Sore itu selepas Ashar, di hari puasa terakhir, kepanikan merambah kami. Aku, Ibu, suamiku dan kedua adik laki-lakiku, baru menyadari ketidakhadiran Bapak. Tak seorang pun mengetahui keberadaan Bapak. Semua bergerak mencari, di kamar, di ruang baca, ruang tamu, di dapur, sampai di kamar mandi tak ada tanda-tanda sosoknya. Gurat kekhawatiran mulai merebak, nampak di wajah Ibu, pun kegundahan merasuki kami anak-anaknya. Dua adikku terus mencari di sekitar rumah, bertanya ke tetangga, keluar rumah, menjelajah gang bertanya kepada orang yang mereka temui sampai masuk ke dalam masjid di dekat rumah. Tapi tetap tak membuahkan hasil.

Kemana perginya Bapak? Tadi saat sholat Ashar, Bapak ikut berjamaah. Bukan masalah sepele yang membuat kami was-was dan tenggelam dalam kekhawatiran, tapi karena kondisi Bapak yang masih belum pulih benar. Penyakit stroke ringan yang usai mendera Bapak meninggalkan jejak ketidaknormalan pada gerak tubuhnya. Melangkahkan kaki masih tertatih, harus ditopang dengan tongkat. Pun ucap lisan masih terbata, masih sulit dimengerti lawan bicaranya. Baru dua minggu yang lalu Bapak beringsut sembuh dan dapat beraktifitas lagi meski terbatas olah geraknya. Masih dalam taraf pemulihan. Masih harus rutin minum obat dan terapi. Dan yang terpenting, harus terus ada yang mendampingi.

Memang, sore ini tak seperti sore terakhir ramadan tahun-tahun sebelumnya. Di mana selalu ada keseruan di pekarangan rumah selepas Ashar. Ada keriangan, teriakan, dan jeritan cucu-cucu Bapak yang turut memecah meramaikan kecerahan sore. Keriangan dibumbui rasa takut-takut geli memancar dari wajah polos mereka. Gembira menjadi penonton bak pemandu sorak di pinggir arena, hiburan yang tak pernah mereka dapati di kota. Teriakan terus tercetus dari bibir mungil mereka, membaur bersahutan dengan petok si hitam, si putih atau si burik. Dan sore ini serasa momentum itu telah hilang.

“Awas, Kung, itu yang hitam lari ke sana,” teriak gadis kecil dengan rambut berkucir yang berdiri di samping kakaknya. Kakinya menghentak-hentak tak bisa diam, sesekali kembali menjerit saat si hitam lolos lagi. Seolah-olah ia ingin ikut mengejar tapi rasa takut membelenggunya..

“Om, yang putih…” seru gadis kecil lainnya yang duduk di kursi kecil kesayangannya, matanya terus bergerak mengikuti pergerakkan si hitam dan si putih yang tengah berusaha menghindar dari hadangan orang-orang yang hendak menangkapnya.

“Hore…” seru serempak kedua bocah itu sambil berjingkrak-jingkrak. Tangan mungil mereka bertepuk tangan kegirangan melihat si hitam dan si putih tertangkap. Bapak pasti akan menghampiri cucunya dengan si hitam digendongan. Dan kedua gadis kecil itu akan menyambut serta menjulurkan tangan mengelus-elus bulu si hitam meski tetap terselip sedikit rasa takut. Keseruan yang selalu dinanti saat mereka berada di rumah masa kecilku menjelang lebaran.

Berbicara tentang lebaran, terutama menu spesialnya, ketupat dan sandingannya, seperti opor, sayur nangka, sambel goreng kentang lengkap dengan kerupuk udang, mungkin sudah menjadi tradisi bagi sebagian orang. Bahkan telah ditahbiskan menjadi sajian spesial di hari nan fitri. Tapi tidak demikian dengan keluargaku. Ibu dan Bapak tak pernah sekali pun menyajikan menu itu di hari lebaran. Tapi bukan berarti kami anak-anaknya tidak mengenal atau tidak pernah mencicipi hidangan itu. Kadang sajian itu pun ikut tersaji sebagai menu sarapan usai sholat Ied, tatkala kami menerima hantaran dari tetangga atau dari keluarga yang lain. Namun bukan hasil olahan sendiri dari dapur Ibu.

Bagi keluargaku ada menu favorit yang berbeda di hari nan fitri. Menu sederhana yang sebenarnya bukan hanya disajikan di saat lebaran saja, tapi juga sesekali di hari-hari biasa. Hanya saja menu ini terpilih menjadi menu utama dan selalu tersaji saat santap bersama usai sholat Ied.

Ritualnya dimula dengan penangkapan ayam peliharaan di sore hari, di penghujung ramadan. Usai keseruan dan memastikan dua ekor ayam aman di kurungan, ada aktivitas lain yang akan dilakukan Bapak, yakni mengasah belati. Belati yang akan digunakan harus tajam, begitu Bapak selalu mengatakan. Agar saat menyembelih, sekali gores, nadi urat leher langsung putus, dan nyawa lepas dari raganya. Mungkin ada persekian detik tubuhnya masih mengelepar-gelapar sebelum akhirnya teronggok kaku.

Kesibukan pun berlanjut saat dini hari pada keesokan hari. Bapak dibantu adik laki-lakiku akan menyembelih sendiri ayamnya. Lebih afdhol, begitu alasan Bapak. Di dapur, Ibu sudah merebus air serta menyiapkan rempah-rempah untuk bumbunya. Bawang putih, kemiri, kunyit, lengkuas, ketumbar, daun salam, serai dan tentunya garam. Semua bumbu akan diuleg, bahkan terkadang Bapak sendiri yang turun tangan mengulegnya. Air yang telah mendidih akan digunakan untuk merendam ayam sembelihan agar mudah dicabuti bulu-bulunya. Bapak mencabuti bulu, membersihkan dan memotong-motong ayamnya, sedangkan aku dan Ibu, selain menyiapkan bumbu, menyiapkan pula menu penyanding lainnya.

Kesibukan sejenak terhenti, saat adzan subuh berkumandang. Hanya potongan-potongan ayam yang sudah menyatu dengan bumbu dan sudah direbus dengan api sedang. Aroma khasnya pun merebak turut membangunkan lelap tidur penghuni rumah. Lama perebusan kira-kira satu jam atau sampai air rebusannya menyusut yang menandakan bumbu telah meresap ke dalam daging ayam. Hingga jadilah ayam ungkep siap digoreng. Menu pelengkap lainnya pun sudah diracik tinggal dieksekusi selepas sholat subuh. Ada tempe siap digoreng, sayuran sudah dipotong tinggal direbus dan bahan-bahan sambel terasi siap diuleg.

Sebelum berangkat sholat Ied, menu spesial lebaran kami telah terhidang di meja makan. Sajian utamannya ayam goreng kampung bumbu ungkep sederhana ala Bapak yang empuk dan gurih. Ditambah tempe goreng yang renyah, lalapan yang masih hijau chruncy dan penyempurnanya tentu saja sambal terasi. Tak lupa nasi putih hangat pun siap di rice cooker. Sederhana namun menggugah selera. Setiap lebaran, menu sederhana inilah yang selalu tersaji. Menu favorit yang paling ditunggu, membuat nagih dan bikin kangen.

“Mbak…” sebuah suara mencoba membuyarkan lamunan. Ya…tapi sore kali ini berbeda. Tak ada lagi semua ritual itu bersama Bapak. Bahkan petok ayam pun tak terdengar di pekarangan belakang. Yang artinya, tak ada lagi agenda penyembelihan dan kesibukan menyiapkan menu spesial saat dini hari.

“Mbak…” suara itu memanggil ulang.
“Ya…ya…, bagaimana Dik, Bapak sudah ketemu?” tanyaku tergeragap.
“Bapak pergi diantar Pak Atmo, Mbak. Pak Pono melihatnya saat Bapak naik becak Pak Atmo. Tapi Pak Pono enggak tahu Bapak minta diantar kemana,” sebuah jawaban yang membuat hatiku plong. Pak Atmo adalah tukang becak langganan yang biasa membawa Ibu saat mengantar Bapak kontrol ke rumah sakit.

Kini kami hanya bisa menunggu. Meski kepanikan sudah mulai terkikis, karena Bapak pergi didampingi orang yang kami kenal, tetap saja terbersit kekhawatiran mengingat kondisi Bapak.

Empat puluh lima menit menjelang berbuka, sebuah becak berhenti di depan rumah. Aku pun bergegas. Benar saja, Bapak turun dari becak Pak Atmo membawa bungkusan tas plastik berwarna putih.
“Sangking pundi, Pak?” tanyaku sambil membantu Bapak turun dari becak. “pinten, Pak Atmo?”
“Sampun, Mbak”
“Matur nuwun, Pak Atmo.”

Maksud hati ingin menuntun Bapak masuk ke dalam rumah, Bapak menolak dan memilih duduk di teras. Bapak menyerahkan bungkusan yang dibawanya, memintaku untuk membawa masuk.
“Be…ri…kan ke.. ibu,” kata Bapak terbata. Kuterima bungkusan itu dan masuk ke dalam rumah.
“Bapak?” tanya Ibu.
“Inggih, Bu, sakmeniko Bapak pinarak di teras,” jawabku sambil menyerahkan bungkusan dari Bapak.

Ibu menerima bungkusan plastik warna putih itu, sekilas melihat isinya dan tersenyum. Ibu menghela.napas, sembari kembali mengulum senyum. Apa isi bungkusan itu, sebenarnya aku pun bisa menebak karena aromanya begitu semerbak. Aku mengerti kenapa Bapak tidak meminta tolong kepada kami, anak-anaknya, karena memang itulah karakter Bapak yang tidak ingin merepotkan orang lain selama masih bisa melakukannya sendiri. Tapi kenapa Bapak berangkat tanpa berpamitan kepada seorang pun.
“Itulah bapakmu, gak iso dipenggah,” Ibu seperti mengerti apa yang kupikirkan. Ya, Ibu hapal betul kebiasaan Bapak.

Ibu membawa bungkusan plastik itu ke meja makan, mengambil piring hidang, membuka dan mengeluarkan isinya. Kembali Ibu tersenyum sembari menatapku dan menunjukkan dua kotak kardus. Tertangkap di mataku logo dan tulisan yang tertera di kotak kardus itu, ‘Ayam Goreng Sari’, satu menu andalan sebuah depot makan di kota kami, termasuk makanan kesukaanku. Meski begitu, ayam goreng favoritku tetap kusandangkan pada ayam goreng masakan dua koki handalku, yakni bapak dan ibu.

Ya, Allah, Bapak… aku mulai paham. Keseruan dan kebiasaan di penghujung Ramadan sore ini memang tak ada, begitu pula kesibukan esok dini hari juga tak lagi sama, namun sepertinya Bapak ingin di hari nan fitri, menu favorit anak dan cucunya tetap terhidang di meja makan dan tetap menjadi menu spesial yang dirindukan. Bapak ingin momentum di penghujung Ramadan tetap menjadi memorabilia yang tak kan terlupakan.

Sungguh…, tanpa bisa kucegah mataku membasah.(*)

Penulis : MN Luthfiah

Menulis telah menjadi hobinya sejak kecil tapi menelurkan karyanya baru di tahun 2017. Genre non fiksi dan buku ajar yang pertama digeluti. Geliat Hati Seorang Hamba (2017), Benang Merah Itu Selalu Ada (2018), Belajar Bahasa Jepang (2019) dan dua buku antologi bersama komunitas Pena Perajut Aksara. Tetap menulis dan menggiatkan literasi di kalangan perempuan adalah keinginan yang akan terus dilakukan.