Di teras rumah, kau selalu menyambutku
dengan rautmuka paling bahagia

Kita duduk dan berbincang tentang apa saja, hingga kau dan aku lupa
bahwa kita pernah samasama meneteskan airmata

“Kesedihan hanya datang untuk menyempurnakan kebahagiaan,” katamu suatu ketika

“Dan kebahagiaan adalah ketika bersamamu,” hanya dalam hati aku mengatakannya

Kita tak pernah saling mengucap cinta, karena kita tahu, cinta tidak sesederhana itu — Kita membiarkan ia tumbuh, sampai Tuhan menentukan takdirnya
Agar kelak, ketika cinta itu tumbang oleh jarak dan usia, kita tak akan benar-benar terluka

Kita hanya cukup saling merasakan, memendamnya dalamdalam, dan sekalikali menyeka ujungnya dengan kenangan-kenangan
seperti saat kita berbincang di teras rumah, dengan mata berbinar, dan dada yang berdebardebar

“Lisan kita fasih melafalkan, tapi hati begitu sulit”

Dan aku tak tahu, sampai kapan kita akan saling mencintai

Sidoarjo, 2019


Sekilas Cinta

Ia datang secepat hembusan sepoi angin
Lalu pergi dengan tiupan paling kencang
Serupa badai, yang melantakkan hatiku menjadi kepingkeping

Aku tertegun diam
Segala perih kutahan
Segala luka kusimpan
Segala nyeri kupendam
Lalu ia kembali datang
seperti gulagula manis di tangan bocah yang menangis terisak
Kukira ini keajaiban
Tapi tibatiba ia kembali menghilang
gulagula manis berubah racun mematikan

Aku tertegun diam
Satu persatu napasku hilang
Sakit tak tertahankan
Kumelihat pintu ajal demikian dekat
Pintu itu terbuka
Ia memanggilku dengan lambaian tangan
Inikah yang sesungguhnya cinta?
Aku berlari ke arahnya
Dengan tubuh hancur
Terurai
Hingga aku menjadi debu

Itulah pertama kali aku memelukmu

Sidoarjo, 2019


Seharusnya Bahagia

Cinta tumbuh karena dua sebab, kata Al-Hallaj, keintiman dan tawa

Tapi bukankah telah berpuluh purnama kita bersama
bukankah telah beribu kali kita saling menyapa dan melempar senyum
Mengapa cinta tak kunjung hadir?

“Mungkin itulah takdir. Sekeras apapun engkau berusaha, cinta tak akan pernah tiba”
Lalu untuk apa kita bersama?
“Memelihara kehidupan”
Dan kita tak berhak untuk bahagia?
“Seharusnya kita bahagia. Cinta bukan satu-satunya yang membuat kita bahagia”
Lalu apa?
“Saling menjaga”

“Jangan terpesona oleh cinta, karena kadang ia membuatmu rapuh”
tapi kebersamaan yang disertai tanggung jawab akan membuat kita kuat?
“Kau mulai paham. Kita dilahirkan untuk merampungkan tugas, bukan bersenangsenang”

Mungkin Al-Hallaj keliru. Seharusnya keintiman dan tawa melahirkan bahagia, bukan cinta

Sidoarjo, 2019


Pertemuan

“Aku ingin bertemu denganmu,” katamu satu waktu
“Aku juga”
Tapi ini belum saatnya
Kita masih harus menyimpan rindu rapat-rapat
dalam sekotak peti kesabaran
Ini belum saatnya
Kita masih harus belajar menyiapkan pertemuan
Agar ketika kita kelak bersimuka, itulah sebenar-benar puncak bahagia.

“Aku ingin bertemu denganmu,” pintamu malam itu
Tapi jarak memisahkan kita begitu jauh
“Temui aku dalam doadoamu”
Karena sesungguhnya, jika mata tak bisa saling menatap, ada hati yang bisa saling mendekap

Mari kita rayakan perjalanan panjang di ruang-ruang sunyi ini
kita nyalakan rindu, lalu tegak melangkah, hingga setiap kuncup bunga yang kita lalui
merekah

“Aku ingin bertemu denganmu,” katamu pagi itu.
“Kita telah bertemu”
“Aku tak melihatmu”
“Hati kita telah bertemu”

Sidoarjo, 23 desember 2019


Menuju Rembulan

Apa yang kupetik dari kuntum yang layu
yang gugur ke tanah sebelum waktunya

Apa yang kuhela dari daundaun yang kuning dan ranggas
yang jatuh tertiup angin
sebelum senja tiba

Apa yang kuhirup dari udara yang pengap
yang membuat dadaku sesak, pandangku gelap

Sebelum malam menghapus bayang-bayang
dan aku pergi mengembara
bolehkah aku bertanya
:adakah rembulan di ujung sana?

Sidoarjo, 2019

Karya : Rafif Amir

Tinggal di Sidoarjo. Bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo. Buku kumpulan puisi tunggalnya Sejarah dan Kisah dan Kepak Cahaya. Serta tergabung dalam beberapa kumpulan puisi bersama penyair lain.