Sajakmu terbunuh jemu
Waktu yang keliru
Memilih biru sebuah senin

Ada nyanyian bergetar di udara
Dingin dan asing

Seorang perempuan
Berkeliling kota
Dengan bujuk mantra yang terus mendengung di telinganya

“bunuhlah minggu yang berubah bisu sewaktu-waktu
haturkan segala cinta yang tak menemu bibir paling mujarab”

Surabaya, September 2020


Berkawan Di Malam Remang

Penyair yang sembunyi
Ke balik ketiak negara
Sudah berapa puisi
Melahirkan bunyi-bunyi?
Presiden tak akan gaduh
Selama kita masih bertelimpuh
Dalam bilik bahasa
Mengumpat berkali-kali
Mengapa puisi
Senjakala, mengapa puisi
Jadi semenjana
Dalam rupa warna?

Tak ada beda
Apakah penyair-penyair menjadi batu
Dalam tajuk minggu
Sebuah koran lokal

Dunia masih sama
Dalam keganjilan suara

Tak ada
Puisi
Hanya semenjana
Bunyi-bunyi

Surabaya, September 2020


Tak Datang Rubrik Puisi Minggu Ini

Minggu-minggu terbakar dalam cuaca
Penyair masih terlelap
Tak ingin membaca minggu
Yang nyaris jadi abu
Menanak jelaga di atas kota

Minggu tak mengantarku
Kepada siapa-siapa, tak membawaku
Kepada koran-koran sekelas Ibukota

Hari-hari membakar kesedihannya
Tersebab puisi terus saja sembunyi
Dalam buku harian, tak terlacak
Tak ingin menyuarakan gemuruh jantung yang purba

Semua minggu telah mengerti
Bahwa puisi hanya ingin perempuan
Tanpa kencan akhir pekan

Puisi ingin mengajaknya
Piknik
Ke dalam tagar #penyairbelummatihariini

Surabaya, September 2020


Bunuh Diri Gadis Pertiwi

Pertiwi sayang, Pertiwi malang
Tubuhmu kah yang semalam dijarah
Anjing-anjing jadah? Bibir mengatup luka
Tubuhmu kah penjara
Bagi neraka yang semarak
Bermabuk, hingar kutuk demi kutuk
Menyeret langkah pesakitan

Mengapa datang keganasan jadah
Merampas tubuhmu yang kemaruk bunga-bunga

Akan datang tahun
Di mana barisan penyair
Mengembalikan ingatanmu
Pada dendam yang mati
Tak ingin berkubur, tak ingin
Senyap
Ke bilik gelap

Surabaya, Oktober 2020

Karya : Muhammad Daffa
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya. Puisi-puisinya dimuat sejumlah surat kabar, antara lain: Radar Banjarmasin, Radar Tasikmalaya, Banjarmasin Post, Media Kalimantan, Koran Merapi, Harian Rakyat Sumbar, Harian Rakyat Sultra, dan Harian Analisa. Dua buku puisi tunggalnya, Talkin(2017) dan Suara Tanah Asal (2018).