Jiwaku tambak udang yang dilumuri brosur kaplingan
Puisiku berlari mengitari gigir sisik ikan bandeng

Sebuah desa dengan nama lampu, Damarsi. Kami bangun rumah di atas sawah ini. Melupakan kota, melupakan tempat lahir, melupakan kawan lama; inilah tanah air kami.

Jiwaku tambak udang yang dilumuri brosur kaplingan
Puisiku berlari mengitari gigir sisik ikan bandeng

Asoka kami tanam, ketela, pohong, musala, dan mimpi-mimpi tentang malam yang disaput angin. Tuhan ada di sini. Tuhan yang melambungkan kata-kata, Tuhan yang membungkus buku-buku bekas, Tuhan yang menggelembungkan anak-anak, Tuhan yang membukakan pintu kepada suara-suara gaib.

Jiwaku tambak udang yang dilumuri brosur kaplingan
Puisiku berlari mengitari gigir sisik ikan bandeng

Lampu yang tak pernah padam, kami mendaki kobarannya. Membara tetapi dingin, membakar tapi tak menghanguskan, ledakan-ledakan terbenam senyap.

Di Damarsi, di Damarsi, kami berjalan mundur semakin ke depan. Sebab Tuhan ada di sini.

________ Damarsi, Sidoarjo

 


Popoh, Datanglah-datanglah pada Kami

Kami merunduk pada pasir putih, berkaca pada buih debur ombak, arak-arak tombak menghunus gigir senyap. Sembari bergetar, hembus-hembuskanlah mantra penggugah laut.

‘Kami datang dari pekat lereng gunung, dari hijau hamparan sawah. Ini tubuh kami, resah kami, asin keringat kami. Laut yang meminjamkan usianya, telah menerima pinangan tanah, dan kami layarkan hasil panen setahun”

Begitulah, pantai ini disusun dari cerita masa silam: kenangan dan keniscayaan. Masa silam yang merasuk ke nganga kulit, masa silam yang menelusup pada saraf, menyebar berkendara amis darah, mengepalkan tangan, mengarak panji-panji.

Biji-biji bunga-bunga buah-buah. Kami menanam, engkau menumbuhkan. Kami menyiram, engkau memekarkan. Jadilah taman-taman ini, jadilah patung-patung ini, jadilah ayunan, jadilah nyanyian, tari, pasar ikan, jadilah hingar bingar.

Lalu datang gemerincing kuda-kuda itu, kereta yang berbadan emas. Berbait-bait turun dari langit. Lebih bening dari embun, lebih basah dari air, lebih sejuk dari pagi.

Laut yang meminjamkan usianya, telah menerima pinangan tanah, dan kami layarkan hasil panen setahun.

“Jawa, kami seduh kebijaksanaan Brahma, kami tangkup senyuman Siddharta, kami panggul derita salib, kami nyanyikan pujian nur Muhammad, dan demi para leluhur: kami setia pada pantai ini”.

________ Damarsi, Sidoarjo

 


Orang-orang Balai Pemuda

Orang-orang singgah, orang-orang bicara. Orang-orang berdiri, orang-orang tidur. Mereka seniman. Menjaga diri dari libasan waktu.

“Kami tidak di depan forum. Rumah kami di pojok, di belakang suara adzan, di bawah bayang-bayang masa silam”

Mereka dulu asing di situ, kecuali jongos dan anjing. Bule-bule minum racun lalu mandi di kali. Bule-bule berdansa sambil meludahkan moncong senapan.

Tapi ini tahun 2015, di mana burung merpati lebih banyak dari seniman, di mana tidur lebih berharga dari pencarian. “Kami muntah dan berak di sini, tapi tolong, panggil kami seniman”

Tapi lihatlah, lihatlah, di tengah Balai Pemuda, anak-anak menari, anak-anak berdansa seperti bule, anak-anak membaca buku, menyanyikan pujian untuk negeri. Kami melihatnya, seperti hari-hari kering ditinggalkan basah.

Sejak dewa-dewa telah mati, di pojok ini, kami tidak lagi dipaksa apa-apa, tidak dituntut apa-apa, tidak dilarang. Kami di luar waktu, kami diabaikan birokrasi.

________ Damarsi, Sidoarjo

 


Tiban

Cambuk aren disabetkan ke punggung telanjang, cetar! Tubuh tergurat alirkan darah laki-laki, mulut meringis mengunyah tradisi, terik matahari yang lapar: cambuklah sekali lagi, seterusnya, sekeras-kerasnya.

Pertarungan ini, bukan sekadar kemenangan, bukan tubuh yang rubuh, bukan puisi, bukan tontonan. Upacara, kami lebur dalam pedih, dalam ranggas, dalam doa tak terkata.

Sebab, terik matahari mengubur rencana kami. Tanah-tanah membuka rahang mulut, pohon-pohon meranggas, jalan menghembuskan uap panas; musim yang kering mengusir hujan ke batas waktu terjauh.

Cetar, cambuklah sekali lagi, seterusnya, sekeras-kerasnya. Darah mengucur deras, sederas hujan yang kami undang.

Tapi orang-orang datang memotret. Orang-orang menulis kami sebagai bagian dari ensiklopedi kebanalan. Kami hanya tontonan.

Musim memperpanjang usia, dan kami menunggu maut dengan tubuh kering, perih, bergetar, dan terbakar. Tuhan, yakinlah kami bahagia.

________ Damarsi, Sidoarjo


Kenangan yang Dilumuri Matahari

Kini kami lewati, jalan menikung. Matahari makin terik. Jalan-jalan terbakar matahari.

Di rumah kenangan, mereka terus menunggu. Sungguh, mereka telah mencipta bercak-bercak di kulit kami.

Jalanan bercak-bercak. Kenangan yang kental, membatu, menggumpal jadi matahari.

Mereka matahari kami. Mereka bakar pikiran kami, dengan terik matahari. Itu pembakaran, yang menjauh dari cinta.

Hanya panah-panah cahaya, menusuki rindu dan kecemasan tak usai-usai.

Kenangan yang dilumuri matahari, kenangan yang terbakar. Hangus oleh tatapan mata, dulu.

Jalan-jalan menuju rumah kian terik. Apakah mereka juga telah terbakar, resah oleh penantian.

________ Damarsi, Sidoarjo

Karya : Ribut Wijoto

Lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), anggota Teater Gapus, Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), Bengkel Muda Surabaya (BMS), wartawan media online beritajatim.com, dan penjual buku bekas.

Puisinya masuk dalam antologi Upacara Menjadi Tanah (Gapus, 1996), Adakah Hujan Lewat di Situ (Gapus, 1997), Antologi Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2004), dan What’s Poetry (Forum Penyair Internasional-Indonesia, 2012).

Tahun 2001, esai sastranya dipilih sebagai juara 1 dan juara harapan 1 dalam sayembara esai sastra tingkat nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (Pusat Bahasa). Bukunya yang telah terbit adalah Pengantar Menuju Sastra Bermanfaat (Gapus Press, 2002) dan Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia (Bayu Media & DK-Jatim, 2010).

Pernah mengeditori buku puisi Ayang-Ayang (Gapus Press, 2003), Ijinkan Aku Mencintaimu (Gapus Press, 2006), Menguak Tanah Kering (Kumpulan puisi bersama Teater Gapus, 2001), Permohonan Hijau, Antologi Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2003), Rumah Pasir (Festival Seni Surabaya, 2008), buku puisi Pertemuan Penyair Jawa Timur (Disbudpar Jatim, 2009), Wong Kampung (Festival Seni Surabaya, 2010), Tenung Tujulayar (Gerilya Sastra, DK Jatim, 2014), dan mengeditori belasan buku yang diterbitkan ‘Halte Sastra’ (DKS, 2009-2015).