Judul : Dari Dalam Kubur
Penulis : Soe Tjen Marching
Penerbit : Marjin Kiri
Jumlah Halaman : 508 Halaman

 

Dari balik kubur suara Djing Fei hidup kembali. Ia menggemakan kisah mereka, sejarah mereka, para korban 65 yang berpuluh tahun dikebiri oleh rezim politik di negeri ini. Kisah mereka tak pernah terungkap, bahkan seolah segala kepahitan dan kompleksitas itu sengaja disembunyikan. Barangkali inilah hidup sesudah mati. Saat Marching kembali menggemakan kekritisannya dengan membuka kembali kisahnya sebagai seorang wanita korban peristiwa 65.

Novel Dari Dalam Kubur terbagi menjadi 5 bab yang masing-masing menceritakan sudut pandang cerita tokoh yang berbeda. Antara lain Karla (anak perempuan Djing Fei), Mama (Djing Fei), Papa (Suami Djing Fei), Metamorfosa dan Laire. Meski ceritanya baru dibuka pada bab kedua, namun cerita Djing Fei mengambil posisi sentral dengan porsi halaman cukup besar pada novel. Kisah Djing Fei merupakan hidangan utama dari seluruh sajian novel yang dituliskan dalam 248 halaman, sementara Karla hanya mengambil porsi 188 halaman.

Bertutur dengan menggunakan bahasa Indonesia bercampur logat khas keseharian masyarakat Tionghoa, Marching seolah ingin menggambarkan realitas yang benar-benar terjadi pada masa itu. Maka jangan terlalu mengharapkan pemakaian ejaan yang disempurnakan atau mencoba mengoreksi penggunaan kata baku saat membaca novel ini. Mungkin akan terasa kurang nyaman di awal, namun jika anda selanjutnya memilih untuk menikmati saja dan tenggelam dalam alur cerita, maka semua akan baik-baik saja. Lanjutkan saja membaca tanpa berprasangka.

Dari Dalam Kubur membawa kita pada perspektif awal kebencian Karla pada Mama yaitu Lydia Maria alias Djing Fei. Ia begitu membenci Mama hingga suatu saat benar-benar ingin membunuhnya. Karla menyebut Mama sebagai manusia yang tak layak menjadi manusia karena kekejamannya. Mama terus menerus ingin mencelakainya bahkan tak ingin melihat Karla bahagia. Karla menduga Mama adalah jelmaan Beelzebub dan Incubus, sang penghulu setan atau iblis yang menyamar. Atau bisa jadi, Mama adalah perwujudan asli dari Ni Garwa, hantu perempuan dalam mitos setempat yang dipakai untuk menakut-nakuti anak-anak pada masa itu.

Mama selalu mencibir, sinis dan cenderung tak pernah bersahabat dengan siapapun. Alih-alih ia justru kerapkali mengutuki keadaan dan menjauh dari kehidupan sekitarnya. Mama selalu mengambil garis tegas pada batasan Tenglang dan Huana, yaitu sebutan untuk Kaum Tionghoa dan Pribumi.

Segala malapetaka adalah kesalahan Huana (Pribumi). Sementara di sisi lain, kesalahan para Tenglang (Tionghoa) tak pernah tampak meski dipelupuk matanya sekalipun. Dan ujung-ujungnya, perbedaan itu akan menjadi siksaan baru bagi Karla, anaknya sendiri. Mama seorang yang antisosial namun kritis sekaligus apatis. Tak pernah bisa dimengerti saat sedang emosi. Hal ini benar-benar membuat Karla jengah. Ah..Mama macam apa dia.

Banyak kebencian sekaligus pertanyaan yang akan muncul saat membaca bab pertama. Marching seolah mencoba membangun perspektif pembaca terkait kebencian Karla pada Mama sekaligus rasa penasaran. Apa yang melatarbelakangi sikap Karla hingga ia berlaku demikian dengki. Beberapa fakta peristiwa kekerasan tahun 98 juga disebutkan pada bab ini namun hanya sebagian kecil. Karena detail peristiwa baru akan dikisahkan tuntas pada kisah Mama pada bab selanjutnya.

Marching menuturkan kelamnya peristiwa 65 tanpa penapisan. Ia mengisahkan kekejaman yang memantik sensitifitas terutama pembaca wanita dengan sudut pandang utuh. Penyiksaan demi penyiksaan, kekerasan dalam penjara selama masa tahanan, bahkan sanksi sosial yang harus dijalani semasa hidup akibat cap “gerwani”, barangkali akan membuat pembaca miris sekaligus mahfum. Mengapa Djing Fei tumbuh menjadi pribadi yang keras, tangguh, dingin dan kejam bahkan pada dirinya sendiri, akan membuat pembaca “memaafkan” kekejamannya pada orang-orang di sekitarnya terutama Karla.

Kehidupan dari penjara ke penjara diceritakan dengan detail yang lugas dan tuntas. Bahkan Djing Fei tak segan menuturkan dirinya sengaja membiarkan rekan satu selnya mati, demi mempertahankan jatah makanan yang lebih layak diberikan untuk binatang.

Kekerasan, pemerkosaan, penghinaan, penyiksaan bertubi-tubi harus dijalani selama menjadi tahanan dengan sanksi moral yang kelak tak kalah kejamnya harus dihadapi. Keluar dari penjara pun bukan lantas menjamin kehidupan menjadi lebih baik bagi eks tahanan seperti Djing Fei. Hingga pernah suatu kali ia berharap kehidupan tak akan membangunkannya kembali dari sebuah tidur panjang yang bernama kematian.

Membaca Dari Dalam Kubur seperti menggali kembali sejarah yang tertanam puluhan tahun silam. Ia terkubur dalam-dalam tanpa resolusi keadilan. Diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda, alih-alih menggunakan perspektif wanita. Novel surealis yang mampu menggambarkan kelamnya kehidupan eks tahanan politik tahun 65. Negeri ini sesungguhnya tak pernah benar-benar memberikan angin sejuk dan ruang bagi mereka untuk menyuarakan harapan.

Seperti yang hendak digaungkan oleh Soe Tjen Marching, sang penulis. Sebuah penindasan serta ketidakadilan pada masa itu yang tumpang tindih dengan isu identitas rasial. Kondisi itu seolah tak pernah memberi banyak pilihan bagi Djing Fei, baik sebagai wanita, ibu, istri, guru, sekaligus warga non pribumi biasa di lingkungan masyarakat. Pesan pada akhir halaman novel kepada para keluarga 65, bahwa mereka telah disatukan oleh sejarah dan genangan darah yang tertumpah adalah sebuah wujud perjuangan yang akan terus disuarakan.

Soe Tjen Marching adalah feminis Indonesianis sekaligus komponis dan penulis yang beberapa kali menerbitkan tulisannya tentang kritik sosial secara lugas dan berani. Ia juga memenangi beberapa kompetisi penulisan maupun karya bermusik dalam ajang penghargaan internasional. Soe Tjen Marching juga ikut mendirikan sebuah sekolah di Surabaya, tempat kelahirannya, yaitu sekolah Mandala. Sekolah ini mempromosikan cara berpikir kritis dan kebhinekaan dengan menerima murid dari berbagai agama dan latar belakang kepercayaan.