Judul : Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Penulis : Luis Sepulveda
Alih Bahasa : Ronny Agustinus
Penerbit : CV. Marjin Kiri
Jumlah Halaman : 90 Halaman

Petualangan Zorbas si kucing hitam, bermula saat serombongan camar dari Mercusuar Pasir Merah tengah terbang di atas mulut sungai Elbe yang tersambung ke Laut Utara.

Mereka berencana untuk melaju ke Pas de Calais dan berlanjut ke Selat Inggris. Salah satu dari camar itu terlalu asyik berburu ikan haring, hingga tanpa sadar ia tersapu ombak dan terbawa pada sisi lautan yang penuh tumpahan minyak menghitam. Kengah, si camar yang kini sendirian, baru menyadari bahwa teman-temannya telah terbang jauh meninggalkannya.

Ia tak mampu mengejar mereka, karena sepasang sayap dan ekornya gagal merentang akibat lengket terkena gumpalan minyak. Kengah hanya mampu terbang dengan sisa tenaga dan mendarat pada balkon rumah majikan Zorbas.

Sebelum ajal menjemputnya, Kengah meminta Zorbas berjanji. Kucing hitam itu diminta untuk menyelamatkan telur yang kelak akan ditetaskannya dan mengajari anak Kengah untuk terbang.

Maka petualangan Zorbas pun dimulai. Ia dengan dibantu kawan-kawannya yaitu Kolonel, Secretario, Profesor, dan Banyubiru, memulai misi penyelamatan anak Kengah, yaitu Fortuna.

Diawali dengan upaya untuk menyelamatkan telur yang hampir menetas hingga merawat Fortuna di tengah ancaman kucing lain dan tikus yang setiap saat berniat memangsanya. Zorbas bahkan perlu melakukan perjanjian dengan kawanan tikus, guna membuat kesepakatan demi keselamatan Fortuna. Zorbas benar-benar memenuhi janjinya kepada Kengah.

Seri buku terbitan Marjin Kiri yang sebenarnya dikhususkan untuk pembaca muda ini, seolah membawa kita untuk berimajinasi layaknya menonton film-film Disney.

Kekuatan karakter tokoh, dialog-dialog cerdas sekaligus lucu, serta konflik sederhana yang dimunculkan namun kerapkali mampu membawa kita pada petualangan yang menegangkan. Luis Sepulveda merangkumnya menjadi sebuah kisah yang menarik untuk diikuti hingga akhir.

Tak perlu waktu panjang untuk membaca kisah Zorbas ini, apalagi hanya berisi 90 halaman. Jalinan cerita tiap bab juga disajikan dinamis sekaligus singkat dan tidak rumit. Selain itu tokoh yang dihadirkan pun tak banyak, hingga pembaca mudah untuk mengingat dan mengenali masing-masing karakter.

Sesekali Sepulveda mencoba menghadirkan isu-isu lingkungan misalnya pembuangan limbah ke laut, maupun eksploitasi hewan yang dilakukan oleh manusia.

Meski tak menutup kemungkinan sebenarnya masih ada juga manusia yang peduli dan kasih pada binatang. Penulis memaparkannya dengan jalan menghadirkan tokoh baik dalam cerita seperti majikan Bubulina, majikan Profesor maupun majikan Banyubiru.

Tokoh baik ini diceritakan pada bab “Memilih Manusia”, dimana Zorbas dan kawan-kawan begitu sibuk rapat guna mempertimbangkan, siapa manusia yang akan bersedia membantu mereka mengajari Fortuna terbang. Ini adalah sebuah keputusan rumit yang tidak bisa begitu saja diambil, bahkan memerlukan pertimbangan matang dengan mencoret beberapa nama manusia yang menjadi kandidat terpilih mereka.

Kali ini Zorbas dan kawan-kawan benar-benar dihadapkan pada persoalan sulit. Pada bab ini suasana serius nan mencekam namun memancing pembaca untuk tersenyum, berhasil dilukiskan oleh Sepulveda.

Karya-karya Luis Sepulveda telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa dan meraih banyak penghargaan. Lahir pada 1949, Sepulveda aktif berpolitik sejak muda untuk menentang rezim militer Pinochet. Ia juga sempat bekerja sebagai awak kapal Greenpeace dan giat dalam kampanye lingkungan hidup. Luis Sepulveda meninggal dunia pada 16 April 2020 lalu akibat Covid.

Terjemahan yang baik, kisah sederhana yang menarik, alur cerita yang ringan, petualangan mendebarkan, dialog yang kerapkali jenaka, menjadi komponen yang layak dipertimbangkan untuk membaca karya Sepulveda kali ini.

Selain itu gambar sampul yang lucu dengan warna-warni pastel, serta pembatas buku bergambar kucing kecil barangkali akan menarik minat pembaca belia untuk mengikuti petualangan Kengah dan Zorbas.

Meski tak menutup kemungkinan, pembaca dewasa juga akan menyukai dan larut pada cerita si kucing hitam dan camar. Melalui buku ini, para pembaca khususnya kaum belia, seolah akan diajak untuk mulai berkenalan dengan pesona sastra.

Tak hanya itu, buku ini juga melatih kepekaan empati dan kesadaran kritis terhadap isu lingkungan dan beragam permasalahan sosial, dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.

Melalui kalimat dan ide cerita yang sederhana, Sepulveda sesekali menyisipkan pesan moralnya. Salah satu yang dituliskan dalam akhir cerita adalah pesan tentang keberanian dan ketangguhan. Bahwa sesungguhnya hanya mereka yang berani untuk terbang, yang akan bisa benar-benar terbang.