Jika kau berjalan ke barat pada pagi hari
aku diam menunggu
Sudah berdamaikah dengan bayang-bayang?
Tentu kau sudah tahu jawabnya
siapa lebih dulu sampai seberang

Prof, tolong ceritakan tentang warna-warni kembang di halaman abadi
Biar kuingat warnanya sebelum mata kian buram
Ceritakan pula berapa banyak kelopak gugur sepanjang musim
Adakah sekuntum milikku siap dipetik?

Sepertimu, aku pun mulai menuju barat, Prof!
Senyampang rimpuh bersiap di garis tunggu
aku ingin lebih dulu
mendengarmu sekali lagi membaca
tentang cinta sederhana yang kita jatuhkan
Selama-lamanya

Sidoarjo, 30 Maret 2021


Kepada Dja
: Sebuah Kalah

Bulu matamu belantara
Aku tersesat di sana
Mencoba menahan laju air mata
serta pendar amarah

Aku ingat malam itu, Dja
Pada sekuntum wijayakusuma kaurapal doa kesembuhan
Dari arloji yang melingkari tanganmu
aku tahu, tak banyak waktu

Maka berjalan secepat yang kubisa adalah putusan
mungkin berlari
Hingga hilang pandang
Kaurasa sendirian

Tentu saja tidak begitu
Aku mengerti gelisahmu
Namun, saat bibir mulai pandai mengeja surah
pipimu mengering
O, sudah ada yang menghapus sedih itu

Dan aku … dikalahkan waktu

Sidoarjo, 29 Maret 2021


Yang Lupa

Teruntuk pelupa nyanyian cinta di malam redup berhias sesabit bulan. Aku telah menepikan segenap rindu meski kian gencar bertandang, membujuk hati bahwa sejatinya yang berkali-kali lupa tak pantas mendekap setia. Biar rindu-rindu ini tak lagi biru sejak dihempas pilu masa lalu. Biarlah!

Teruntuk pelupa rampai janji berdua pada mula menyulam bahagia. Kukira kesatria, nyatanya tak cukup gagah menahan jeda, menyerah pasrah pada senyap masa.

Kaubilang satu-satunya,
nyatanya masih kerap singgah

Kaubilang sepanjang masa,
nyatanya sekian musim bunga

Kaubilang selamanya,
tapi …
bagimu selamanya itu sekedip mata

Teruntuk yang lupa jalan pulang. Menyusuri jalan baru tentu kegembiraan, tetapi sampai kapan? Bila telah jauh jarak tertempuh, jangan pernah menoleh lagi pada yang tanggal. Sebab yang usang, tak cukup manis untuk diulang.

Sidoarjo, 17 Maret 2021


Puisi Kita

Kaubilang punya puisi,
aku pun begitu
Kita sama-sama menunggu
siapa membaca lebih dulu

Waktu berlalu, jarum jam melaju
Memangkas tahun, mendedah masa
Kita saling diam bergandengan
memotret mimpi menyemai harapan

Senja datang kemudian
Kau makin tak sempurna, kukira aku pun
Bagai mortir, kata-kata melesat darimu
tentang hujan, matahari, dan angin gunung

Aku membuka tanya,
“Lalu, di mana puisi cintamu?”

Tidak ada, katamu
Sebab cinta sudah tumbuh
sejak kita sama-sama menunggu,
dan tak pernah meninggalkan

Aku geming, malu
Kusimpan puisi cinta di dasar hati
Biarkan merona, tak perlu dibaca
Sampai siapa dijemput-Nya lebih dulu

Sidoarjo, 16 Maret 2021


Rumah Cinta

Selepas wabah ini, Dik
Mari kita bangun sebuah rumah
berdinding papan beratap rumbia
Di dekat urukan bekas kebun tebu itu, seperti katamu
Sebab terlalu mahal harga kapling tanah bagi kantong lusuh kita

Nanti,
ada parit kecil berair jernih mengelilingi rumah
tempat anak-anak tak berayah ibu berkecipak main air dengan gembira
Biarkan mereka lupa pada tumpukan koran di bawah lampu merah
Biarkan mereka lupa lebam dada dan asin air mata yang dicipta oleh cerca

O, jangan lupakan taman bunga!
Di sana tumbuh mawar, melati, pun kenanga
Jika telah mekar sempurna, kuambil setangkai
jadi hiasan rambut ikal mayangmu

Setiap malam kita duduk di dipan reot yang tersisa dari luber lumpur selatan kota
Berdua kita pandang bulan separuh yang tersenyum
Tanganmu tanganku saling genggam menghangatkan
Entah di musim hujan atau kemarau
Menjadikan setia sebagai pilar
Hingga tiada angin badai sanggup memisahkan
Pun sederet wabah yang mungkin datang kemudian

Selamanya, hingga habis usia kita
Sebelum itu, ingin kutanyakan padamu
: masih sanggupkah menua denganku?

Sidoarjo, 22 Januari 2021


Doa Sebelum Tidur

Bergeraklah ke tengah
sedikit saja
biarkan lembap tembokmu
dipeluk hujan
dan telunjukmu berhenti
menggurat kisah lalu.
Sudah kupesan mimpi paling ranum
di pelataran Tuhan
sore tadi
seiring gerimis datang tiba-tiba
dan pualam pipimu memerah
mengingat sesosok lelaki di peron.
Tangan kirinya menenteng koper besar
tangan kanan memeluk perempuan berhijab lebar.
Sempat ia menoleh kanan kiri
mencari-cari

Kau sembunyi
dari rindu yang bertalu
sekaligus membatu
seiring kalimat nyilu
: hati-hati

Ayo!
Berdoalah sebelum tidur
agar lelaki itu tak pernah datang lagi
mencuri mimpimu berkali-kali
sekali lagi.

Sidoarjo, 17 Januari 2021


Dia Lelaki

di pagi itu
seorang lelaki gagah menantang waktu
tak peduli cuaca
pun rupa-rupa resah

ia hanya tahu, dari keringatnya
anak-anak cahaya dibentuk
belum fasih mengeja hidup
sedang perempuannya sibuk menakar beras
: segenggam hari ini, segenggam lagi besok
dicabutnya satu demi satu telajak tanah
mengubah kayu jadi bara

lalu,
senja datang begitu cepat
sang lelaki tak lagi gagah
di mata yang terkasih
ia masihlah cinta sejati
selalu tahu di mana meletakkan mimpi

Sidoarjo, 16 Januari 2021

Karya : Wahyu Agustin

Adalah perempuan kelahiran Sidoarjo yang mencintai literasi sejak kecil. Hingga saat ini karya-karyanya telah diterbitkan dalam 2 (dua) buku tunggal dan 60 (enam puluh) buku antologi bersama penggiat literasi lainnya.