadi perempuan kaya raya bukanlah nilai tambah bila hulu hidupku ada pada rahim kasta jelata. Bahkan, kelahiran tiga lelaki kembar sebagai generasi penerus trah Raden Mas Angsuna Raksa Bhaira ini tak mampu mengakhiri perang dingin diantara aku dan keangkuhannya.

Nduk, resep jahe seremu ini sepertinya layak diperbaiki. Sudah tak ada yang baru di dalamnya. Jahemu ini anyep njejet seperti rumah tangga kalian. Pantas Bhaira kesayanganku tak kunjung pulang.”

Aku terdiam, baginya mungkin wedang jahe sere itu memang sudah tak berasa istimewa lagi. Namun bukan karena turun kualitas, melainkan lidah ibu mertua nampaknya sudah mati rasa. Terlalu banyak sampah keluar dari sana, terlalu banyak racun yang dimuntahkannya. Jadi keistimewaan apa lagi yang diharap akan singgah di lathi yang kotor itu?

Seduhan wedang jahe sere yang oleh ibuku dinamakan wedang sunti itu menggunakan resep andalan leluhur. Ibuku sendiri yang mewariskannya kepadaku. Dibuat dari jahe sunti pilihan yang tumbuh di tanah Pacitan, tempatku dilahirkan. Diramu dengan perbandingan khusus bersama sere merah. Dirajang lembut, dikeringkan bersama-sama dan ditambahkan jampi-jampi rahasia untuk menjadikannya ramuan istimewa. Dihidangkan dengan gula batu dengan takaran yang seimbang, kemudian air mendidih dituangkan sebagai langkah penghabisan.

“Kelak saat kamu telah menikah nanti, suguhkan ini pada suamimu. Tepat di pagi hari untuk menghangatkan tubuh dan membangkitkan semangatnya. Dan tepat sesaat setelah dia pulang kerja agar hilang semua lelah dan penatnya.” Sebuah pesan untuk melanjutkan tradisi memanjakan laki-laki, menjadi petuah terakhir ibu, sebelum wafat. Agar aku bahagia katanya.

“Mumpung masmu tak di rumah, aku mau sampaikan sebuah rahasia. Kamu mau dengar? Ibu sudah janji memegang rahasia ini sampai ibu mati, tapi ibu jengah melihat kegelisahanmu.” Mertuaku menyodorkan cangkir kosongnya dengan pergelangan tangan mengayun ke kiri dan kekanan. Biasanya itu isyarat bahwa dia ingin meminum secangkir lagi, namun dengan cangkir yang baru, yang lebih besar, agar kemudian aku duduk di hadapannya, mendengarnya. Sepertinya ini serius, maka aku menyeduh pula secangkir sunti untukku sendiri

“Pernikahan kalian dibangun di atas jerit tangis perempuan lain. Ada hati yang sakit tatkala seorang gadis merelakan kekasihnya datang ke rumah ini demi membayar budi. Hutang orang tua yang menyekolahkannya dengan uang  pinjaman dari juragan Jahe harus dibayar.” Sejenak ceritanya terjeda dengan suara tegukan wedang hangat yang baru saja kutuang.

“Lelaki itu datang menyerahkan hidupnya pada ibumu, hartawan yang sugih mbrewu. Demi kamu ibumu nekat, walau dia tahu gadis naif yang lugu itu memohon belas kasih karena telah lebih dulu menyerahkan mahkotanya pada Angsuna. Perempuan itu tetap tersingkirkan tanpa daya, ibumu mengusirnya! Kowe dapat lungsuran Ganjari!” Lagi, senyum sinisnya mencabik kebangganku sebagai wanita. Kudapati tanganku bergetar.

Selama ini aku hanya diam. Dua puluh lima tahun, Ibu. Aku bisu terhadap semua deraan cemooh sahabat karibmu ini! Aku menghormati ikatan suci itu dengan sepenuh kepercayaan, pernikahan sakral yang kalian atur sedemikian rupa untuk kami. Tapi dia, mertuaku telah benar-benar menumbangkan harga diriku ke lubang yang lebih dalam dari kuburan ibu. Padahal, ibu tahu tabiatku. Lidahku bisa lebih pedas dari jahe sunti pilihan jika jiwaku diseduh amarah dalam didihan air mata. Dan upayaku memotong nyali dengan pisau adab ternyata hanyalah upaya menjaring angin. Sia-sia!

“Aku?? Aku bisa apa, nduk?? Aku hanyalah ningrat tanpa daya yang pasrah menyerahkan ayam jagonya pada jelata kaya raya. Kamu?? Kamu tahu apa? Semua ini antara aku dan ibumu saja. Angsunaku adalah lelaki lembut hati, dan ternyata tak bisa dilepaskannya perempuan itu. Mereka berdua menikah dalam senyap sebulan setelah malam pertamamu. Jadi setiap kali suamimu pamit ke luar kota, itu artinya dia bertemu dengan cinta sejatinya. Sebenarnya, cucu ibu sekarang ada enam.”

Duh, Gustiiii!! Lidahku ingin memuntahkan ribuan maki. Darahku mendidih hingga tungku hatiku meledak, memburaikan akal sehatku, namun aku takut akan sumpah serapah. Dia ibu dari suamiku. Jantungku berdentum menggemakan hutang dendam yang sepertinya takkan bisa mereka lunaskan. Mulutku? Mulutku memang telah terbiasa disumpal oleh unggah ungguh seorang menantu hingga aku bisu. Tapi tidak dengan tanganku!

Seprei merah jambu! Aku teringat pada seprei merah jambu. Aku berlari merengkuhnya,  lembar terakhir yang melambari kebersamaanku dengan trah bangsawan KW, di pagi terakhir kami bercinta. Tepat sehari seusai pesta perayaan ulang tahun pernikahan yang kukira ikhlas dirangkai waktu. Setelah tegukan terakhir wedang suntiku, seprei merah jambu terlihat cantik di lehermu, ibu. Sugeng tindak.

Karya : Dewi Purboratih

Lahir dengan nama belakang Purboratih, penulis yang akrab dipanggil Dewi adalah seorang praktisi hypnotherapy, life coach dan parenting konselor. Lulusan magister ilmu komunikasi tahun 2016 ini telah melahirkan lima buku antologi sebagai buah karya bersama beberapa komunitas menulis, termasuk antologi cerpen Hujan Tak Jadi Datang Malam ini serta Labirin 25 sebahagi hasil dari kelas menulis Padmedia Publisher yang terbit di akhir tahun 2020. Penyuka dopio ini menjadikan menulis sebagai salah satu sarana rekreasi jiwa yang menyenangkan.

Glosarium

Anyep Njejet : dingin dan hambar
Dereng : belum
Dhahar : makan
Jampi-jampi : mantra
Kowe : kamu
Kuwi : itu
Lathi : lidah
Nduk : panggilan keluarga untuk menyebut anak perempuan
Panjenengan : kamu (panggilan bahasa Jawa untuk menyebut yang lebih tua dan dihormati)
Priyayi : bangsawan darah biru
Sugih mbrewu : kaya raya
Unggah ungguh : Sopan santun
Weton : hari kelahiran manusia menurut penanggalan Jawa
Wong lanang : orang laki-laki