adalah benih ilalang
yang tumbuh di mata hujan
aku terusir dari negeriku
yang tak menumbuhkan apa apa”

dan hujan memilih terbang bersama angin
untuk hinggap satu satu
tumbuh
mengilalang

Semarang, 2020


Sunyi

sunyi itu, sejuta suara redam dalam diri, dan bisik telah menjadi gelombang kejut yang menyesakkan, diam bukanlah pilihan selain keharusan yang teretas

sunyi itu, seribu wajah dalam bayang, arsiran masa yang siap terhapus, terkoreksi kenang yang melintas jendela berdebu, tersenyapkan , mengendap tak mau hilang

sunyi adalah ketika dunia tak bersuara lenyap ditelan riuh diri

Semarang, 2020


Malam

 : dan segala angkara lesap, hingga mimpi berkembang bunga setaman, ganti semak yang terbakar, dan segala kata yang seolah olah itu, biarlah menjadi ungkapan cinta yang tak khianat , menghapus desis hasut yang kusut

telah punah tereja
segala diam
telah jauh terjajaki
segala jeda

: kita memang mahir
menerjemahkan luka

Semarang, 2020


Gelembung

telah ditiupkan
setiap gelembung kenang
yang mengharu biru
laju terbang seputar senja
rasa ingin pulang  berbual lirih
tak jua mampu membalik arah waktu
sebaiknya penting mengingat
betapa hari akan berakhir
dan hati berkata adios
merelakan jarak yang kian memanjang
sebab perih di hati yang tersayat
telah begitu paham cara melenyapkan diri
: kutunggu saja di sini, sebab aku takut tersesat dan hilang

 Semarang, 2020


Mural

 Mereka bilang
Pada sebaris mural
Seseorang mendidih di koyak sepi
Ketika rindu membentur tembok bertepian retak

Kubilang saja
Tuliskan pada segurat grafiti
Yang tersirat namun tak pernah terbaca utuh
Bayang yang lebih kelam dari sejuta dendam

Semarang, 2020


Lamat

manakala malam menabur tabir, dan pandangmu kian lamat
gejolak mahir bersarang, serupa muslihat, memulakan ingatan yang memamah benakmu
perihal jarak dan beribu jeda, sungguh bukanlah kehendak yang memuai, yang menyurut langkah
umpamakan saja aku capung hitam dengan jalan peta yang bersilangan, masai menyusur peram

Semarang, 2020 


Kepayang

tak ada geram yang kepayang, sayang
melempang pukang segala rasa hati
senandung dendang debur meremang
bukanlah selayang rindu tak tahu diri

berdepa jarak seribu kayuh
menyapa diri dalam untai untai ujar
tidakkah dirimu piawai mengurai riuh
bersenyap dekap, punah segurat nazar

tak ada cinta yang sekedar lalu, sayang
sebab sungguh bukanlah riak sembarang
serupa tiang-tiang kokoh terjalin temberang
jerih memangkas jarak, menunas hati tiada kepalang

Semarang, 2020


Rumbia

 titik-titik gerimis berjatuhan
di sela jemari ranting kemuning kurus
mungkin serupa bayangan langit redup
di sela-sela kibas rumbia pesisir pelataranmu
ilusi membuat kita memasuki dunia berbeda
tentang wajah-wajah paling mimpi
atau langkah yang kembali di titik nadir
tapi bait ini bukanlah selasar untuk memangku sunyi
tak pula sepadan bagi perih rindu yang rungsing
hanya lukisan samar tentang ceruk-ceruk diri
ilusi yang bersimpangan di sela kemuning dan rumbia

Semarang, 2020


Paniki

senja ini membuatku naif, mengemas rindu dalam sebungkus puisi yang kadung, meniupnya serupa gelembung ganti sayap yang tak bisa kuberikan, ia membumbung naik mengatasi ingatan tentangmu, maka ketika ia tersangkut di pucuk ranting jambu yang terjauh, kupikir kubiarkan senja yang menjaga, barangkali seekor paniki akan memamahnya buatku, mungkin dengan cara itu, besok aku bisa mengemasnya dalam puisi yang lain

Semarang, 2020 


Senja yang Bercahaya Seperti Lampu

Cahaya di senja ini seakan lampu yang baru saja menyala, menerangi ruang tanpa dinding, tempat puisi lalu lalang.

Ada satu yang terus saja tertidur, terjebak dalam diriku enggan beranjak. Menunggumu mengguratkan kalimat pertama, tentang apa saja, entah tentang mencintai atau menikmati kehilangan, tentang sihir atau obat ajaib yang mampu menawarkan segala perih.

Ada satu puisi yang tertidur, yang enggan menuliskan kata di kalimatnya yang terakhir. Ia memilih tertidur dan menjadi hantu di senja yang dipilihnya, senja dengan cahaya seperti lampu.

Semarang, 2020

Karya : Yuliani Kumudaswari

Lahir di Bandung, Juli 1971, menikah dengan dua putri, sejak November 2019 menetap di Semarang. Beberapa puisi tergabung dalam antologi bersama diantaranya Wajah Ibu (2016), Menyandi Sepi (2017), Rumah Kita (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019), Kepak Sayap Waktu dan Mata Air Hujan di Bulan Purnama (2020). Antologi cerpen Bersama , Lelaki Pertamaku : Ayah (2019), Firdaus yang Hilang (2020). Antologi puisi tunggal 100 Puisi Yuliani Kumudaswari (2016), Perempuan Bertatto Kura-kura (2017), Menyusuri Waktu (2018), Wajah Senja (2019), Kepada Paitua (2020)