emosi telah menghardik
Zonasi
di ruang-ruang sunyi
di lapis-lapis sepi

mengapa zonasi melukis
harapan-harapan menjadi terkikis
dan mata air mengalir
tak sampai hilir?

biar kau tampar aku tak gentar
dengan ruang yang selalu bergelombag
dahan dan ranting agar tak terpelanting
pepohonan tetap rindang
menaungi panas dan cemas

aku hanya ingin pendidikan
merata
dan prestasi terbukti
di setiap lini

Aku tak pernah bermimpi menjadi Zonasi

Maafkan aku
Kalau kehadiranku
Mengganggu mimpi-mimpi indahmu
Berikan aku kesempatan
dalam kemarau pendidikan
Menjadi “Rintik Hujan”

@25 Juni 2019


Badai Itu Berwarna Rindu

setiap kau rentang mimpimu
di tubir kenangan
warna rinduku selalu badai
menembangkan masa lalu
dalam bait-bait cinta

kau bagai bulan yang mendendangkan sepi
di ruas-ruas api
melayarkan kesetiaan
pada malam

aku selalu membunyikan
rindu di dahan dan ranting
memanggil namamu
dari pintu ke pintu
dengan gelombang sayang

Pada nyanyian ilalang
kau selalu membawakan tarian
tak henti-henti
berdawai impian

ruang-ruang sunyi kini melandai
memanggul mimpi yang tak sampai

@ 18 November 2020


Aku Hanya Sebentang Ilalang

selalu kabut merebut pagi
dengan warna mendung
kaki-kaki mimpiku tersandung
“Betapa letih pengembaraan ini?”

rinduku kian berdebu
memandang senja yang saga
keluh kesahku semakin gila
“aku hanya sebentang ilalang”

benderang kesempatan
mengusap air mataku
menghentikan penyesalan
aku kian mengerti
bahwa cita-cita adalah perjuangan

tanpa ratap
kembali kugenggam
mimpiku
memanggul badai dan hujan
mendendangkan kesetiaan

@ 7 Januari 2021


Jangan Kau Bawakan Gerhana Untukku

membaca sunyi di tebing reranting
kau berlari dalam kenangan
kukejar sampai tepi lubuk hati
kau tersenyum melanjutkan perjalanan
“biarkan aku mencari impianku sendirian!”

warna langit mengirimkan jerit
pada sedu resahku mengeja kisah
dendang masa lalu gairah menabuh
tak letih menari pedih

O, bulan
jangan kau bawa gerhana
di tengah rimba sepiku
yang terus meng”aduh”

@ 24 Februari 2021


Selamat Jalan Cak Nur (Nur Ahmad Syaifuddin,
Plt Bupati Sidoarjo)

langit tiba-tiba pucat pasi
mendengar kabar kau telah pergi
rumput tergetar sampai akar

Pribadimu yang santun
Masyarakat bisa kau tuntun
kau pemimpin yang mengayomi
masyarakat senang dan happy

sakit kau derita tanpa kau rasa
pekerjaan menuntut siaga

Sidoarjo berduka
“aku sangat kehilanganmu, Cak Nur
kau putra pilih tanding
dengan masyarakat kau selalu bersanding
jasa-jasamu tak terhitung
walau saat tugasmu belum rampung”

Sedih dan perih mendidih
mereka melepas kepergianmu

Selamat jalan Cak Nur
semoga kau bahagia di di [email protected]

22 Agustus 2020


Pada Sunyi Yang Selalu
Mengirim Badai

kabut menebal
mencari pagi
dengan luka mendung
kakiku terserimpung

pada sunyi
yang selalu mengirim badai
memanggul bara
di setiap tikungan

aku berjaga
melantunkan impian
agar kemerdekaan
bukan prasasti kenangan

@ 12 Maret 2021

Katya : Nur Aziz Asmuni

Pencinta puisi. Di antara pengalamannya di bidang puisi, Juara 1-lomba Baca Puisi diselenggarakan oleh IAIN Sunan Ampel Surabaya (1996), Pemenang Sayembara Cipta Puisi versi Taman Budaya Jawa Timur(1998), Juara 2-Guru Baca Puisi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Surabaya (2008).