seperti dua musim, alismu menjauh dari keramaian orang-orang yang sibuk, panggilanku tak henti-hentinya berbisik dari layar yang mengaburkan nyawamu

aku berjalan seperti samaran, menjelma bidak-bidak, burung di langit menolak bahagia dalam pikiranmu yang terkutuk, lupa asal sungai terbentuk

tanganku menunjuk arah pada dosa yang terbang melalui altar, sebuah bibir bersiul sepanjang hari dari sulurnya yang sangat panjang, dan ciumanmu menumbuhkan bunga juga kabut, mencuri segala kenangan, menumbuhi jerit dari syair-syair, menyerbuki dengus hutan yang pahit

sebelum pengabulan, lorong hatiku tak mampu merasakan perih, sesak menebarkan garam dan kupu-kupu yang beterbangan telah berkeliaran di dalamnya, namun hanya tidurku yang gersang, turun dari langit, setumpuk salju berwarna biru dalam menara puisimu

sekepal bidadari telah mengindrai semacam takziah, betapa gelap matahari yang muncul dalam suci lebat udara, kita, menutup hari melalui panjang lehermu yang berjatuhan bunga-bunga

                                                                                                                        2020


Jam Yang Berdetak Sepanjang Abad

tepukan tangan membentang jam yang berdetak sepanjang abad, aku melintasi gurun menumbuhkan dinding gedung-gedung untuk mendatangi kesunyian dari ledakan, sedang ingatan kayu, ciuman mematikannya, jalan panjang dilehermu membentuk berumah kaca

kulangkahi ujud tangisan paling memilukan, pohonan menghilang terbakar rel kereta yang menancap memenuhi sudut terkelam, menuntun puluhan tahun berwarna perak

beratus peluru berlomba menirukan nyanyianku, di antara kuyup yang tak bisa disangkal, kobaran api melembar eksplorasi paling membingungkan, sepasang hujan lari gentayangan, merakit mantra di kepalamu

sebuah bom jatuh dalam tumpukan surat, mengering terkumpul dalam mulutku, selepas mengingat wajah yang ada bulan di dalamnya

beribu duri yang piawai menyuling duka telah mengangkangi apa saja, setapak gelap menyarang pada bebatuan, pada tanah, tepat di kakiku yang tersedot lelubang sepatu angkasa

                                                                                                            2020


Tapi Hari Inilah

kulihat jurang kuda membuahkan bulan hitam sementara tubuhmu tak punya apa-apa, hari esok tercipta sesak dalam cahaya yang telah dingin, memenuhi gelombang tinggi listrik dan kabut kawah

penderitaan semestinya turun melalui puing-puing kendi, keburukan yang retaknya ungu dalam lamunan, tapi hari inilah, sekaligus kata-kata kusentuh seperti kucing liar, mengingat wajahmu, membuat kebercumaan cuma pasir yang dihambur lalu-lalangkan  kipas elektrik

kemarilah, datang dengan kaki yang memanjang-gerakkan tanaman rambat, tiang-tiang beton, nyalak anjing, muncul dari segala jendela, meniupi kegamangan dengan kepak burung dara

sepuluh pasang dewa mengendus, mencipta air yang paling purba dalam hari, sepohon bayangan dalam tungku lempung yang terkirim melalui telegram

masa lalu kita pernah bercakap, melalui tapak dan derap yang dipenuhi kelelawar pendosa, batu dalam ukiran gelap di matahari, sepanjang jarak, disisa menara kosong; aku memukul kencang dadamu, kamu memukul kencang dadaku, kekasih, suaranya memekakan pepori ciumanku

berkelindan tanpa cambuk, menuliskan keheningan pada jelajah bayangan yang kerontang, dengan tenang, tapal menyentuh tengkorak cemara hutan berlambang

dosaku lahir kembali menuju kegelapan, menangkap asin roda pinggulmu yang langsat, menggelombangkan petualang membidas bangsal buruan

                                                                                                            2020


Bangkit Dari Neraka Terdekat

melalui lubang kaca aku merayap, menggugurkan daun, membaca kemalangan dalam genggaman asap kendaraan, kau menutup mata, menenggelamkan kantuk dari noktah lampu-lampu, mendegup-mempersoalkan kegamangan

manusia-manusia semakin mengecil dihela duka tangisanku, bangkit dari neraka terdekat, sekantong gigi, kautuang pada telinga jenazahmu, menggelembung sakratulkan tudung gelapku

kesedihan dan catatan dosa, mungkin ‘kan luruh terbawa angin, disesaki sesosok kupu-kupu, memenuhi titik tertentu bagi kesendirianku dahulu

mimpiku yang bayi meringkuk, menolak meliuk-liuk sebagai isyarat hasrat mantel bulu bilahmu, garis tangan dalam pahatan lahan yang gersang mengindrai sumur hatimu

menghapus punggungku, kebisuan meruncing tajam dalam gerak sebagai adzan terakhir, seperti jendela yang memakan lahap cerita-cerita ganjil

                                                                                                            2020


Menunduk Menatap Celana Dalam

kota yang gersang, denyut nadiku, menancapkan satu kebisuan dalam rumah sepi, mengisi kekejaman yang disimpan selama puluhan tahun, kehampaan disusun jalan-jalan memanjang, menabur bunga dalam kendi dari jantung udara, menyemburkan kata-kata dalam ritus kemacetanku

roda bergerak maju melalui pikiran kita, telah menembakkan pistol yang menguncup di suatu malam, melupakan wajah yang beku dalam pencarian matahari, kau menunduk menatap celana dalam menerjangi udara hampa, memercayai taburan warna ketakmasukakalan

seperti mengeja sesuatu, aku mencoba mengingat-ingat nama lain, putik hitam terakhir yang disesaki kesunyian terjauh, gelisah ini, tersampaikan melalui gelombang radar pikiranmu

ada yang diam-diam datang, menjamah tanah dan rel murung memenuhi hutan tergelincir cahaya, kengerian terus kau dengar, menyelinap di pucuk pepohonan

seperti mantra yang di ucap berulang-ulang, sejumlah huruf mati ketika kita tertidur, namun disana, ia mengekor menaiki bulu-bulu kudukmu seperti seorang nabi pembawa berita, menjejal matamu dan mengukirnya dalam sorban putih

kecemasan selalu kita susun berdinding-dinding, menukarpasangkan kutuk melalui kaki telanjang, dalam akhir yang sering disebut akhir

                                                                                                            2020

Karya : Adnan Guntur

Lahir di Pandeglang, 1999. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya. Aktif berkegiatan di Teater Gapus dan Bengkel Muda Surabaya.