Judul : The Plotters
Penulis : Un Su Kim
Penerbit : Noura Books

Aib bersembunyi di balik kemuliaan. Kejelekan bersembunyi di balik kecantikan. Jaringan rumit kebohongan bersembunyi di balik apa yang kita sangka kebenaran. Dan kegelisahanpun menyusup dalam diam di balik tembok kokoh yang kita sebut keberanian. Paling tidak ironi inilah yang muncul, saat menelusuri jalinan cerita para perencana dalam novel The Plotters.

Siapakah para perencana? Kaum pembunuh bayaran yang tergabung dalam jaringan yang dipimpin oleh Rakun Tua dan bermarkas di sebuah perpustakaan yang tak kalah tua. Mereka menyebut tempat itu sebagai Kandang Anjing. Satire? Sudah tentu. Namun inilah sudut pelik yang coba dihadirkan oleh Un Su Kim, penulis The Plotters. Rumitnya kehidupan yang harus dijalani sebagai pembunuh bayaran, hingga persaingan memperebutkan klien yang memaksa mereka bertindak tak manusiawi, diramu begitu kental oleh Un Su Kim.

Tumbangnya tiga dekade kediktatoran militer dan kemunculan mendadak demokratisasi, telah menimbulkan ledakan besar dalam industri pembunuhan. Rezim baru pemerintahan sipil yang dipilih secara demokratis, kekuasaan yang terjebak pada standar kesempurnaan moralitas, turut memicu tingginya angka permintaan pembunuhan.

Ketika pekerjaan meningkat, maka para pemula kecil baru, pembunuh gaek, gangster tua, pensiunan tentara, mantan detektif dan beragam profesi yang lain, merangsek masuk membanjiri pasar daging. Tempat dimana berbagai transaksi kriminal dilakukan dengan ilegal, termasuk layanan pesanan pembunuhan. Mereka akan bersedia diupah berapapun dan menerima tawaran menghabisi nyawa seseorang, hanya sekedar demi melanjutkan hidup.

Seolah berupaya agar novelnya tak terlalu “suram”, Un Su Kim memunculkan beberapa tokoh dengan karakter kontradiktif. Misalnya karakter tokoh utama, Reseng. Dia digambarkan sadis, tegas, sekaligus cerdas. Namun ada kalanya terlihat sangat naif dan melankolis. Apalagi saat Reseng diceritakan panik, setelah menemukan sebuah bom kecil serupa pil, yang menempel di toilet kamar mandinya. Kepanikan ala Reseng, digambarkan mencekam sekaligus jenaka oleh Kim.

Reseng juga dituturkan sebagai pembunuh bayaran yang gemar membaca tak ubahnya Rakun Tua. Rakun Tua adalah mantan pembunuh sekaligus ayah angkat Reseng, yang menghabiskan sisa hidupnya dengan merawat buku-buku diperpustakaan “Kandang Anjingnya”, dan memiliki kebiasaan membaca dengan suara keras yang menyebalkan. Rakun Tua juga akan sangat cerewet jika menemukan selapis debu tipis, pada buku-buku “ajaib” koleksinya.

Karakter kontradiktif juga diwujudkan sempurna dalam tokoh Mito dan Tukang Cukur. Mito merupakan pembunuh bayaran yang kesehariannya bekerja sebagai gadis penjaga toko dengan prestasi akademik yang sempurna. Sementara Tukang Cukur, sesuai dengan namanya, sehari-hari bekerja sebagai tukang pangkas rambut yang nyaris tak bersedia dibayar karena kebaikan hatinya.

Sebagai novel thriller, The Plotters mampu menyajikan kisah dunia kriminal yang menarik. Perpaduan dari unsur mencekam, misterius, sadis, sekaligus sinis. Pengkhianatan yang dibalur dengan keresahan dan kecurigaan, akan mampu memperkaya sisi imajinatif pembaca. Sesekali humor juga dimunculkan oleh Kim, hingga menjadikan novel ini seolah terasa sebagai paket lengkap yang sayang untuk dilewatkan.

Lahir 48 tahun silam di Busan, Un Su Kim telah menghasilkan beberapa novel yang banyak menuai pujian. Ia penulis yang berbakat dan piawai merangkai karakter dan kisah. Ia berhasil menerima Munhakdongne Novel Prize, penghargaan sastra paling prestisius di Korea. Tak sekedar itu, Kim juga dinominasikan untuk Grand Prix de la Litteraire Policiere pada 2016.

Novel setebal 410 halaman ini, dicetak pertama kali pada Juli 2020 oleh penerbit Noura Books. Dengan penulisan serta terjemahan yang cermat dan akurat nyaris tanpa cela, The Plotters menawarkan kemudahan pembacanya untuk mengikuti alur hingga akhir cerita. Menegangkan, mendebarkan, mengkhawatirkan, menyedihkan, romantis, bahkan jenaka. Sempurna.