Judul : Lahirnya Kematian
Penulis : Yusril Ihza F. A.
Penerbit : Tankali

Buku naskah lakon Lahirnya Kematian karya Yusril Ihza terbit pada pertengahan tahun 2020 (Penerbit Tankali). Naskah lakon ini merupakan pemenang ke-3 Sayembara Naskah Lakon DK-Jatim 2018. Penulisnya, selain dikenal lewat karya puisi, telah kerap menulis naskah dan menjadi sutradara teater bersama komunitas Teater Kaki Langit yang bermarkas di Surabaya. Sebelum ini Yusril juga menerbitkan secara terbatas naskah lakonnya Di Seberang Sana (September 2019) dalam wadah diskusi Majelis Sastra Urban Surabaya.

Sebagai seorang penulis millenial, memiliki dua buku naskah lakon yang diterbitkan sebagai satuan buku adalah poin istimewa. Pada kesempatan penerbitan buku naskah lakon pertamanya, Yusril mendapat banyak sanjungan dari seniman teater Surabaya. Sebab biasanya naskah lakon hanya didiskusikan pada momen diskusi pementasan, bukan sebagai sebuah objek sastra independen yang memiliki konvensi baca dan metode telaah sendiri. Entah kapan terakhir kita membaca naskah drama Indonesia dalam satuan buku. Bukan lembaran fotokopi A4.

Tradisi produksi dan apresiasi naskah drama Indonesia, dalam kaitan dengan kelompok seni pertunjukan, umumnya adalah naskah drama komunal yang ditulis, dipentaskan, dan dinikmati dalam satu lingkaran komunal sendiri. Di tengah euforia masifnya penerbitan karya sastra, jarang bahkan sulit sekali kita temui penerbitan naskah drama atau lakon sebagai bahan bacaan yang sejajar dengan antologi puisi dan novel. Maka sebagai sebuah karya yang menyandang predikat pemenang sayembara di tengah meriahnya buku puisi dan prosa, kehadiran naskah lakon Lahirnya Kematian ini merupakan satu tarikan nafas segar bagi ragam bahan bacaan sastra.

Memang lakon barulah mewujud bertubuh bila telah dipentaskan. Namun dalam logika proses baca naskah lakon, pikiran pembaca otomatis mengandaikan ruang panggung dalam kepalanya sendiri. Di ruang panggung andaian itulah, peristiwa lakon terjadi. Dunia lakon tergelar. Dengan dasar tersebut, naskah lakon sejajar dengan puisi atau prosa. Sebagai teks sastra dalam bentuk dialog, yang didukung oleh kehadiran teks samping sebagai narator yang menambah keterangan alur, latar, dan keterangan tambahan lain. Lakon selayaknya dibaca sebagai karya sastra dengan konvensi dan metode telaahnya sendiri.

Lakon Lahirnya Kematian yang memiliki panjang 73 halaman digerakkan oleh 6 tokoh: Pahing, Kantil, Pon, Melati, Wit, dan Kusuma. Naskah dibuka dengan teks narator yang memberi gambaran awal dua orang penggali kubur bernama Pahing dan Pon di sebuah kompleks pemakaman. Mereka tengah mencari titik galian untuk makam baru tetapi tak kunjung menemukannya sebab kompleks pemakaman  itu sudah penuh.

Secara keseluruhan, naskah ini berkisah tentang gesekan apa saja yang dialami Pahing sebagai penggali kubur. Pahing memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Ia adalah seorang sarjana hukum. Pahing memiliki seorang istri bernama Melati, seorang mantan PSK. Setelah lama menikah, rupanya Melati  tidak kunjung hamil. Kegelisahan karena tak kunjung dikaruniai keturunan membawa Pahing serong dengan Kantil, seorang waria, banci, yang selalu lewat area kompleks pemakaman  tiap berangkat-pulang bekerja.

Suatu malam, Kantil merajuk agar Pahing menikahinya segera sebab Kantil berencana untuk operasi transkelamin dan melakukan penanaman rahim. Rencana Kantil membuat Pahing teriming-iming, merasa kemungkinan mendapat keturunan dari Kantil lebih besar dibanding terus bersama Melati. Sebagai teman, Pon berperan meredam kegelisahan dan pikiran-pikiran protes Pahing akan hidupnya. Mulai dari protes tentang kondisi pekerjaan mereka yang makin terdesak karena sempitnya lahan, ide menikah dengan Kantil, hingga hal yang lebih prinsipil, soal Tuhan.

Dari jalur lain, hadir Wit dan Kusuma. Sepasang gelandangan penyandang tuna netra dan tuna daksa. Kusuma dan Wit datang ke kompleks pemakaman untuk mencari lahan kuburan bagi Wit yang terus saja berkata bahwa malaikat maut sebentar lagi akan mencabut nyawanya. Kusuma adalah perempuan buta yang melarikan diri dari keluarga dan masa lalunya. Sementara Wit, tidak terdapat penjelasan latar belakang tokoh ini. Namun tokoh Wit adalah figur penting untuk lebih jauh memahami naskah. Kedatangan mereka ke kompleks pemakaman menciptakan titik singgung yang mempertemukan hal-hal opositif: ranjang dan makam, hidup dan mati.

Oposisi, barangkali adalah konsep kunci untuk mendekati naskah ini. Membaca bagaimana hubungan antartokoh dan motif-motif yang membangun – juga disembunyikan, membawa kita memahami naskah ini bukan sebatas potret pinggiran perkotaan dengan sengkarut konflik ekonomi dan rumah tangga. Tiap tokoh membawakan dialog dengan cara yang ringan, seperti layaknya orang pinggiran. Sampai di satu titik kita akan menemukan potret manusia-manusia yang ternyata anomali. Umum, tapi anomali. Dengan keluguan bahkan kebodohan yang jamak ditemui, tiap tokoh ternyata memiliki visi yang kompleks di balik keputusan dan responnya pada situasi. Dan pengikat paling dominan seluruh unsur peristiwa dan konflik adalah tempat.

Ya, ruang menjadi unsur penting yang mengikat cerita baik dalam tataran peristiwa maupun simbol. Pada bagian awal sebelum narator, dipajang satu paragraf yang ternyata merupakan bagian dialog tokoh Wit. Secara eksplisit dalam bagian dialog itu disebutkan pembandingan kehidupan dan kematian dengan membandingkan ranjang tidur dan liang kubur.

“Saat istirahat paling indah bukanlah tidur di atas ranjang yang ditaburi wangi bunga-bunga, lalu bercumbu mesra dengan sang kekasih. Tapi yang paling indah adalah sebuah proses pemakaman. Kita seperti menjadi raja sementara dan diperhatikan banyak orang. Kita seperti bayi kecil yang bermanja-manja ingin dimandikan – terutama mereka yang memiliki rasa cinta di lubuk hati paling dalam pasti sedia memandikan tubuh kita dengan air mata. Di sanalah, kematian terlahir sebagai cinta suci yang tak lagi berbicara tentang kesepian dan kesendirian. Lahirnya Kematian menjelma kebebasan abadi.”  ( Lahirnya Kematian, 2020:2)

Wit mengucapkan dialog tersebut saat berbincang dengan Kusuma. Mereka tengah mendebatkan mengapa Wit terus saja berteguh bahwa kematiannya sudah dekat, malaikat maut dalam perjalanan. Dan karenanya Wit mesti bersiap menemukan lahan kubur bagi dirinya. Hal tersebut membawa mereka ke satu-satunya kompleks pemakaman kota dan bertemu dengan Pahing dan Pon selaku penggali kubur yang bekerja di sana.

Kompleks pemakaman dalam lakon ini memang hadir dengan porsi lebih banyak daripada kamar tidur (ranjang). Naskah ini tidak memiliki keterangan eksplisit tentang pembabakan. Namun muncul tanda bintang tiga (***) sebanyak lima kali yang menandai pergerakan peristiwa dan perubahan ruang. Peristiwa dalam lakon ini terjadi di dua tempat utama yaitu kompleks pemakaman  dan kamar tidur Pahing (dan Melati). Dari enam adegan, lima adegan terjadi di kompleks pemakaman. Hanya satu adegan terjadi di ranjang. Urutan latar adegan: Adegan 1, kompleks pemakaman. Adegan 2, kamar tidur (ranjang). Adegan 3, kompleks pemakaman. Adegan 4, kompleks pemakaman. Adegan 5, kompleks pemakaman. Adegan 6, kompleks pemakaman.

Yang menarik, adegan yang terjadi di kompleks pemakaman  ternyata tidak terjadi di satu titik saja. Pada adegan 1, titik tempat terjadinya peristiwa adalah bagian kompleks pemakaman  yang penuh. Pada adegan 3, titiknya pada area Pahing dan Pon melakukan penggalian baru. Pada adegan 4, peristiwa Wit dan Kusuma bertemu Kantil, terjadi di titik kompleks pemakaman  yang penuh, bisa jadi sama dengan titik pada adegan 1, bisa juga lain. Adegan 5, kembali ke titik adegan 3. Lalu pada adegan 6, terjadi di titik sekitar adegan 4.

Artinya, naskah ini terjadi dengan pengandaian ruang realis yang dinamis. Kompleks pemakaman di situ adalah ruang yang ‘bergerak’. Setidaknya ada tiga titik berbeda tempat terjadinya peristiwa lakon. Para tokoh terus berpindah titik tanpa keluar dari lingkaran kompleks pemakaman sebagai ruang riil dan ruang simbol.

Maka ketika pembaca menghadirkan panggung dalam pikirannya, perlu disadari bahwa kompleks pemakaman yang dipotret ke dalam panggung itu adalah kompleks yang luas. Dalam salah satu dialog disebutkan, itu adalah kompleks pemakaman satu-satunya yang dimiliki warga kota. Lahan kota telah dialokasikan untuk pembangunan taman, perumahan, pabrik, dan mall. Jadi dapat dipahami, kematian yang terjadi di seantero kota itu dikirim ke satu tujuan lahan.  Maka masuk akal betapa kompleks tersebut penuh sesaknya oleh makam hingga rasanya tidak mungkin lagi menemukan lahan kosong untuk mengubur orang lagi.

Bagaimana menyiasati penanda tersebut tanpa kehilangan jejak keutuhan kompleks pemakaman? Bentuk latar demikian dapat dihitung sebagai tantangan pementasan realis naskah ini. Dalam usaha menghadirkan sebuah kompleks pemakaman, bagaimana pementasan dapat memberi tanda (pada properti dan tata panggung) agar sifat dinamis ruang naskah ini tersampaikan dan terpahami. Alih-alih menyuguhkan panggung kosong dan minimalis. Ruang pemakaman memiliki banyak tawaran untuk dieksplorasi: kuburan (dengan papan kayu, batu, sampai yang berpagar), pohon-pohon kamboja, jalan paving.

Sifat dinamis ini juga dapat dibaca dalam kaitan kompleks pemakaman sebagai ruang simbol. Bila kamar dan ranjang dimaknai sebagai ruang dengan dinding dan pintu, artinya bersifat tertutup. Maka kompleks pemakaman cenderung bersifat terbuka. Dan barangkali dengan demikian juga mengisyaratkan bahwa kematian itu bersifat terbuka (?).

Oposisi dari kompleks pemakaman, kamar atau spesifiknya ranjang, hadir pada adegan 2 yang mengisahkan peristiwa mimpi Pahing. Dalam mimpi itu, percakapan intim Pahing dan Melati sebelum menikah hadir kembali. Mimpi yang tampaknya adalah potongan peristiwa masa lalu. Dari percakapan tersebut diketahui bahwa Melati adalah seorang wanita pekerja seks yang kemudian mengisi kehidupan Pahing. Tokoh Pahing ini nampaknya seorang lelaki yang penuh dengan kegagalan dan kekecewaan. Ia seorang sarjana hukum yang ditinggal mati ibunya, didera kesepian lama. Saat bertemu dengan Melati nampaknya Pahing tengah berencana mengajukan diri sebagai anggota dewan. Fakta bahwa ia sekarang menjadi seorang penggali kubur telah memberi kita jawaban klise bahwa rencana Pahing gagal. Namun seberapa besar pertaruhan fakta dalam mimpi itu sebagai peristiwa yang memang pernah terjadi, dalam konteks ini naskah seperti memberi ruang untuk pembaca isi sendiri.

Yang jelas, dapat dipahami bahwa diam-diam Pahing hidup sembari memanggul protes kepada hidup. Ia menikah dengan Melati dalam kondisi ekonomi yang buruk. Ditambah lagi, keinginan Pahing untuk mendapat keturunan belum juga terwujud. Konflik ruang privat yang dialami Pahing makin memburuk juga karena fakta ruang publiknya. Lahan pemakaman yang menjadi satu-satunya tempat Pahing menggali kemungkinan kian hari kian penuh. Ironiknya, kemungkinan yang Pahing rebutkan itu adalah antara dirinya dan mayat-mayat.

Adegan 1 saat Pahing dan Pon berkeliling mencari titik galian: dua orang hidup yang kehabisan tempat di antara orang mati. Peristiwa itu dapat dimaknai dalam bingkai sosial betapa hari ini para pekerja sulit mendapatkan lahan pekerjaan. Lapis konflik pertama dalam naskah ini memang bernada kritik sosial. Namun, fakta bahwa itu adalah kompleks pemakaman, membentuk citra bahwa Pahing adalah representasi hidup itu sendiri. Kehidupan yang tidak kebagian tempat. Bukan karena saling berebut dengan sesama yang hidup, tetapi justru karena ruang telah dipenuhi oleh yang mati.

Selanjutnya, memaknai apakah yang hidup dan apakah yang mati adalah keasyikan yang lain. Membaca dua ruang itu sebagai oposisi biner dan kaitannya dengan pembentukan judul yang juga memanfaatkan efek paradoksal kata: lahir (hidup) – mati, memunculkan juga bayangan tentang beberapa hal yang sama bersifat opositif. Misalnya, pertemuan dan perpisahan,  optimisme dan pesimisme, penerimaan dan gugatan, masa lalu dan masa depan, privat dan publik. Tapi apa sebenarnya yang menjadi batasan dua hal beroposisi?

Pada kasus Pahing sebagai penggali kubur, naskah ini mengajak kita menimbang bahwa hal yang bersifat oposisi itu justru bisa kita masuki lewat tawaran paradoksalnya yang tidak terbatas. Kian dimasuki kian paradoksal. Mengenali Pahing sebagai orang yang hidup, mencari tempat di antara orang mati, untuk orang mati (menguburkan mayat baru). Naskah ini seolah hendak menunjukkan bahwa hal yang bersifat oposisi itu seperti lingkaran yang ujung sekaligus pangkalnya ada di satu titik. Semakin dikenali sifat paradoksalnya, semakin kita tidak dapat menemukan perbedaan dari hal-hal yang beroposisi. Sebab kedua hal selalu saling menemukan di dalam diri masing-masing.

Hal yang serupa juga dapat dibaca dalam dialog kunci tokoh Wit yang telah disebut sebelumnya. Sepanjang naskah, tokoh Wit tidak memiliki porsi dialog dan motif yang cukup banyak. Namun di tiap percakapan, Wit adalah tokoh yang selalu memberikan tekanan ide akan kematian. Keunikan tokoh Wit tampak pula pada fakta dialognya sebagai  penutup naskah.

“Ahaaa… Kusuma! Aku akan segera menyusulmu, Kusuma! (kepada Pon) Nak, kuburkan saya bersamanya. Masalah uang pembayaran kematian, nanti akan saya mintakan kepada Tuhan setelah bertemu dengan-Nya!”

(Lahirnya Kematian, 2020: 73)

Pada dialog tersebut dapat dipahami karakter Wit yang unik. Dalam keseriusannya ia membangun kelucuan yang otomatis berefek ironik bagi pembaca. Dan begitulah sosok Wit dibangun sebagai orang yang memahami jarak kematian dan kehidupan demikian dekat. Apakah itu sebentuk keluguan, atau sufistik yang jenaka? Dari sosok Wit, kita mendapat pemaknaan lain  atas istirahat paling indah dengan pembandingan ranjang tidur dan liang kubur. Sosok Wit  adalah usaha menunjukkan bahwa yang hidup bisa ditemukan di dalam yang mati. Lagi-lagi, mempertemukan dua hal yang beroposisi.

Secara implisit naskah ini telah menyulut kita untuk mempertimbangkan kematian sebagai sebuah kemungkinan yang terbuka. Di mana justru dalam kematian itu kita menemukan sisi kehidupan yang lain, “… Lahirnya Kematian sebagai kebebasan abadi.” Ide Wit tentang kematian menyadarkan kemungkinan pengalaman yang justru luput didapat di masa hidup. Kesadaran akan cinta, kesepian, dan kesendirian yang menyiksa dipugar. Maka ketika kita mencoba memasuki kelahiran dan kematian sebagai dua hal yang beroposisi dan mencoba melihat perbedaan artinya, kita justru dihadapkan bagaimana masing-masing tidaklah berbeda.

Menemukan kematian dalam kelahiran dan menemukan kelahiran dalam kematian. Inilah yang dikenal dengan istilah dualisme komplementer. Singgungan-singgungan yang dihadirkan dalam lakon Lahirnya Kematian agaknya selalu memijakkan diri pada nilai tersebut.

Seperti juga pengalaman Wit, Pahing, tokoh-tokoh lainnya juga berada dalam situasi oposisi. Kantil misalnya. Fakta Kantil sebagai waria memproyeksikannya sebagai usaha penghadiran oposisi gender. Ia ada di antara perempuan dan laki-laki. Dengan berdandan sebagai perempuan, Kantil menunjukkan usaha protes, tidak menerima, akan kehadiran batas itu. Bila Pahing merespon situasi oposisinya melalui keberatan atau kemarahan terselubung, Kantil tidak. Kantil memilih untuk melakukan protes terbuka. Ia berencana operasi transkelamin. Berencana menembus batas oposisi.

Tiap-tiap tokoh pada dasarnya memiliki penyikapan yang berbeda-beda terhadap situasi oposisi yang dihadapinya. Pahing cenderung menyimpan penolakan, Wit yang sufis, Pon yang lebih menerima dua hal beroposisi itu saling mengisi, Melati cenderung menghindari gesekan dengan batas itu. Barangkali tokoh-tokoh dalam naskah ini memiliki latar belakang panjang sebagai manusia unggul namun akhirnya kalah oleh berbagai hal. Orang-orang yang mengisi pinggiran, barangkali awalnya adalah orang-orang yang bergerak di tengah. Sebab dalam masing-masing sikapnya, tiap tokoh memiliki jalinan motif yang sama sekali tidak sederhana. Dan pada akhirnya naskah ini seolah ingin menunjukkan bahwa ruang paradoks dan oposisi murni itu tidak ada. Lalu dalam situasi tersebut, cara pandang atau sikap siapakah yang lebih bijak untuk dicontoh: Pahing, Wit, Pon, Kantil, Melati, atau Kusuma?

Jawaban pertanyaan itulah yang barangkali tidak disediakan oleh naskah ini. Dan seolah menyiapkan pembelaan diri, si narator berujar di akhir naskah,

“Semesta bergeming seketika. Pemikiran-pemikiran tentang kehidupan dan kematian tidak akan pernah tuntas diceritakan dalam sebuah tulisan. Sebab rahasia tetaplah akan jadi rahasia meskipun ada yang mampu memecahkannya.” (Lahirnya Kematian, 2020: 73)

Apa yang disebut sebagai rahasia itu barangkali juga terkait dengan latar belakang dan motif tokoh yang tidak dihadirkan atau disembunyikan pada keenam adegan. Misalnya, tentang alasan sesungguhnya Pahing menjalin hubungan dengan Kantil. Apakah hubungan mereka diawali dengan transaksi lalu berlanjut seperti bagaimana Pahing memulai hubungannya dengan Melati? Dan ketika Pahing cenderung menerima ajakan menikah dengan Kantil, apakah benar pertimbangannya adalah peluang keturunan? Bukankah fakta bahwa Pahing mau menjalin hubungan dengan Kantil telah menunjukkan adanya kesadaran gender yang aneh pada Pahing? Lalu terkait tokoh Wit, siapakah sebenarnya Wit dengan seluruh pikiran ganjilnya?

Tiap-tiap pembacaan akan membawa penekanan yang berbeda pada diri Pahing, Pon, Kantil, Wit, Kusuma, dan Melati. Dan barangkali sebuah tawaran yang lain pula dalam menyikapi hal-hal yang beroposisi. Barangkali pertanyaan-pertanyaan tersebut sengaja dibebankan pada pembaca yang berhadapan dengan teks ini, kepada sutradara yang hendak membangun panggungnya.

Dalam arus mainstream puisi dan prosa hari ini, entah ide untuk merenungi kematian dan kehidupan dengan cara yang ditawarkan naskah ini adalah representatif millenial atau bukan. Apakah hari ini masih perlu kita renungkan antara pertemuan dan perpisahan, optimisme dan pesimisme, penerimaan dan gugatan, masa lalu dan masa depan, privat dan publik? Di tengah menjamurnya kafe dan pesanan makanan online, jual beli gawai via aplikasi, sampai huru-hara pandemi, ternyata kita tidak bisa mengingkari bahwa dunia Pahing, Pon, Kantil, Wit, Kusuma, dan Melati ini ada. Masih bergerak di salah satu sudut kota. Lalu apakah hari ini makna oposisi pada ruang millenial sama dengan yang dapat ditangkap dari lakon Lahirnya Kematian? Mungkin juga dunia Pahing itu adalah oposisi dunia millenial. Apa yang terjadi pada dunia Pahing terjadi di waktu yang bersamaan saat seorang remaja SMA curhat tentang pacarnya di Twitter, saat ini. Persis sekarang. Bahwa globalisasi dan modernitas memang menyentuh seluruh dunia, namun ternyata intensitas dan efeknya berbeda-beda. Dan makin millennial kita, barangkali makin tidak pentinglah perkara ini semua. []

Oleh : Nanda Alifya Rahmah

Aktif berkesenian di No-Exit Theatre, FS3LP, Majelis Sastra Urban. Buku puisi terbarunya, Yang Tersisa dari Amuk Api akan segera terbit.